Selamat pagi! apa kabar? maaf sudah lama tidak posting. :)
Mungkinkah pembaca sedikit merindukan saya? hahahaha.
Ngomong - ngomong, saya selalu penasaran dengan jumlah pembaca saya yang sebenarnya. Banyakkah? tidak adakah? sedikit kah? atau sedikit sekali? Ah.. tapi lupakan saja, bukan itu yang mau dibahasa disini.
Kemarin tepat 9 April 2014, saya memilih untuk tidak memilih dalam pemilihan partai politik dan pemilihan anggota legislatif.
Kenapa? karena saya tidak ingin memilih. Alasan saya tidak ingin memilih? sejujurnya ini karena saya tidak mempunyai informasi yang cukup tentang ideologi partai yang turut dalam pemilihan, juga tidak punya cukup informasi mengenai visi dan misi caleg yang maju dalam pemilihan.
Alasan lain yang melatarbelakangi saya untuk tidak memilih:
Coba pikir.. bukankah pemilihan umum untuk CaLeg ini seperti : kita sedang memilih kucing dalam karung? kita gak kenal mereka, kita gak tau ideologi mereka seperti apa. Kita cuma lihat mereka di poster - poster pinggir jalan, lalu tiba - tiba kita harus memilih satu diantara mereka. Ini lucu, kan?
Demokrasi seperti apa yang pemerintah janjikan? kita bahkan gak kenal sama mereka yang maju dalam pemilihan. Jadi siapa yang kita pilih? apa yang kita pilih? Kita jadi kayak main tebak - tebakan kan?
Si Caleg ini kelihatan baik, si Partai itu kelihatan baik.
Padahal kan gak ada yang tau,.. sebenarnya itu kayak gimana.
Jadi saya mutusin untuk tidak memilih kali ini. Tapi saya bertekad untuk memilih, pada saat pemilihan umum presiden nanti.
Ya.. setidak - tidaknya, rekam jejak para calon presiden sudah cukup jelas bagi saya. Kita bisa lihat rekam jejak mereka melalui pemberitaan di media massa. Hmm.. itu sepertinya sudah agak sedikit memberi modal pemikiran bagi saya untuk memilih.
Kemudian, terkait partai - partai yang maju dalam pemilihan kemaren. Sejujurnya saya gak pernah dukung partai yang pake ideologi agama sebagai latar belakang partainya. Kenyataannya, embel - embel 'agama' sudah disalah-gunakan oleh orang - orang kotor yang sebenarnya bahkan tidak terlalu agamis. Belum lagi, partai-partai berbau agamis atau SARA justru akan membentuk sebuah perpecahan pada akhirnya.
Udah jelas kan kalau kita ini multikultural? sangat amat pluralis? Jadi gak bisa kita memaksakan ideologi agamis yang maju dan memenuhi tampuk kekuasaan. Yang lebih baik itu : Yang nasionalis!! Yang bisa menampung beragam jenis kultur dan agama yang ada di Indonesia.
And Then...
Di tengah - tengah keriuhan masa dan kesibukan tugas akhir saya.. tiba - tiba saja saya merindukan seseorang yang dulu asik sekali diajak bicara. Tapi sekarang dia sudah sibuk dengan si pacar.
Jadi saya gak mungkin ganggu.
Agak sedikit menyesal mengapa dulu bikin skandal sama dia. Sangat disayangkan sekali. Padahal kita bisa tumbuh dengan lebih baik kalau bisa terus tukar pikiran. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar