"Mengapa waktu, begitu cepat menjawab segalanya? Aku, belum ingin ditinggalkan,"
Kuraih pasir disisi tubuhku, menggenggamnya dengan kuat hingga luruh perlahan-lahan.
Bayu duduk di sampingku. Matanya menerawang jauh, menatap senja nan bulat di ujung langit.
Wajahnya menguning di timpa sinar kemilau, mewujud bayangan kelam sebelum malam.
" Jalan ini terlalu sulit bagi kita, Niur. Aku tidak ingin lagi, " katamu serak.
" Kita bahkan belum melewatkan apapun bersama. Kita belum punya banyak kenangan, Yu. Kita tidak punya apa - apa untuk kita simpan.." Ujarku terbata, berusaha menahan sesak. Berusaha untuk tidak menangis.
" Aku selalu menyimpan kamu, Niur. Jauh di dalam hati. Kini biarkan aku menjagamu dari jauh," Bayu menunduk.
" Tidakkah kita bisa mengulangnya, satu kali lagi?," kataku, sedikit memohon.
Kucari sepasang matanya, tapi dia tetap menunduk. Menyembunyikan segalanya dariku.
" Tuhan akan membawaku kepadamu, jika memang Dia ingin kita untuk bersama. Tuhan akan mengembalikanku padamu, Niur. Sejauh apapun aku pergi....jika Dia ingin aku kembali, maka aku pasti kembali. Sekalipun tidak untukmu, mungkin untuk takdir kita kelak,"
Kini airmataku benar - benar jatuh. Bulir - bulirnya luruh menimpa pasir. Bersama dengan itu, matahari pun tenggelam. Hilang di telan lautan.
" Apa kamu ingin seperti senja, Yu? datang sebentar lalu menghilang? tidak bisakah kamu mewujud yang lain saja? Sebuah hari misalnya?,"
" Apa salahnya menjadi senja? Bukankah senja begitu berharga? Bukankah kamu selalu menyukai senja?,"
Jemari hangat miliknya, bergerak menghapus airmata di pipiku. Bergerak mengusap kepalaku agar aku berhenti menangis.
" Apa kamu akan kembali?," tanyaku penuh harap. Mencari sebuah jawaban dalam sepasang mata miliknya.
" Senja selalu kembali, Niur. Selalu kembali, " Bayu tersenyum, menyakinkan.
~*~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar