Sabtu, 26 April 2014

Gara - gara DUIT

Gak nyangka aja, sekian tahun kenal sama itu orang.. baru akhir – akhir ini aku dapetin dia benar – benar marah. Alasan marahnya ya... gara – gara aku.

Di satu sisi, aku merasa senang karena akhirnya aku tahu kalau ternyata dia juga bisa marah.
Hanya saja, disisi lain.. aku sekaligus merasa gak enak. Gak enak karena aku selalu aja menyusahkan hidup dia dengan banyak ulah. Fiuhh..

Permasalahan kita tuh sebenarnya gini;

Kan bulan kemaren aku minta tolong dia buat nyariin buku teori (yang ku perlukan untuk kebutuhan skripsi). Setelah satu minggu aku nunggu, akhirnya buku itu ketemu.
Sebelum dia ngirimin buku itu ke aku, aku minta dong nomor rekening bank dia supaya aku bisa langsung ganti uang dia, dan gak nyusahin dia dengan segala biaya termasuk ongkos kirim.
Tapi si dia kekeh, bilang kalau mending pakai uang dia dulu.. kalo udah selesai semua baru diganti.
Ya udah aku nurut.

Nah, setelah bukunya sampai dengan selamat, aku pun nanya lagi nomor rekening bank dia.
Aku kan gak enak kalau harus pura – pura gak tau setelah pakai uang dia untuk beli buku itu. Kan ceritanya aku minta tolong cariin, bukan minta dibeliin. Makanya aku ngotot banget mau ganti.
Aku desak dia beberapa hari supaya mau ngasih tau nomor rekening bank atas nama dia. Tapi alasan dia selalu muter – muter. Dia bilang dia gak hapal nomor rekening itu dan buku tabungannya ada di kosan sedangkan dia udah berapa hari gak balik – balik ke kosan. Sampai capek aku nungguin kabar dari dia; kapan kira – kira dia mau balik ke kosan.
Iseng (aku kan stalker sejati, xixixi), aku buka wall facebook dia. Yang paling mengesalkan adalah kenyataan bahwa disana sebenarnya dia selalu pulang kekosannya hampir setiap hari, tapi bahkan dia gak ada niatan buat lihat buku tabungan dan sms-in nomor rekening itu ke aku.
Yah... itu cukup menyebalkan saudara – saudara pembaca yang budiman.

Sebenarnya, aku bisa saja sih.. pura – pura gak tau dan menikmati saja buku teori secara gratisan. Apalagi dia juga udah bilang kalo uangnya gak apa – apa gak diganti. Trus dia juga bilang gantinya bisa kapan – kapan aja.
Tapi karena aku suka gak enak kalau terlalu banyak hutang budi sama orang (apalagi laki – laki), dan aku juga gak enak karena ngomong minta dicariin (bukan minta dibeliin), aku tetap ngotot mau ganti uang itu.
Cuma ya emang dasar budaya Indonesia yang terkadang tidak menyenangkan ini (cowok harus bayarin segala – gala), aku pun akhirnya mengirimkan uang tersebut ke kampus.

Disinilah permasalahan kemudian terjadi.
Pas aku sms untuk bilang kalau aku ngirimin duit pakai amplop ke kampus dia, dia marah besar. Dia bilang aku gak sabaran, dia bilang aku ngeselin, yah.. intinya aku tahu sih kalau dia Cuma mau bilang “Seharusnya aku gak ngirimin apa – apa ke kampus”.

Tapi trus aku harus gimana dong ketika aku bahkan gak kepikiran alamat kosan dia (gara – gara dia bilang jarang balik ke kosan), dan aku pun gak tau nomor rekening dia?? Masa iya uangnya gak usah diganti? Itu menciderai harga diri guwehhh Men!!!!
Akhirnya, pikiranku pun tertuju hanya pada satu tempat: KAMPUS!!!
Kebetulan juga ‘katanya’ dia bantu – bantu kerja di laboratorium kampus. Ya udah kan, daripada uangnya gak dikirim..alangkah lebih baiknya kalau uang itu kukirim ke kampus aja. Toh pasti ada juga yang kenal sama dia.

Hanya saja... aku gak pernah nyangka kalau akhirnya dia jadi marah – marah dan menjadi sangat kesal.
Jujur, aku gak ngerti salahku dimana. Aku kan cuma mau balikin duit? Lagian dikampus kan gak mungkin gak ada yang kenal sama dia?
Atau mungkin “Ngirimin surat ke kampus adalah tindakan yang SANGAT BERLEBIHAN”???

Sampai postingan ini dibuat, aku masih tetap mikir. Aku beneran salah gak ya? Ngirimin paket ke kampus (ketika teman kamu pun bekerja di kampus) itu berlebihan ya?? Asli bingung.


-_-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar