Tidak sedikit penulis yang suka ‘membawa
kopi’ ke dalam buku mereka. Entah karena kesukaan si penulis terhadap kopi,
ataukah karena ‘magic’ kopi yang terlalu kuat untuk ditampik.
Secangkir kopi dalam tulisan biasanya
selalu disandingkan dengan susana hujan (di cafe yang keren dengan gelas –
gelas yang bagus), dalam pertemuan dengan orang tersayang. Secangkir kopi dalam
tulisan biasanya mampu mengikat pertemuan dalam nuansa yang intens, dan hangat.
Tidak jarang secangkir kopi bahkan mampu melekatkan rasa antara dua anak
manusia.
Aroma kopi juga kerap
dianalogikan sebagai aroma masa lalu, bisa jadi aroma kenangan.. yang tiba –
tiba menyeruak memunculkan keharuman.
Ah..tapi itu bisa – bisanya penulis
saja. :D
Pada kenyataannya ‘penampakan’
kopi tidak selalu ‘romantis’ seperti itu.
Cobalah melihat pada seteko kopi
yang disuguhkan pemilik rumah kepada tukang – tukang bangunan rumahnya yang
sedang bekerja... adakah kesan romantis dari peristiwa tersebut?
Hmm...ya, mungkin ada sih. Jika
dalam cerita, si pemilik rumah tiba – tiba jatuh cinta pada tukang bangunan.
Hihihi
Cobalah melihat pada secangkir
kopi yang disuguhkan teman kos kepada temannya yang lain, yang mana ‘temannya
yang lain’ itu sedang dilanda deadline pengerjaan skripsi atau
pengumpulan tugas kuliah. Adakah yang romantis dari kejadian tersebut?
Hmm... mungkin ada sih. Jika yang
memberikan kopi adalah teman kos perempuan, dan yang diberikan kopi adalah laki
– laki yang diam – diam naksir sama si perempuan. Wkwkwkwk
Dari beberapa cuplikan adegan di
atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang romantis itu bukanlah kopinya,
melainkan rasa yang tercipta lewat secangkir kopi.
Secangkir kopi mana mungkin
ber-rasa romantis jika diminum oleh seorang deadline-r skripsi yang
jomblo abadi? Hahaha
Ah... sebenarnya ini perkara
sederhana...kopi toh cuma butuh ‘rasa’ agar rasa nya lebih terasa.
Tapi kalau kita tidak punya ‘rasa’?
segalanya akan jadi biasa – biasa saja...
Mungkin tidak salah kalau kita
menganalogikan cinta seperti kopi:
“ Well...secangkir kopi =
secangkir cinta. Pada seruputan pertama, segalanya terasa bahagia. Pada seruput
berikutnya, kehangatan makin tercipta, aroma rindu kian terasa.
Namun bila kopi habis, yang
tersisa cuma pahit..kelat di langit – langit mulut, menciptakan insomnia, tidak jarang kopi bahkan meninggalkan aroma tidak sedap pada
mulut.
Tapi ya tetap saja.. sepahit
apapun sisa ‘kopi’, kita masih saja ingin mencoba..mencecap nikmatnya walau cuma
sebentar saja “ J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar