Senin, 03 Februari 2014

Kopi dan Romantisme

Tidak sedikit penulis yang suka ‘membawa kopi’ ke dalam buku mereka. Entah karena kesukaan si penulis terhadap kopi, ataukah karena ‘magic’ kopi yang terlalu kuat untuk ditampik.

Secangkir kopi dalam tulisan biasanya selalu disandingkan dengan susana hujan (di cafe yang keren dengan gelas – gelas yang bagus), dalam pertemuan dengan orang tersayang. Secangkir kopi dalam tulisan biasanya mampu mengikat pertemuan dalam nuansa yang intens, dan hangat. Tidak jarang secangkir kopi bahkan mampu melekatkan rasa antara dua anak manusia.

Aroma kopi juga kerap dianalogikan sebagai aroma masa lalu, bisa jadi aroma kenangan.. yang tiba – tiba menyeruak memunculkan keharuman.

Ah..tapi itu bisa – bisanya penulis saja. :D
Pada kenyataannya ‘penampakan’ kopi tidak selalu ‘romantis’ seperti itu.


Cobalah melihat pada seteko kopi yang disuguhkan pemilik rumah kepada tukang – tukang bangunan rumahnya yang sedang bekerja... adakah kesan romantis dari peristiwa tersebut?
Hmm...ya, mungkin ada sih. Jika dalam cerita, si pemilik rumah tiba – tiba jatuh cinta pada tukang bangunan. Hihihi

Cobalah melihat pada secangkir kopi yang disuguhkan teman kos kepada temannya yang lain, yang mana ‘temannya yang lain’ itu sedang dilanda deadline pengerjaan skripsi atau pengumpulan tugas kuliah. Adakah yang romantis dari kejadian tersebut?
Hmm... mungkin ada sih. Jika yang memberikan kopi adalah teman kos perempuan, dan yang diberikan kopi adalah laki – laki yang diam – diam naksir sama si perempuan. Wkwkwkwk

Dari beberapa cuplikan adegan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang romantis itu bukanlah kopinya, melainkan rasa yang tercipta lewat secangkir kopi.


Secangkir kopi mana mungkin ber-rasa romantis jika diminum oleh seorang deadline-r skripsi yang jomblo abadi? Hahaha


Ah... sebenarnya ini perkara sederhana...kopi toh cuma butuh ‘rasa’ agar rasa nya lebih terasa.
Tapi kalau kita tidak punya ‘rasa’? segalanya akan jadi biasa – biasa saja...


Mungkin tidak salah kalau kita menganalogikan cinta seperti kopi:

Well...secangkir kopi = secangkir cinta. Pada seruputan pertama, segalanya terasa bahagia. Pada seruput berikutnya, kehangatan makin tercipta, aroma rindu kian terasa.
Namun bila kopi habis, yang tersisa cuma pahit..kelat di langit – langit mulut, menciptakan insomnia, tidak jarang kopi  bahkan meninggalkan aroma tidak sedap pada mulut.
Tapi ya tetap saja.. sepahit apapun sisa ‘kopi’, kita masih saja ingin mencoba..mencecap nikmatnya walau cuma sebentar saja “ J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar