Senin, 03 Februari 2014

'Kekerasan' yang Mendidik

Pagi ini aku mendengar dua kali tangisan balita. Pertama, tangisan anak Ibu tukang sayur. Kedua, tangisan anak Ibu tetangga depan rumah. Penyebab tangisan keduanya adalah sama, sama – sama disebabkan oleh pukulan tangan sang Ibu.
Adalah hal yang lumrah menurutku, bahwa ada kalanya sang Ibu kekurangan stok sabar ketika menghadapi anak balita nya yang sedang rewel. Mungkin si Ibu kehilangan akal, tidak tahu lagi bagaimana caranya menenangkan si anak. Akhirnya.. pukulan pun melayang dari tangan si Ibu. Bukan pukulan yang sangat kejam memang, tapi cukup mampu membuat si balita menangis meraung – raung.
Nah..kalau sudah begitu, tangis anak tidak akan berhenti...malah semakin menjadi – jadi. Bujukan si Ibu pun tidak akan mempan, hanya waktu yang bisa membuatnya diam.


Fenomena sosial tersebut sudah sangat biasa dimataku. Mengapa?       
                Karena sejak menginjak usia dewasa, aku kian belajar memaklumi perilaku Ibu – Ibu yang suka ‘mengoceh’atau memukul gara - gara sikap nakal si anak. Ya, itu perilaku yang sangat wajar.

Mari ku ajak kalian berpikir sejenak...
Sepanjang hari sepanjang waktu.. Ibu telah dibebankan pada banyak sekali tugas rumah tangga. Ketika terbangun dari tidur, meski matanya masih mengantuk..ia harus segera bangun untuk menyiapkan sarapan bagi suami dan anak – anaknya. Belum lagi harus menyetrika pakaian kerja suami dan baju sekolah bagi anak – anak.
Selepas suami dan anak – anak pergi beraktivitas, Ibu memulai pekerjaan hariannya. Mencuci, mengepel, merapikan kamar, membersihkan toilet, memasak, membersihkan halaman rumah. Semua pekerjaan yang tentu saja memakan tenaga dan membuat lelah.
Pada situasi tertentu..misalnya saat keuangan rumah tangga sedang sulit atau saat harga – harga sedang melambung naik, pikiran Ibu terkuras untuk memikirkan bagaimana caranya supaya uang bulanan yang diberikan suami itu cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga mereka hingga batas waktu gajian berikutnya.
Begitulah beratnya pekerjaan Ibu..bukan cuma lelah fisik, tapi juga lelah berpikir.

Lalu diantara kerumitan dan kelelahannya tersebut, datanglah si anak yang merengek – rengek karena alasan yang bahkan seringkali tidak jelas.
Bagaimanalah Ibu tidak marah? Bagaimanalah Ibu masih bisa sabar? Ibu pun lelah dengan segala pekerjaan rumah tangganya.. wajar kalau satu dua kali, ia kehilangan kendali.        
Hanya saja..’kekerasan’ yang boleh dilakukan Ibu tentu tidak boleh berlebih – lebihan.
Mencubit atau memukul sedikit bagian tubuh anak, masih bisa dikatakan wajar.
Namun jika tubuh si anak sudah lebam – lebam dan terluka akibat pukulan Ibu, hal ini tentu tidak dapat dibenarkan.

                Menurutku, ‘kekerasan’ dalam porsi yang wajar sedikit banyak diyakini sebagai  cara yang ampuh dalam mendidik anak – anak.
Contoh kasus..ketika aku masih kecil. Seperti halnya anak – anak yang lain, aku punya keinginan bermain yang sangat luar biasa. Kebetulan, waktu itu rumah kami berjarak tidak jauh dari sungai besar berarus deras. Atas ajakan teman – teman, aku dan adik nekat berenang di sungai meski sudah dilarang Ibu.
Berjam – jam waktu kami habiskan di sungai. Sejak siang hari hingga azan magrib berkumandang dari toa masjid, barulah kami pulang.

Aku dan Adik masih tertawa – tawa di halaman rumah, membahas mengenai keseruan kami di sungai tadi. Lalu kami pun masuk ke dalam rumah.
Setibanya di dalam rumah, aku dan adik langsung disambut Ibu dengan sebilah ikat pinggang. Dengan kasar, Ibu menarik tubuh kami kemudian mencambuk tubuh kami yang kecil dengan ikat pinggang tersebut.

“ Udah dibilangin jangan mandi di sungai.. Udah tau itu airnya kotor, bikin rambut banyak kutu, bikin penyakit kulit, masih aja mandi disitu. Sampe lupa makan, sampe lupa pulang.. Udah tahu airnya deres, masih aja mandi disitu..Kalau tadi kebawa arus gimana ha??,” Ibu memaki sambil terus memukul tubuh kami.
Aku dan adik cuma bisa menangis, kemudian lari ke kamar dan mengurung diri di sana.


                Kejadian itu masih kuingat sampai sekarang. Setelah dipukul Ibu waktu itu, aku dan adik mencoba mogok makan malam. Kami kesal dengan tindakan Ibu, kami juga memutuskan mogok bicara dengannya.
Melihat perilaku kami, Ibu malah tertawa. Tidak henti dia membujuk kami untuk makan, juga menasehati kalau apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan kami berdua. Kami masih saja tidak bergeming.
Cuma sepiring nasi dengan tumis buah pepaya yang akhirnya meluruhkan kemarahan kami. Hahaha... ya, kami tidak jadi mogok makan. Perut kami lapar gara – gara terlalu lama menangis, butuh segera diisi.

                Begitulah...cara Ibu mendidik anak – anaknya. Kalian tahu? Sejak dimarahi Ibu waktu itu, kami resmi kehilangan minat mandi di sungai.  Dan dampaknya tentu saja bagus. Kutu – kutu di kepalaku dan adikku mulai berkurang karena hal itu. :D
                Kadang ‘kekerasan’ dalam kadar yang wajar memang perlu dilakukan untuk mendidik anak – anak. Terlebih, kecenderungan anak – anak kadang suka ‘ngeyel’ alias membantah kalau cuma dinasehati. Maka cara satu – satu nya yang paling baik dilakukan adalah dengan cara memukul.

                ‘Kekerasan’ yang  memberikan manfaat juga sering dilakukan oleh Guruku semasa SD. Aku ingat.. Nama Bapak itu RP. Munthe..
Beliau adalah wali kelas yang sangat tegas terhadap murid – murid. Jika ada anak yang suka ribut atau nakal, beliau akan mencubit atau memukul anak tersebut dengan mistar kayu.
Terlebih pada mata pelajaran matematika, biasanya kegalakan Bapak tersebut akan semakin menjadi – jadi. Jika kami tidak bisa melewati tes hapalan dengan sempurna, maka penggaris kayu sudah menanti kaki kami. Satu pukulan untuk satu kali kesalahan. Begitulah cara Beliau mengajar.
Namun dibalik kekerasan tersebut, aku merasakan sekali manfaat besar dari caranya mendidik. Faktanya..sampai hari ini, aku tidak pernah lupa perkalian matematik 1 sampai 10, itu berkat beliau.

                Sayang sekali, kebanyak orangtua dan anak – anak jaman sekarang..menganggap bahwa kekerasan kecil seperti tersebut sebagai bentuk penganiayaan. Padahal, itu adalah cara yang cukup efektif dalam mendidik anak.

                Maka aku tidak heran kalau banyak anak sekarang nakal – nakal dan tidak bisa membaca atau bahkan tidak mampu berhitung. Itu tentu karena tidak dididik dengan keras.


“ Guru – Guru jaman dulu semuanya suka memukul. Ustad – Ustad di pesantren Ayah dulu juga begitu. Kalau tidak bisa hapalan, ya dipukul. Bukan untuk menyakiti anak – anak, tapi untuk mendidik supaya ada efek jera. Supaya ada keinginan belajar yang lebih keras karena takut dipukul, karena takut sakit. Makanya, kecenderungannya orang – orang jaman dulu itu memang lebih disiplin, lebih baik budi pekertinya, dan lebih cerdas daripada anak – anak sekarang “, kata Ayah suatu kali.

Mendengar penuturan Ayah, aku langsung membayangkan adegan di film – film ‘Saolin’.
Ya..memang benar, murid – murid Saolin pun harus ‘dikasari’ dulu, baru bisa punya kunfu yang handal.

*Ah..Jaman memang mulai berubah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar