‘Ken Dedes’ adalah seorang
wanita cantik jelita yang merupakan istri dari ‘Tuggul Ametung’, Bupati
wilayah Tumapel ( Bagian dari Kerajaan Kediri). Dalam perjalanan pernikahan
mereka, keduanya dikaruniai seorang anak bernama ‘Anuspati’, serta
seorang anak angkat bernama ‘Ken Arok’.
Namun siapa sangka dalam
perjalanannya kemudian, ‘Ken Arok’ selaku anak angkat malah tega menikam
‘Ayah sendiri’ (Tunggul Ametung) hingga tewas dengan menggunakan keris buatan ‘Mpu
Gandring’.
Setelah membunuh sang Ayah, ‘Ken
Arok’ naik tahta (menggantikan Tunggul Ametung) menjadi Bupati Tumapel, juga
mengambil alih posisi sebagai suami baru ‘Ken Dedes’.
Sepak terjang ‘Ken Arok’ dalam
politik cukup beringas, sebab ia dengan berani berusaha menggoyang ‘Kerajaan Kediri’
agar mau melepaskan Tumapel menjadi wilayah yang merdeka dari kekuasaan Kediri.
Tentu saja Raja Kerajaan Kediri
yaitu ‘Kertajaya’ merasa tidak terima. Kertajaya pun mengerahkan ribuan
pasukannya menuju Tumpel untuk menghancurkan kekuasaan ‘Ken Arok’. Sayang, ‘Kertajaya’
kalah strategi. ‘Ken Arok’ malah lebih dulu menyerang pasukannya di wilayah
Ganter, sehingga ‘Kertajaya’ dan pasukan kalah telak.
Peristiwa pembataian di Genter
tersebut terjadi pada tahun 1222 yang juga menandai peralihan kekuasaan
Kerajaan Kediri dari tangan ‘Kertajaya’ ke tangan ‘Ken Arok’. Tidak begitu lama
setelah itu, ‘Ken Arok’ pun menyatukan Tumapel dan Kediri dalam nama baru yaitu
‘Singosari’.
Lima tahun berselang setelah
peristiwa pembantaian di Genter, tepatnya pada tahun 1227, ‘Anuspati’ (anak dari
Ken Dedes dan Tunggul Ametung) membalaskan dendam Ayahnya.
‘Anuspati’ pun menikam ‘Ken Arok’
hingga tewas dengan menggunakan alat yang sama (yang juga digunakan Ken Arok
ketika membunuh Tunggul Ametung) yaitu keris buatan ‘Mpu Gandring’.
Sumber:
Wibowo, Wahyu. 2009. Menjadi
Penulis dan Penyunting Sukses. Jakarta: Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar