Senin, 06 Januari 2014

'Teman dekat' atau 'Pacar'? Ah, mending 'Calon Suami', kan?

Tadi malam, aku menemukan ‘penyadaran’ telak lewat perbincanganku dengan seorang teman..

Kami sempat adu arumen lama sekali.. sampai akhirnya, ku terima juga argumennya yang sangat masuk akal:
“ Segalanya itu cuma masalah penamaan, Zar. Kalangan ‘biasa’ sering bilang ‘pacar’.. Tapi bisa jadi, ukhti – ukhti disekitar kita menyebutnya ‘teman dekat’. Kamu ingat kan? Ukhti yang sering jalan sama Abang – Abang di kompleks kita? Itu mungkin namanya teman dekat, tapi jalan kayak pacar kan? Berarti sama aja..,” katanya santai.

Setelah kupikir – pikir lagi, yang dia katakan itu ada benarnya. Banyak sekali kutemukan ‘Ukhti’ berseliweran, berdekat – dekatan dengan seorang laki – laki.
Jujur saja, ini membuatku kesal. Bagaimana tidak? Mereka dulunya adalah kaum yang menyatakan ingin menikah tanpa pacaran, tapi malah menghabiskan terlalu banyak waktu dengan laki – laki yang bukan muhrimnya.

Jujur saja, aku kecewa. Bisa jadi.. aku adalah orang yang ingin mengarah kepada kaum tersebut. Aku ingin belajar jadi ‘ukhti’ yang baik. Ingin menjaga jarak dengan laki – laki, sampai akhirnya tiba waktu untuk mencari calon pasangan hidup.

Tapi, setelah hal – hal seperti itu terjadi, aku pun jadi sangsi. Benarkah aku ingin jadi seperti itu? Belum lagi lingkunganku yang tidak memberi lampu hijau bagi kaum yang suka memanjangkan hijab.
Ah.. bisa jadi ini hanya masalah persepsi dalam budaya kan?

“ Lagian ya.. kalo kamu pengen langsung nikah tanpa pacaran, apa kamu yakin gak bakal pilih kucing dalam karung? “ lanjutnya lagi.
“ Tapi pacaran tambah dosa kan? Seenggaknya kan bagus.. ketika kita udah kerja dan merasa ingin menikah, baru deh cari calon. Bukannya dengan begitu kita jadi gak terlalu buang – buang waktu? Kalo pacar kamu masih sekolah, masih kuliah, toh gak bisa langsung dinikahin kan?,”
tambahku.

“ Berarti iman kamu yang gak kuat, Zar. Itu kan tergantung kita.. mau gaya pacarannya kayak gimana. Kalo kita jaga jarak sih gak apa – apa,”
“ Emang yakin bisa jaga jarak? Setan dimana – mana lho!,”


Perdebatan itu akhirnya menimbulkan kesimpulan yang kurang lebih sama, buat kami berdua.

Dia akhirnya menutup perdebatan kami dengan menyatakan :

“ Ya udah, entar aja kalo udah kerja dua tahun.. langsung ngelamar anak orang deh..hahaha,”

Sementara aku? ya, sama. Masih tetap memegang teguh amanat dari Ibuku.

“ Nanti kalo udah kerja agak lama, baru cari ‘calon suami’ tapi bukan cari pacar. Intinya, bakal cari kalo udah niat nikah. Sekarang, mending gak usah dulu. Urusan masih ada stok atau enggak, itu kan urusan Allah. Lagian, jodoh gak mungkin ketuker.. “



Insyaallah J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar