Perjalanan kemarin cukup
melelahkan. Aku menghabiskan waktu sekitar empat jam pulang pergi kampus MAP
untuk menemui dosen pembimbing skripsi. Perjalanan yang diwarnai dengan macet,
hujan, dan bahkan nyasar.
Akhirnya aku dapat merasakan
sendiri bagaimana beratnya proses skripsi, seperti yang sering dikatakan oleh
orang – orang terdekat. Nyatanya proses skripsi benar – benar mampu
mendewasakan kita, benar – benar menguji batas kesabaran, usaha, serta tekad
kita.
Misalnya saja dengan menunggu Pak
dosen dari pukul setengah tiga sore, sampai dengan pukul lima sore. Buatku, itu
pengalaman menunggu yang sangat luar biasa.
Terlepas dari perjalanan panjang
yang melelahkan itu, aku merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena dianugerahi
dosen pembimbing yang sangat kompeten di bidangnya, dosen yang menyenangkan dan
sangat menghargai mahasiswa.
Ya.. setidaknya, aku tidak merasa
sia – sia menunggu berjam – jam. Bimbingan Bapak tersebut sangat berharga
buatku. Bimbingan yang singkat, tapi langsung menusuk pada inti permasalahan di
proposal skripsiku.
Sejak saat itu, aku semakin kagum
pada beliau. Aku jadi merasa seperti sebutir debu ketika di dekatnya. Ilmuku terasa
sangat ‘cetek’. Semangatku juga sangat ‘cemen’ jika dibandingkan dengan beliau.
Kalian tahu? Dosen pembimbingku
itu mengalami disabilitas akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu yang mengharuskan dia menggunakan kursi roda. Tapi hal itu tidak pernah menghalanginya untuk terus memberi manfaat buat
orang lain. Berbekal gelar Doktor dari Almamater ternama serta kecerdasan di
atas rata – rata, dia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin program studi S2
di kampus kami. Selain daripada itu, beilau juga tercatat sebagai salah satu
dosen di Universitas terbaik di Jakarta.
Kagum sekali dengan beliau.
Berharap bisa mencontoh semangat serta kecerdasan intelektualnya. Semoga Allah
memanjangkan umurmu Pak, memberimu kesehatan selalu, melimpahimu dengan banyak
nikmat-Nya, amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar