Sabtu, 18 Januari 2014

Super-Man

Perjalanan kemarin cukup melelahkan. Aku menghabiskan waktu sekitar empat jam pulang pergi kampus MAP untuk menemui dosen pembimbing skripsi. Perjalanan yang diwarnai dengan macet, hujan, dan bahkan nyasar.
Akhirnya aku dapat merasakan sendiri bagaimana beratnya proses skripsi, seperti yang sering dikatakan oleh orang – orang terdekat. Nyatanya proses skripsi benar – benar mampu mendewasakan kita, benar – benar menguji batas kesabaran, usaha, serta tekad kita.
Misalnya saja dengan menunggu Pak dosen dari pukul setengah tiga sore, sampai dengan pukul lima sore. Buatku, itu pengalaman menunggu yang sangat luar biasa.

Terlepas dari perjalanan panjang yang melelahkan itu, aku merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena dianugerahi dosen pembimbing yang sangat kompeten di bidangnya, dosen yang menyenangkan dan sangat menghargai mahasiswa.
Ya.. setidaknya, aku tidak merasa sia – sia menunggu berjam – jam. Bimbingan Bapak tersebut sangat berharga buatku. Bimbingan yang singkat, tapi langsung menusuk pada inti permasalahan di proposal skripsiku.

Sejak saat itu, aku semakin kagum pada beliau. Aku jadi merasa seperti sebutir debu ketika di dekatnya. Ilmuku terasa sangat ‘cetek’. Semangatku juga sangat ‘cemen’ jika dibandingkan dengan beliau.

Kalian tahu? Dosen pembimbingku itu mengalami disabilitas akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu yang mengharuskan dia menggunakan kursi roda. Tapi hal itu tidak pernah menghalanginya untuk terus memberi manfaat buat orang lain. Berbekal gelar Doktor dari Almamater ternama serta kecerdasan di atas rata – rata, dia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin program studi S2 di kampus kami. Selain daripada itu, beilau juga tercatat sebagai salah satu dosen di Universitas terbaik di Jakarta.

Kagum sekali dengan beliau. Berharap bisa mencontoh semangat serta kecerdasan intelektualnya. Semoga Allah memanjangkan umurmu Pak, memberimu kesehatan selalu, melimpahimu dengan banyak nikmat-Nya, amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar