Beberapa tahun belakangan ini
tampaknya aku semakin ‘kepo’ terhadap kehidupan pribadi orang lain.
Aku jadi lebih sering mencari –
cari gosip terbaru di komplek, padahal dulu – dulu sangat cuek.
Aku lebih sering berkumpul dengan
teman – teman kampus sambil mendiskusikan kabar terbaru dari teman kampus yang
lain, ketimbang membahas hal – hal atau informasi - informasi yang lebih
penting. Dalam bahasa Indonesia, perilaku seperti ini biasa disebut ‘bergunjing’.
Fiuh...
Banyak hal yang kami bicarakan, contohnya
membahas mengenai pacar di A yang direbut oleh si B. Lalu si C yang katanya mau
menikah selepas kuliah, juga tentang si D yang pintar sekali menjilat dosen.
Yah.. begitulah pekerjaan sehari –
hari kami sebagai ‘calon Ibu – Ibu’ yang saat ini masih berstatus sebagai ‘mahasiswi
– mahasiswi edisi skripsi’ dengan merek sok sibuk.
Menurut telaahku sendiri, bisa
jadi kebiasaan buruk ini muncul karena kurangnya kesibukan dari diri kami
pribadi. Sehingga yang pada akhirnya yang kami lakukan adalah membicarakan
orang lain, sebab tentu saja kami tidak punya banyak pekerjaan yang bisa kami
bahas. Atau kadang - kadang karena gosip itu terasa lebih menarik ketimbang
pekerjaan kami sendiri.
Selalu ada saja sentilan –
sentilan kecil di setiap pembicaraan yang kami lakukan.
Aku jadi paham... mengapa dalam
islam, perempuan lebih banyak yang masuk neraka ketimbang laki – laki.
Ya pasti karena ini.. karena kesibukan
kami ‘bergunjing’. Sekalipun ada banyak hal penting lain yang seharusnya bisa
kami urusi.
Eits.. tapi ini bukan kebiasaan
segelintir perempuan saja lho! Bisa jadi ‘bergunjing’ adalah kebiasaan para
perempuan di seluruh dunia.
Jika perempuan – perempuan sudah
duduk di satu meja, sedikit banyak pasti ada ‘camilan kecil’ sebagai bumbu penyedap
dalam pembicaraan mereka.
Tampaknya ‘bergunjing’ hampir
menjadi budaya di kalangan perempuan, meski tentu saja masih ada perempuan –
perempuan suci yang tidak pernah menyentuh hal ini sama sekali.
Entahlah.. di satu sisi, obrolan
macam ini biasanya lebih bisa mendekatkan para perempuan secara emosional satu
sama lain. Beberapa orang bahkan menjadi lebih terikat oleh karena obrolan yang
‘nyambung’.
Meskin di sisi lain, hal ini juga dinyatakan sebagai dosa besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar