Jika di tanya seberapa besar rasa
itu?
Saya tidak tau... sayapun tidak
pernah mencoba menghitungnya.
Yang saya tau adalah bahwa entah
mengapa perasaan menjadi tak menentu setiap kali saya berhadapan dengan dia.
Yang saya tau saya tampak begitu
melankolis setiap bercerita tentangnya.
Saya ingin lupa, tentang
bagaimana wajahnya, caranya berbicara, caranya memaki.
Tentang perhatiannya, tentang
gurauannya, tentang ocehannya, ejekannya kepada saya.
Tentang kejengkelannya setiap
kali saya memaksanya menemani saya menyelesaikan keperluan saya.
Betapa semuanya terasa hambar
sekarang.
Terasa hambar sebab saya
merasakan kehilangan.
Lalu setiap kali saya tampak seperti orang bodoh, selalu memeriksa handphone saya, berharap kalau – kalau ada
sebuah pesan singkat darinya.
Tapi pesan itu tidak pernah ada.
Tidak ada,
Dan tidak mungkin ada lagi,
sekarang.
Kami sudah membuat jarak, jarak
yang tidak boleh saya ingkari. Jarak yang mengharuskan saya pergi dari
hidupnya, agar dia lebih bahagia. Dan saya tidak lagi terluka.
Jarak yang memberatkan, meski
terkadang menentramkan bagi hati saya yang cemburu.
Jarak yang membuat saya
paham, betapa dia sudah mengambil alih banyak hal, dalam hati saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar