Minggu, 04 November 2012

Kasta


Sebenarnya agak sedikit basi untuk membahas hal ini..Tapi saya hanya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu.

Waktu itu satu minggu sebelum lebaran idul adha, adik saya ngotot ingin mudik ke rumah orangtua. Tapi saya bilang bahwa saya tidak punya uang untuk ongkos. Adik begitu ngotot, dan akhirnya berangkatlah kami dengan uang pas – pasan.

Berhubung uang tidak cukup untuk kelas eksekutif, kami terpaksa memilih kelas ekonomi. Oh iya.. dari Palembang menuju Bangka kami menggunakan kapal cepat.

Beginilah keadaan kelas ekonomi di kapal yang patut anda ketahui:

Bangku - bangku plastik di foto di atas bisa jadi digunakan sebagai bangku tambahan saat penumpang kelas ekonomi tengah membludak.
 Kursi yang keras .

Foto diatas adalah foto adik saya yang tengah ngantuk berat dengan banyak barang bawaan disekitarnya.


Penumpang di kelas ekonomi kebanyakan adalah bapak – bapak dengan fashion jadul maksimal. Kelas ekonomi berada di teras kapal, tanpa AC, dan suara mesin kapal yang besar yang memekakkan telinga.
Saya harus agak sedikit berteriak untuk bicara dengan adik saya. Say mencoba menikmati keadaan dengan mendengarkan lagu lewat earphone handphone sampai kuping saya terasa sakit.
Adik saya mengeluhkan tubuhnya yang  pegal – pegal akibat tidur di kursi kapal yang keras. Saya hanya bisa meringis menanggapi keluhannya.
Anda tau sebenarnya perasaan saya saat itu? Lucu, ya.. saya merasa lucu dengan keadaan seperti itu.
Tapi sepersekian detik kemudian saya harus menenggelamkan wajah saya dalam – dalam karena malu. Gara – garanya?  saya berniat memesan tiket bus pelabuhan menuju rumah dengan pramugari kapal. Sebenarnya saya sudah menanyakan terlebih dahulu kalau saya menginginkan tiket bus, bukan travel. Tapi kemudian saya syok, karena tiket bus habis dan yang tersisa cuma tiket travel. Uang saya dan adik kurang 20ribu? Rasanya saya ingin bunuh diri pada saat itu.
Bapak ( yang tidur di foto diatas ) tersenyum – senyum geli sembari melihat pada kami.
Saya malu setengah mati. Terpaksa saya mengembalikan lagi tiket tersebut kepada pramugari kapal dan bilang ‘ Gak jadi deh Mbak’. Mbak pramugari menatap saya dengan pandangan mengerti, sedih juga mungkin, melihat beberapa lembar rupiah yang sudah saya pegang untuk saya berikan, tapi ternyata tidak cukup. Saya memasukkan kembali lembaran rupiah itu ke dalam tas dengan perasaan nyesek dan malu. Saya memasang ekspresi datar agar tidak terlihat terlalu menyedihkan.
Sebuah kenyataan yang ada adalah betapa hidup sudah dikotak – kotakkan, kasta ada dimana – mana.
Bahkan pada sebuah kapal : VIP, Eksekutif, Ekonomi ( kami di kasta paling rendah ).

Saat itu juga saya mengerti bahwa uang memiliki tempat yang tinggi di atas banyak hal. 

Saat itu juga saya berjanji kalau setidak – tidaknya saya harus  sejahtera di masa depan , supaya saya tidak perlu menanggung malu lagi lain kali.
Dan anda tau, apa yang dikatakan adik saya?
“ Yuk, balik dari rumah nanti.. gimanapun caranya : kita harus naik VIP!!!”
Saya mengamini.

Kami kemudian naik bus yang mangkal di pelabuhan, lalu melanjutkan naik angkot hingga sampai ke rumah.
Kami pun bercerita tentang pengalaman memalukan itu pada seisi rumah.

Hasilnya? Kami dapat dua tiket VIP untuk kembali lagi ke Palembang selepas lebaran. Hahahaha...
Setidak – tidaknya saya bisa mendongakkan kepala dengan luar biasa, bergabung dengan bule dan cina – cina elit di kelas eksklusif mereka. Betapa bahagianya!

 (Satu hal yang saya sayangkan, saya tidak sempat memfoto kelas VIP beserta bule dan cina - cina itu ). Tapi yang jelas, di VIP kami mendapatkan fasilitas kursi yang nyaman, AC yang dingin, dan kue - kue yang manis, ^_^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar