Hari ini saya menerima permintaan
pertemanan di facebook dari seseorang. Orang tersebut kebetulan mengikuti ajang
kepenulisan puisi secara online seperti saya juga.
Dia mengirimkan pesan kepada saya
untuk me- like puisi di note nya.
Lalu saya menolak dan berargumen
bahwa sebagai penulis, kita sudah tidak jujur kalau kita meminta orang lain
untuk me – like karya kita.
Kemudian dia menyampaikan argumen
nya seperti untuk alasan promosi dan sebagainya. Dia juga tampak sedikit emosi
dan mulai menjabarkan kelebihan – kelebihannya di bidang kepenulisan yang sudah
jauh di atas saya.
Saya? tidak terlalu peduli.
Karna terlepas dari segala macam
alasan apapun, saya beranggapan bahwa meminta orang lain secara sedikit
memaksa untuk me- like karya kita adalah sama dengan tidak jujur dengan
diri kita sendiri.
Sebagai penulis, sudah seharusnya
kita jujur pada karya kita sendiri tho? Kalau banyak yang like, ya berarti
karya kita memang bagus di mata pembaca. Kalau gak ada yang like, artinya karya
kita jelek.
Setidaknya dengan begitu, bisa menjadi
masukan bagi kita untuk memperbaiki karya kita di masa mendatang kan? Kalau
menyuruh orang lain me – like karya kita di note dengan alasan sekalian
promosi, saya pikir bukankah ada fasilitas ‘ tag’ pada note? Tentu saja itu
bisa kita gunakan untuk mempromosikan karya kita.
Sekali lagi, saya tidak peduli
dengan berbagai dalil yang digunakan orang lain untuk membenarkan tindakan ‘menyuruh
orang me- like’.
Sebab sebagai orang yang mencintai sastra, saya ingin karya
saya benar – benar dihargai karena kualitas. Saya ingin karya saya menang karna
karya saya memang bagus, bukan karena mengemis banyak jempol dari orang –
orang.
Semoga impian saya cepat
terwujudkan, amin! ^_^v
Tidak ada komentar:
Posting Komentar