Tadi malam adalah malam yang akan
saya kenang seumur hidup saya.
Kejadian yang membuat Saya kemudian
mengerti, bahwa hidup memang keras dan saya harus tangguh dalam menghadapi
badai.
Segalanya bermula karena keadaan
ekonomi keluarga yang tengah goyang. Kemampuan finansial saya tidak mendukung
untuk tetap tinggal di kosan kami sekarang. Maka saya dan Adik memutuskan untuk
pindah.
Dengan bantuan seorang teman,
saya menemukan kosan kamar yang harganya sangat miring. Kamar tersebut hendak
ditinggalkan pemiliknya yang sudah tidak punya hajat hidup lagi di daerah
tempat saya kuliah. Maka karena kami akan meneruskan kontrakan pemilik
tersebut, saya bisa mendapatkan harga sangat miring.
Saya sudah mengabari Ibu tentang kabar
baik ini, Ibu sangat senang dan mendukung untuk segera pindah. Saya dan pemilik
kamar sudah deal. Saya pun sudah mengabarkan juga pada pemilik rumah kalau saya
yang akan meneruskan kamar pemilik sebelumnya. Pemilik rumah tidak keberatan
kalau kamar tersebut kami tempati berdua dengan adik.
Saya pun berkunjung ke rumah
tersebut untuk menyerahkan uang kontrakan. Setibanya disana, saya mendapati
ekspresi wajah pemilik kamar yang tampak tidak nyaman.
Saya bertanya ada apa dengannya.
Lalu dia bilang bahwa ketiga pemilik kamar yang lain dirumah itu (kamar dirumah
tersebut ada empat, salah satunya yang hendak saya dan adik tinggali) meminta
untuk rembug masalah pergantian pemilik kamar.
Saya pun menuruti kemauan pemilik
kamar. Saya dan adik menghadap ketiga penghuni rumah yang lain. Sejauh – jauh pembicaraan
kami, ketiganya menyampaikan keberatan saya dan adik untuk tinggal oleh karena
dirasa mereka kurang nyaman. Mereka juga menyalahkan pemilik kamar bahwa
seharusnya pemilik kamar meminta izin pada mereka lebih dulu jika hendak ganti
pemilik.
Saya tanya, letak keberatan
mereka dari sisi mana?
Toh yang bayar adalah saya,
pemilik rumah juga sudah setuju saya yang akan menghuni kamar tersebut bersama
adik. Begitu pun pemilik kamar. Saya pikir memang yang punya andil disini
adalah izin dari pemilik rumah, dan deal dari saya dan pemilik kamar
sebelumnya?
Lalu mereka bilang keberatan
mereka adalah karena sulit menjemur baju jika ada penambahan penguni rumah.
Saya jawab bahwa kami bisa menumpang di tempat lain jika memang disini tidak
muat untuk menjemur pakaian. Mereka menjawab lagi bahwa mereka tidak nyaman karena
kondisi yang jadi berlima. Dirasa terlalu penuh. Saya bilang bahwa jika mereka
terganggu kami bisa tetap tinggal diam dikamar saja.
Ketiga pemilik kamar yang lain
tetap ngotot bahwa kami tidak bisa diterima disitu.
Adik mendesak untuk pulang dan
mengakhiri perdebatan ini. Saya mencoba untuk ngotot mengingat keadaan orangtua
yang menuntut kami untuk hemat.
Adik menahan airmata agar tidak
tumpah ruah disana.
Saya dan pemilik kamar serta adik
memilih untuk berdiskusi bertiga di luar rumah. Pemilik kamar menyatakan ketidaksukaannya atas perlakuan
tiga pemilik kamar yang lain. Dia pikir kamar itu adalah hak nya, dan dia
berhak memilih siapa saja yang akan meneruskan kamar tersebut. Terlebih pemilik
rumah juga sudah memberi izin.
Saya tidak bisa menahan airmata
saya, didepan pemilik kamar airmata saya tumpah ruah. Betapa hidup begini
sulit. Orang – orang tersebut adalah keluarga sesuku sendiri, tapi mereka
bahkan tidak mau mengerti tentang keadaan ekonomi yang tengah mendesak saya.
Mereka tidak mau membantu.
Pemilik kamar meminta maaf dengan
sangat atas perlakuan tidak menyenangkan dari tiga pemilik kamar yang lain. Pertemuan
pertama yang sangat tidak menyenangkan, membuat saya memutuskan untuk urung
pindah kesana. Saya membayangkan satu tahun ke depan yang begitu berat jika
saya tetap ngotot untuk tinggal.
Pemilik kamar juga merasa kecewa ,
sebab rezeki baginya yang sudah di depan mata, terpaksa tertahan oleh karena alasan
ketidaknyamanan tiga orang tersebut yang ia rasa terlalu dibuat - buat.
Akhirnya, saya dan adik
memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan kami tidak bisa berhenti
menangis. Saya sangat terluka. Rasanya saya begitu terhina. Belum pernah saya
menangis begini banyak.
Saya membayangkan Ibu yang kecewa
tidak bisa mendapat kos yang murah, membayangkan ia yang akan menangis nelangsa
jika tau anak – anak nya menerima perlakuan begini buruk.
Dalam hati saya berdoa,
Semoga Tuhan mengangkat derajat
kami diatas orang – orang tersebut.
Saya tahu Tuhan Maha Adil. Tuhan
akan memberi balasan dengan hidup yang lebih berat bagi mereka suatu hari
nanti. Saya percaya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar