What
is love?
Maksudku,
cinta antara laki – laki dan wanita itu seharusnya seperti apa?
Sepertinya aku terlalu banyak
mendengar pendapat orang. Juga.. terlalu banyak menerima ‘paradigma cinta’ berdasarkan
film - film drama. Sehingga aku tidak pernah punya patokan yang kuyakini dengan
benar. Maksudku, dari awal aku memang cenderung kurang mengerti. Dan ditambah dengan
berjubelnya paradigma – paradigma lain dalam kepalaku,.. justru semakin
mengacaukan segalanya.
Aku
sering mendengar bahwa ada sekelompok orang yang berpikir bahwa cinta bisa
diukur dari kepemilikan materi. Berapa banyak uang yang dimiliki, maka hal itu
akan berbanding lurus dengan takaran perasaan, serta waktu yang bisa dihabiskan
untuk bersama.
Sekelompok
orang yang lain justru beranggapan bahwa cinta tentu bisa didapatkan melalui
paras yang cantik atau tampan. Artinya, kita bisa berbahagia jika memiliki
pasangan yang rupawan. Tapi benarkah adanya demikian? Kalau begitu.. jika kita
tidak cantik/ tampan (atau bahkan cenderung jelek), maka kita tidak berhak
merasakan cinta? Begitukah? Oh.. kalau begitu, betapa dunia sangat tidak adil
dalam membagi takaran cinta.
Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa
cinta bisa datang dari mana saja, sejauh perasaan itu bisa membuat kita bahagia.
Terserah apakah kamu benar – benar bisa ‘menyentuh’ pasanganmu atau tidak. Yang
penting, kamu bisa merasakan kehadirannya. Hmm.. kalau dipikir – pikir, apakah
bisa hal ini disebut cinta? Contohnya; pasangan dunia maya. Mereka saling
memiliki di chating, saling memiliki di handphone, tapi tidak pernah bertemu di
dunia nyata. Apakah ini masih bisa disebut cinta? Terdengar agak konyol ya?
hahaha
Paradigma yang paling sering kudengar
dilingkunganku sekarang adalah paradigma yang berasal dari kelompok ‘orang suci’.
Mereka beranggapan bahwa cinta itu murni pemberian yang Kuasa (tentu saja ini
tidak diragukan lagi). Kita tak perlu terlalu rumit memilih, sebab cinta akan
selalu tiba pada saatnya. Dan Tuhan yang akan memilihkan, dan menjodohkan.
But...
i dont know.. Segalanya membuatku semakin tidak mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar