Aku berjalan penuh semangat.
Langkahku ringan menuju hutan di lereng gunung. Inilah pekerjaanku sehari –
hari. Mengumpulkan kayu bakar untuk ku jual ke pasar. Sedang setengahnya lagi
akan digunakan oleh Nenek untuk memasak di rumah.
“ Ingat yang Nak. Jangan pernah
melakukan hal lain di hutan, selain mengumpulkan kayu bakar. Kamu ingat kan
kalau itu hutan terlarang? Sekali kamu macam – macam, kamu tidak akan bisa
pulang,” begitu pesan Nenek.
Selalu ku ingat kata – katanya
baik – baik.
Sesampainya di hutan, aku
langsung mengumpulkan tiap – tiap kayu bakar yang kutemukan. Kayu – kayu tersebut langsung kumasukkan
dalam gerobak kayu.
Sayang, hari ini persediaan kayu
bakar agak menipis. Jadi aku terpaksa harus masuk lebih dalam untuk mengumpulkan
lebih banyak.
Sejujurnya aku merasa takut. Aku
pernah melangkah lebih jauh ke dalam, dan telah kutemui berbagai hal aneh di
dalam sana. Misalnya saja, aku pernah bertemu sesosok perempuan mengerikan yang
menggantung dirinya di ranting pohon besar. Atau peri – peri kecil yang terbang
dan menawarkan buah – buah manis kepadaku.
Nenek bilang, sosok – sosok yang
kutemui itu sebenarnya adalah orang – orang yang dulu melanggar janji.
Melanggar janji untuk tidak berbuat macam – macam di hutan. Akhirnya, mereka
tidak pernah bisa pulang, lalu menetap menjadi sosok – sosok seperti itu.
Aku melangkah mantap. Aku harus
mengumpulkan kayu secepat mungkin, kemudian pulang.
Ketika aku berjalan masuk ke
tengah hutan, tanpa sengaja aku menemukan sosok aneh di pinggir kolam.
Sosok tersebut adalah gadis Hobit
yang tampak kesepian. Rambutnya merah dan panjang, kulitnya pucat. Ia
mengenakan gaun putih panjang, duduk bersila dipinggir kolam.
Aku melangkah mendekatinya.
Berusaha tidak menyentuh, hanya berdiri beberapa centi di sampingnya.
“Hei, Siapa namamu? Dan apa yang
kamu lakukan?,” kataku.
Kulihat tangan si gadis sibuk menepuk
– nepuk air.
“ Aku Ougust, aku ingin mengambil
emas di bawah sana”, katanya singkat. Sekarang, tangannya tampak mengepal di
dalam air.
Aku tertawa lucu. Terbersit rasa
heran di pikiranku.
“ Kalau kamu mau mengambil emas
di dasar sana, mengapa kamu tidak menyelam saja?,”saranku.
Bisa kulihat sepotong emas berukuran
cukup besar di dasar kolam. Kupikir, kolam ini tidaklah terlalu dalam untuk
bisa diselami. Mestinya, mengambil emas tersebut adalah hal yang mudah.
“ Tidak, aku takut tenggelam,”
jawabnya singkat, masih sambil mengepalkan tangan dalam air.
“ Kalau begitu, kenapa tidak kamu
kuras saja airnya? Dengan begitu, kamu tidak akan tenggelam, kan?,” kataku
lagi.
“Aku tidak bisa, kolam ini tidak
akan indah lagi tanpa airnya,” jawabnya mantap.
Aku pun beringsut menjauh. Mendengus
sebal. Sungguh, aku tidak mengerti, mengapa ada orang bodoh seperti itu? Kalau
dia menginginkan emas, mengapa dia tidak mau berusaha mendapatkannya? Mengapa
dia hanya berdiam di pinggir kolam, berharap kalau emas itu akan naik dengan
sendirinya? Berharap bisa memiliki emas, hanya dengan menggapai air saja?
Mengapa dia lebih suka menikmati
ilusi? Menikmati pantulan emas di atas air, padahal ia hanya buang – buang waktu
untuk sesuatu yang tidak bisa dia punyai?
Aku mendengus kesal. Fiuhh..sudahlah,
itu bukan urusanku.
Kudorong gerobak kayu, lalu melangkah
meninggalkan tempat itu.
~THE END~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar