Jumat, 14 Maret 2014

Dongeng : Ougust dan Sepotong Emas


Aku berjalan penuh semangat. Langkahku ringan menuju hutan di lereng gunung. Inilah pekerjaanku sehari – hari. Mengumpulkan kayu bakar untuk ku jual ke pasar. Sedang setengahnya lagi akan digunakan oleh Nenek untuk memasak di rumah.

“ Ingat yang Nak. Jangan pernah melakukan hal lain di hutan, selain mengumpulkan kayu bakar. Kamu ingat kan kalau itu hutan terlarang? Sekali kamu macam – macam, kamu tidak akan bisa pulang,” begitu pesan Nenek.

Selalu ku ingat kata – katanya baik – baik.

Sesampainya di hutan, aku langsung mengumpulkan tiap – tiap kayu bakar yang kutemukan.  Kayu – kayu tersebut langsung kumasukkan dalam gerobak kayu.
Sayang, hari ini persediaan kayu bakar agak menipis. Jadi aku terpaksa harus masuk lebih dalam untuk mengumpulkan lebih banyak.

Sejujurnya aku merasa takut. Aku pernah melangkah lebih jauh ke dalam, dan telah kutemui berbagai hal aneh di dalam sana. Misalnya saja, aku pernah bertemu sesosok perempuan mengerikan yang menggantung dirinya di ranting pohon besar. Atau peri – peri kecil yang terbang dan menawarkan buah – buah manis kepadaku.

Nenek bilang, sosok – sosok yang kutemui itu sebenarnya adalah orang – orang yang dulu melanggar janji. Melanggar janji untuk tidak berbuat macam – macam di hutan. Akhirnya, mereka tidak pernah bisa pulang, lalu menetap menjadi sosok – sosok seperti itu.

Aku melangkah mantap. Aku harus mengumpulkan kayu secepat mungkin, kemudian pulang.

Ketika aku berjalan masuk ke tengah hutan, tanpa sengaja aku menemukan sosok aneh di pinggir kolam.
Sosok tersebut adalah gadis Hobit yang tampak kesepian. Rambutnya merah dan panjang, kulitnya pucat. Ia mengenakan gaun putih panjang, duduk bersila dipinggir kolam.

Aku melangkah mendekatinya. Berusaha tidak menyentuh, hanya berdiri beberapa centi di sampingnya.
“Hei, Siapa namamu? Dan apa yang kamu lakukan?,” kataku.
Kulihat tangan si gadis sibuk menepuk – nepuk air.

“ Aku Ougust, aku ingin mengambil emas di bawah sana”, katanya singkat. Sekarang, tangannya tampak mengepal di dalam air.

Aku tertawa lucu. Terbersit rasa heran di pikiranku.
“ Kalau kamu mau mengambil emas di dasar sana, mengapa kamu tidak menyelam saja?,”saranku.
Bisa kulihat sepotong emas berukuran cukup besar di dasar kolam. Kupikir, kolam ini tidaklah terlalu dalam untuk bisa diselami. Mestinya, mengambil emas tersebut adalah hal yang mudah.

“ Tidak, aku takut tenggelam,” jawabnya singkat, masih sambil mengepalkan tangan dalam air.
“ Kalau begitu, kenapa tidak kamu kuras saja airnya? Dengan begitu, kamu tidak akan tenggelam, kan?,” kataku lagi.

“Aku tidak bisa, kolam ini tidak akan indah lagi tanpa airnya,” jawabnya mantap.

Aku pun beringsut menjauh. Mendengus sebal. Sungguh, aku tidak mengerti, mengapa ada orang bodoh seperti itu? Kalau dia menginginkan emas, mengapa dia tidak mau berusaha mendapatkannya? Mengapa dia hanya berdiam di pinggir kolam, berharap kalau emas itu akan naik dengan sendirinya? Berharap bisa memiliki emas, hanya dengan menggapai air saja?

Mengapa dia lebih suka menikmati ilusi? Menikmati pantulan emas di atas air, padahal ia hanya buang – buang waktu untuk sesuatu yang tidak bisa dia punyai?
Aku mendengus kesal. Fiuhh..sudahlah, itu bukan urusanku.

Kudorong gerobak kayu, lalu melangkah meninggalkan tempat itu.

~THE END~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar