Aku menemukanmu, lagi dan lagi. Duduk menunggu di teras rumah, sambil menatap sebuah foto dalam dompet.
Aku berjalan menghampiri.
“ Kamu datang lagi? Apa tidak bosan?,” kataku kelu.
Kamu tersenyum, lalu melemparkan dompet ke atas meja di antara kita. Ada fotoku di dalam sana.
“ Aku ingin membeli rumah ini, Dik,” katamu singkat. Menatap lurus kedalam mataku, seolah mencari – cari sesuatu.
“ Aku tidak berniat menjualnya,” jawabku.
Bersamaan dengan itu, kamu masukkan lagi dompet ke dalam saku celana.
“ Tapi suatu hari, kamu butuh teman di dalam sini.. mungkin aku bisa,” ujarmu lagi.
Aku menatapmu heran. Berapa ratus hari sudah kamu habiskan dengan duduk di teras rumah ini? Tanpa pernah kusuguhkan minuman pun, kamu tetap saja datang.
“ Mengapa kamu begitu menginginkan tinggal disini?,” Kutatap wajahmu, berusaha mencari gurat lelah. Tapi kamu malah tersenyum lebar.
“ Ini rumah yang pertama kali kulihat, Dik...dalam perjalananku menempuh hidup. Ini rumah ternyaman yang pernah kuimpikan. Aku ingin tinggal disini, mungkin selamanya. Kalau bisa,” kamu bangkit dari duduk.
“ Mungkin sekarang aku belum akan menjualnya,” simpulku.
Kamu melangkah maju, meninggalkan teras rumah. Tapi kemudian menoleh lagi.
“ Aku akan terus kemari.. setiap hari. Sampai kamu lupa bagaimana caranya mengusirku,”
Kamu pun berlalu.
Tapi esok hari, kudapati lagi kamu.. duduk menunggu diteras rumahku. Tersenyum, selalu begitu.
~THEEND~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar