Kamis, 05 Desember 2013

Resensi Novel Islami 'Namaku Naura' : 'Pesan' yang Menyesatkan Umat

 ‘Pesan’ yang Menyesatkan Umat 
( Oleh Zara Oktavia)

Judul Novel        : Namaku Naura
Pengarang          : Alfina Dewi
Penerbit              : Diva Press
Tebal Hal              : 464 Halaman
Tahun Terbit      : 2012


                Mengangkat tema mengenai kehidupan rumah tangga yang islami, Alfina dewi menyodorkan sebuah novel berjudul ‘Namaku Naura’. Tokoh utama dalam novel ini yaitu Naura Dewi, seorang gadis cantik dan soleha, yang jatuh cinta kepada sesosok ustad muda yang tampan, soleh, anggota legislatif, sekaligus putra seorang kiai terpandang bernama Muhammad Fariza. Namun sayang sekali, cinta Naura agaknya menjadi rumit sebab sang Ustad nyatanya sudah beristri dan memiliki dua orang anak. Namun siapa sangka, dalam keadaan rumah tangga Fariz yang kurang harmonis, ustad muda tersebut pun jatuh hati pada Naura. Naura dirasa memberikan napas baru bagi diri Fariz. Seiring berjalannya waktu, perasaan keduanya semakin membuncah. Hal ini kemudian berujung pada sebuah pernikahan diam – diam antara Fariz dan Naura, tentu tanpa izin istri pertama. Sejak hari pernikahan tersebut, dimulailah perjuangan panjang seorang Naura Dewi dalam mempertahankan cinta serta agamanya. Novel ini berusaha menyampaikan pesan tentang ketabahan dan kesabaran seorang wanita soleha yang berjuang dalam garis takdir pahit dan manis yang sudah digariskan Tuhan. Mengamanatkan perjuangan seorang wanita dalam mendidik anak – anaknya, juga memperjuangkan cinta dalam hatinya.

                Menggunakan sudut pandang orang pertama, Alfina Dewi agaknya berhasil membawa pembaca ke dalam suasana pondok pesantren milik Naura yang teduh dan menenteramkan. Penulis mampu menggambarkan dengan baik keadaan lingkungan tempat si tokoh Naura tinggal, sehingga pembaca seakan – akan ikut serta merasakan tinggal di sana. Alfina Dewi juga mampu membangun keterkaitan emosi antar tokoh secara syahdu.

                Namun sayang sekali, pesan ‘islami’ yang menjadi ‘sampul’ dari novel ini hanya sebuah pesan yang kosong. Diibaratkan sebuah buku, novel ‘Namaku Naura’ hanyalah sebuah buku bersampul cantik, tanpa isi yang bermanfaat. Wajah islam hakiki yang berusaha ditampilkan penulis dalam buku ini, nyatanya hanya pepesan kosong. Alfina Dewi justru menyesatkan pemahaman pembaca melalui beberapa adegan yang ia tulis.

Berikut petikan isi novel ‘Namaku Naura’ yang menyimpang, tertera di bawah ini:

Mata kami saling menatap sepenuh rasa, sepenuh kangen, rindu, sayang, cinta, seolah semua rasa yang ada di dada kami terwakili oleh tatapan mata kami. Dia mendekatiku. Napasku kutahan, bibirku kugigit... dan tangannya meraih kedua tanganku, pelan diletakkannya ke dadanya. Tanganku merasakan degup jantungnya.
“ Aku tidak bisa mengungkapkannya, Dik..biar kau sendiri yang merasakannya.”
Diraihnya kepalaku ke dadanya. Aku tak bisa lagi mendefinisikan rasaku. Yang kurasa hanya melayang. Di dadanya yang kokoh aku begitu damai dalam lembut rengkuhannya. (Hal 49 dan 50)

Perlu diketahui bahwa pada adegan tersebut diatas, Ustad Fariz belumlah sah menjadi suami dari Naura Dewi. Ditambah lagi, Ustad Fariz masih beristri dan perilaku yang mereka perbuat diatas sama saja dengan berselingkuh. Keduanya bukan muhrim, namun keduanya bermesra – mesraan secara berlebihan. Padahal jelas dalam islam, hal yang dilakukan diatas sangat dilarang.

Sebuah hadits menyatakan:
“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat (berdua di suatu tempat tanpa ada orang lain) dengan seorang wanita tanpa ada mahram wanita tersebut karena setan menjadi yang ketiga di antara mereka berdua” (Hadits Riwayat Ahmad).

                Novel berjudul ‘Namaku Naura’ yang bersampul ‘islami’ tapi tidak sama sekali mengandung nilai – nilai ajaran agama islam ini tidak perlu dibaca kalangan dengan ilmu agama yang masih minim, sebab dikhawatirkan bahwa novel ini akan memberikan pemahaman yang salah terhadap umat. Namun novel ini perlu dibaca bagi para cendekiawan muslim maupun aktivias dakwah, sebagai bahan pembelajaran dalam rangka meluruskan yang salah.


1 komentar: