‘Pesan’
yang Menyesatkan Umat
( Oleh Zara Oktavia)
Judul Novel : Namaku Naura
Pengarang : Alfina Dewi
Penerbit : Diva Press
Tebal Hal : 464 Halaman
Tahun Terbit : 2012
Mengangkat
tema mengenai kehidupan rumah tangga yang islami, Alfina dewi menyodorkan
sebuah novel berjudul ‘Namaku Naura’. Tokoh utama dalam novel ini yaitu Naura
Dewi, seorang gadis cantik dan soleha, yang jatuh cinta kepada sesosok ustad
muda yang tampan, soleh, anggota legislatif, sekaligus putra seorang kiai
terpandang bernama Muhammad Fariza. Namun sayang sekali, cinta Naura agaknya
menjadi rumit sebab sang Ustad nyatanya sudah beristri dan memiliki dua orang
anak. Namun siapa sangka, dalam keadaan rumah tangga Fariz yang kurang
harmonis, ustad muda tersebut pun jatuh hati pada Naura. Naura dirasa
memberikan napas baru bagi diri Fariz. Seiring berjalannya waktu, perasaan
keduanya semakin membuncah. Hal ini kemudian berujung pada sebuah pernikahan
diam – diam antara Fariz dan Naura, tentu tanpa izin istri pertama. Sejak hari
pernikahan tersebut, dimulailah perjuangan panjang seorang Naura Dewi dalam
mempertahankan cinta serta agamanya. Novel ini berusaha menyampaikan pesan
tentang ketabahan dan kesabaran seorang wanita soleha yang berjuang dalam garis
takdir pahit dan manis yang sudah digariskan Tuhan. Mengamanatkan perjuangan seorang
wanita dalam mendidik anak – anaknya, juga memperjuangkan cinta dalam hatinya.
Menggunakan
sudut pandang orang pertama, Alfina Dewi agaknya berhasil membawa pembaca ke
dalam suasana pondok pesantren milik Naura yang teduh dan menenteramkan. Penulis
mampu menggambarkan dengan baik keadaan lingkungan tempat si tokoh Naura
tinggal, sehingga pembaca seakan – akan ikut serta merasakan tinggal di sana. Alfina
Dewi juga mampu membangun keterkaitan emosi antar tokoh secara syahdu.
Namun
sayang sekali, pesan ‘islami’ yang menjadi ‘sampul’ dari novel ini hanya sebuah
pesan yang kosong. Diibaratkan sebuah buku, novel ‘Namaku Naura’ hanyalah
sebuah buku bersampul cantik, tanpa isi yang bermanfaat. Wajah islam hakiki yang
berusaha ditampilkan penulis dalam buku ini, nyatanya hanya pepesan kosong.
Alfina Dewi justru menyesatkan pemahaman pembaca melalui beberapa adegan yang
ia tulis.
Berikut petikan isi novel ‘Namaku
Naura’ yang menyimpang, tertera di bawah ini:
Mata kami saling menatap
sepenuh rasa, sepenuh kangen, rindu, sayang, cinta, seolah semua rasa yang ada
di dada kami terwakili oleh tatapan mata kami. Dia mendekatiku. Napasku
kutahan, bibirku kugigit... dan tangannya meraih kedua tanganku, pelan
diletakkannya ke dadanya. Tanganku merasakan degup jantungnya.
“ Aku tidak bisa
mengungkapkannya, Dik..biar kau sendiri yang merasakannya.”
Diraihnya kepalaku ke
dadanya. Aku tak bisa lagi mendefinisikan rasaku. Yang kurasa hanya
melayang. Di dadanya yang kokoh aku begitu damai dalam lembut rengkuhannya.
(Hal 49 dan 50)
Perlu diketahui bahwa pada adegan
tersebut diatas, Ustad Fariz belumlah sah menjadi suami dari Naura Dewi. Ditambah
lagi, Ustad Fariz masih beristri dan perilaku yang mereka perbuat diatas sama
saja dengan berselingkuh. Keduanya bukan muhrim, namun keduanya bermesra –
mesraan secara berlebihan. Padahal jelas dalam islam, hal yang dilakukan diatas
sangat dilarang.
Sebuah hadits menyatakan:
“Janganlah salah seorang dari
kalian berkhalwat (berdua di suatu tempat tanpa ada orang lain) dengan seorang
wanita tanpa ada mahram wanita tersebut karena setan menjadi yang ketiga di
antara mereka berdua” (Hadits Riwayat Ahmad).
Novel
berjudul ‘Namaku Naura’ yang bersampul ‘islami’ tapi tidak sama sekali
mengandung nilai – nilai ajaran agama islam ini tidak perlu dibaca kalangan
dengan ilmu agama yang masih minim, sebab dikhawatirkan bahwa novel ini akan
memberikan pemahaman yang salah terhadap umat. Namun novel ini perlu dibaca
bagi para cendekiawan muslim maupun aktivias dakwah, sebagai bahan pembelajaran
dalam rangka meluruskan yang salah.

Akhirnya ada yang sependapat dengan saya😅
BalasHapus