Sebagai apa semestinya kita bermula?
Haruskah langit dan bumi menjadi analogi?
Ah, tapi aku tidak ingin begitu May.
Aku tidak ingin menjadi bumi yang tidak pernah menyentuh langit.
Yah.. walaupun pada kenyataannya kamu benar - benar tinggal disana,
Sebagai matahari. Membakar rasaku tanpa jeda.
Atau mungkin aku ingin jadi awan saja, May.
Kamu bisa berlindung padaku ketika kamu lelah.
Ah... tapi bukankah awan bisa menjadi hujan?
Tidak. Aku tentu tidak ingin meninggalkanmu.
Lalu, sebagai apa semestinya kita bermula, May?
Kamu, lelaki yang kucintai dalam diam.
Aku, perempuan yang menantimu dalam doa.
Harus demikiankah kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar