Selasa, 17 September 2013

Pria Angin

Adaptasi #FromKandela(a.blog)


Aku hanya diam, memperhatikan Vento. Ia merapikan serpihan gelas pecah yang berhamburan diujung kakiku.

“ Kenapa kamu tidak pernah berubah? Selalu semborono. Cobalah anggun sedikit,”

“ Seperti Ges?,” serangku.

Vento mendongak. Memasang ekspresi kecut.

“ Jangan mulai lagi Alba..,”

Kutarik napas dalam – dalam. Kapan dia bisa melupakan gadis itu? Ges toh sudah jauh – jauh hari selingkuh, meninggalkan Vento. Kenapa Vento bersikeras, masih saja mengharapkannya? Gadis itu sudah bersuami, dasar bodoh!


“ Kuajak kau jalan – jalan..,”

Vento menggenggam tanganku, menarikku meninggalkan cafe. Kami berjalan menapaki hamparan pasir putih. Sesekali ombak datang dan menggelitik kaki kami yang telanjang. Diujung sana, matahari mulai menguning.. sebentar lagi akan tenggelam di telan laut.


“ Sudah berapa lama kita bersaudara?,” ujar Vento diantara deburan ombak.

“ Sepanjang umur kita, sepertinya..” kataku singkat.

Kami berdua duduk dihamparan pasir, dekat..bahkan terlalu dekat dengan laut hingga seluruh celana kami basah diterpa ombak. Tapi kami tidak peduli, ini menyenangkan. Sudah lama sekali kami tidak melakukannya. Kupenuhi paru – paruku dengan udara yang asin.


“ Hmm.. maukah kau berjanji padaku, Alba?,” Vento menatap mataku dalam – dalam.

Sungguh.. aku selalu ingin tenggelam dalam mata itu. Jika saja dia mengizinkan. Jika saja.. ah sudahlah. Aku mendengus sedih.

“ Apa?,” jawabku singkat.

“ Kamu harus berbahagia, walau tanpa aku...,” katanya lagi.

Lalu dadaku tiba – tiba menjadi sesak, mataku memanas.. butir – butir bening pun jatuh dari kedua bola mataku. Kugigit bibirku kuat – kuat.

“ Apa aku kurang bisa mencintaimu, Toto?,”

Aku menangis. Menutup wajahku dengan kedua tangan.

“ Alba ingat.. ketika Mamamu dan Papaku tinggal bersama dulu, mereka bilang apa? “

Aku menggeleng.

“kita ini saudara. Selamanya harus tetap seperti itu...,”

 Vento mengelus lembut puncak kepalaku. Sesuatu yang selalu ia lakukan jika aku sedang menangis. Biasanya dengan begitu tangisku akan langsung reda. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini.

“ Tapi kau tidak perlu seperti ini...,”

Vento memandang kepada matahari di kejauhan.

“ Aku tidak bisa mencintai gadis lain Alba.. tidak. Cuma dia.,”

Vento pun beranjak meninggalkanku, langkahnya cepat menghampiri sesosok pria tegap yang sudah menunggunya di tepi. Vento menyeringai, lalu mengecup mesra pria tersebut.


Aku berusaha tertawa, tertawa melihat keanehan hidup Vento sekarang. Dia bahkan lebih memilih hidup bersama pria tersebut. Vento bodoh! Bodoh sekali!! Haruskah hidupnya sia – sia hanya karena seorang gadis?

                Kulihat matahari. Bola emas itu telah menggelinding masuk kedalam laut. Menyisakan kegelapan yang menyeruak pada hatiku. Aku kembali mengingat percakapanku dengan Mama, satu tahun yang lalu. Sebelum Mama pergi..

“ Alba.. itu artinya fajar. Dari bahasa Italia. Dan Vento.. adalah angin. Kamu harus ingat Alba! Angin tidak pernah hadir saat fajar. Sekalipun ada, dia hanya hinggap sebentar. Sebab angin, tidak pernah berdiam. Dia akan pergi kemana pun dia suka. Kamu tidak akan bisa mencegahnya..,”

Aku mendengus. Inikah arti dari semua perkataan Mama? Fajar tidak akan pernah bisa memeluk angin? Lalu siapa yang patut aku nantikan? Matahari kah?


~...~

#FromKandeLa(a.blog)

Jadi ini rasanya jatuh cinta pada angin.

Sudah ratusan hari, aku merengkuhnya dengan kedua tanganku.

Berusaha keras menangkapnya, mengumpulkan gas-gas tersebut, lalu menyisipkannya ke dalam hati.

Nyatanya, dia tak pernah ingin kugenggam. Tak pernah ingin kugapai.

Lalu, dia kabur. Beranjak pergi tanpa permisi.

Yang ada, dia malah mengelilingiku. Mengoleksi debu, lalu membubuhkannya ke dalam mulutku. Hingga aku tersedak. Hingga aku menyesak. Lantas, dia membuang debu di sela-sela bola mataku, sampai tetesan air pun berebutan keluar dari rumahnya.

Tapi, tetap saja, setelah sejauh itu, dia meletakkan perih di sela hatiku. Angin tak pernah merengkuhku balik. Dia membiarkanku menyapa jeda, mengaguminya, lantas berlalu.

Dengan bodohnya, aku masih di sini.
Berusaha merengkuhnya.
Atau sedikitnya, menyentuhnya.
Menyentuh ingatannya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar