Pagi ini, aku
agak melankolis. Entah kenapa melihat adik sarapan pagi dengan masakanku, itu
rasanya bahagia sekali. Aneh, padahal kemarin – kemarin dia juga selalu sarapan
pagi dan aku yang menyiapkan.
Hmm...
Apa ini efek dari kebanyakan
membaca novel? Tidak tahu.
Yang
jelas aku sadar, bahwa ada kebahagiaan tersendiri setiap kali sempat bangun
pagi dan memasakkan sarapan untuknya. Yah.. walaupun masakanku biasa saja. Tapi
melihatnya tidak mengeluh kelaparan, itu sudah lebih dari cukup.
Pagi
ini, aku bergegas ke toko sayur, membeli beberapa bahan masakan untuk
sarapannya. Pukul delapan, segalanya harus siap. Jika tidak, sudah bisa
dipastikan dia akan kekampus dengan keadaan kelaparan. Dia tidak suka repot –
repot membeli sarapan di warung, itu yang jadi masalah. Masak apa saja yang
cepat dan tidak repot. Akhirnya, kuputuskan untuk menyiapkan sayur sawi bumbu
bening dan tempe goreng. Sederhana saja.
Beberapa
teman pernah bilang, bahwa sebagai adik terkadang dia terlalu banyak meminta.
Kadang aku juga merasa kalau dia terlalu manja. Hanya saja, itu membuatku
merasa dibutuhkan sebagai kakak.
Pernah
suatu ketika, saat dia minta dibelikan baju kuliah. Kupenuhi permintaannya,
lalu dia malah bertanya ‘Kakak gak beli juga?,’
kujawab ‘uangnya cuma cukup buat
beli satu setel buat kamu, kalo beli dua setel entar kita gak makan’.
Kalau sudah begitu, biasanya dia
akan bersikap alay
‘ Kakak kok perhatian banget?
jadi gak enak. Tapi gak usah deh, lain kali aja belinya..’ putusnya.
‘Ya udah kalo gak mau beli, aku
aja yang beli. Udah ditawarin gak mau,’
Gantian aku yang mulai sibuk
memilih - milih baju. Tidak benar – benar berniat membeli, hanya sekedar menggodanya.
‘ Tapi bajuku kekampus cuma sedikit.
Aku juga mau dong beli.. ya udah, aku beli deh. Kakak kan baju nya udah
banyak..,’
Kilahnya kemudian. Aku cuma tertawa.
Terkadang dia mencoba mengalah
terhadap keinginannya sendiri dan aku sangat bersyukur untuk itu. Semua karena Ibu
yang selalu mengajarkan kami, untuk mendahulukan kepentingan pihak yang lebih
butuh. Untuk saling mengalah dan tidak selalu ingin memenangkan ego masing –
masing.
Kalau sudah begitu, biasanya aku jadi
terenyuh sendiri. Beginikah bahagianya memiliki saudara?
Sering
aku berpikir, rugi sekali orang – orang yang ditakdirkan memiliki saudara tapi
malah tidak pernah saling bertegur sapa dengan saudaranya. Atau.. kasihan juga
melihat orang – orang yang terlahir sebagai anak tunggal. Mereka tidak akan
pernah tahu bagaimana rasanya ribut dengan adik. Tidak akan pernah tahu
bagaimana rasanya dimarahi kakak, tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya
mendengar adik merengek – rengek meminta sesuatu.
Fiuh.....
Aku tidak menyangka,
Kebahagiaan
nyatanya bisa saja muncul dari hal – hal kecil, bahkan melalui sarapan sederhana di
pagi ini.
:’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar