Senin, 16 September 2013

Lovely Sista

Pagi ini, aku agak melankolis. Entah kenapa melihat adik sarapan pagi dengan masakanku, itu rasanya bahagia sekali. Aneh, padahal kemarin – kemarin dia juga selalu sarapan pagi dan aku yang menyiapkan.


Hmm...
Apa ini efek dari kebanyakan membaca novel? Tidak tahu.


                Yang jelas aku sadar, bahwa ada kebahagiaan tersendiri setiap kali sempat bangun pagi dan memasakkan sarapan untuknya. Yah.. walaupun masakanku biasa saja. Tapi melihatnya tidak mengeluh kelaparan, itu sudah lebih dari cukup.


                Pagi ini, aku bergegas ke toko sayur, membeli beberapa bahan masakan untuk sarapannya. Pukul delapan, segalanya harus siap. Jika tidak, sudah bisa dipastikan dia akan kekampus dengan keadaan kelaparan. Dia tidak suka repot – repot membeli sarapan di warung, itu yang jadi masalah. Masak apa saja yang cepat dan tidak repot. Akhirnya, kuputuskan untuk menyiapkan sayur sawi bumbu bening dan tempe goreng. Sederhana saja.


                Beberapa teman pernah bilang, bahwa sebagai adik terkadang dia terlalu banyak meminta. Kadang aku juga merasa kalau dia terlalu manja. Hanya saja, itu membuatku merasa dibutuhkan sebagai kakak.


                Pernah suatu ketika, saat dia minta dibelikan baju kuliah. Kupenuhi permintaannya, lalu dia malah bertanya ‘Kakak gak beli juga?,’

kujawab ‘uangnya cuma cukup buat beli satu setel buat kamu, kalo beli dua setel entar kita gak makan’.

Kalau sudah begitu, biasanya dia akan bersikap alay

‘ Kakak kok perhatian banget? jadi gak enak. Tapi gak usah deh, lain kali aja belinya..’ putusnya.

‘Ya udah kalo gak mau beli, aku aja yang beli. Udah ditawarin gak mau,’

Gantian aku yang mulai sibuk memilih - milih baju. Tidak benar – benar berniat membeli, hanya  sekedar menggodanya.

‘ Tapi bajuku kekampus cuma sedikit. Aku juga mau dong beli.. ya udah, aku beli deh. Kakak kan baju nya udah banyak..,’

Kilahnya kemudian. Aku cuma tertawa.

Terkadang dia mencoba mengalah terhadap keinginannya sendiri dan aku sangat bersyukur untuk itu. Semua karena Ibu yang selalu mengajarkan kami, untuk mendahulukan kepentingan pihak yang lebih butuh. Untuk saling mengalah dan tidak selalu ingin memenangkan ego masing – masing.


Kalau sudah begitu, biasanya aku jadi terenyuh sendiri. Beginikah bahagianya memiliki saudara?  

                Sering aku berpikir, rugi sekali orang – orang yang ditakdirkan memiliki saudara tapi malah tidak pernah saling bertegur sapa dengan saudaranya. Atau.. kasihan juga melihat orang – orang yang terlahir sebagai anak tunggal. Mereka tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ribut dengan adik. Tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya dimarahi kakak, tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya mendengar adik merengek – rengek meminta sesuatu.


Fiuh.....
Aku tidak menyangka,
                Kebahagiaan nyatanya bisa saja muncul dari hal – hal kecil, bahkan melalui sarapan sederhana di pagi ini. 

:’)


               



Tidak ada komentar:

Posting Komentar