Kejadian spektakuler 1 :
Ketika suapan terakhir nasi
goreng berhasil masuk ke dalam perutku, tiba – tiba saja tercium bau yang tidak
sedap. Hidung kami langsung mengendus – endus dengan saksama.
“ Kayak bau tai kucing ya..,”
kata teman kosku buka suara.
Aku langsung berusaha mencari
sumber bau. Sepertinya bau itu berasal dari pintu depan. Dan ketika pintu kosan
kubuka, benar saja. Seonggok tai kucing berukuran cukup besar, bertengger manis
tepat di depan pintu masuk.
Refleks, aku berteriak dan berlari
ke kamar. Berharap ada diantara adikku atau temanku itu yang mau membersihkan kotoran
tersebut. Tapi ternyata... keduanya justru berlari menyusulku. Tidak ada yang
mau mengalah untuk bersih - bersih.
Setelah melewati perdebatan yang
cukup alot, pada akhirnya dengan berat hati aku terpaksa mengalah. Berjalan
gontai menuju pintu depan. Berbekal masker yang sudah diseprot parfum, air satu
ember serta gayung, kubersihkan juga tai kucing tersebut sambil berpikir :
‘Betapa busuknya kucing yang
sudah tega mengeluarkan eeknya didepan rumah kami, betapa hinanya kosan kami
sampai dijadikan tempat pembuangan eek oleh dia”.
Sungguh, kejadian ini menyebalkan
sekali!
Kejadian spektakuler 2:
Ketika waktu mulai menunjukkan
hampir tengah malam, kami beranjak tidur. Hujan deras diluar, menambah lelap
tidur kami.
*Kupikir, tidak akan ada lagi
momen sial lainnya setelah insiden ‘tai kucing’ tadi malam.
Nyatanya.. sekitar pukul empat
subuh, teman kos membangunkanku.
“ Ra.. aku gak ngompol lho.. tapi
kasur aku basah,” katanya dengan wajah memelas.
Aku yang sudah menduga pasti terjadi
sesuatu yang tidak beres, lebih memilih berkata dengan santai,
“ Tidur lagi aja.. ,” kataku sambil menutup wajah dengan bantal lalu melanjutkan
tidur.
Pukul lima lewat sepuluh menit,
alarm handphoneku berbunyi. Aku segera bangkit dan melemparkan selimut basah yang
menyelimuti tubuh.
Waktunya mengepel, KOSAN KAMI BANJIR!!
Aku langsung mengambil ember dan
kain pel, sibuk meraup sejumlah air yang terus saja mengalir tanpa henti ke
tiap – tiap sudut lantai kosan.
Teman kosku kemudian bangun dan
ikut membantu mengeringkan air yang menggenang.
Kulihat sejumlah pakaian bersih
(belum sempat dilipat) dilantai sudah basah kuyup. Aku mendengus geli.
“ Ra.. kok masih bisa tidur,
padahal kasur sama baju kamu udah basah banget lho?,” kata temanku sambil
tertawa.
“ Pengennya pura – pura gak sadar
sih, pura – pura banjirnya cuma mimpi. Tapi makin dibawa tidur kok malah makin
dingin.. hahaha. Terpaksa deh bangun,” jawabku juga sambil tertawa.
Dari waktu subuh sampai beberapa
jam berikutnya, kami sibuk mengepel, menjemur kasur, menjemur baju, menjemur
buku, serta benda – benda lain yang ikut terkena air banjir hasil hujan
semalam.
Aku
tidak menyangka bahwa hari jumat kami diminggu ini diwarnai hal – hal yang
tidak terduga. Sejujurnya setelah tiga tahun mendiami rumah ini, baru kali ini
kami merasakan yang namanya ‘BANJIR’ dan juga tamu ‘TAI KUCING’. Apa ini tanda –
tanda supaya kami segera cari rumah baru?hmmm...
Ketika aku menceritakan kedua
momen tersebut sama teman kelas, respon mereka adalah
“ Gila Ra.. kamu kok nyantai
banget sih jadi orang. Kalo misalnya tadi malem tu tsunami, pasti kamu mati
duluan,. Udah tau banjir bukannya bangun, malah tidur lagi,”
Lagi – lagi, aku hanya menanggapi
dengan tertawa geli.
*Ini Jumat Paling KLIWONNN...
sepanjang hidup kami dikosan ini. hahaha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar