Kamis, 15 Agustus 2013

Dongeng Sang Peri Fajar #3

#Dongeng Sang Peri Fajar 3


                Peri Fajar mendengus berat. Siang tadi pangeran maya datang lagi. Memintanya mengobati goresan luka pangeran yang masih tersisa sedikit.
Peri fajar tidak marah karena kepergian pangeran waktu itu, tidak juga marah karena kedatangan pangeran yang tiba- tiba. Peri fajar lagi – lagi hanya menyesali pekerjaannya sebagai pengobat luka. Seorang pengobat luka yang kesepian. Sebagai pengobat luka, peri fajar tidak pernah punya teman abadi. Teman abadinya hanya kesendirian.
                Tentu saja.. tiap tiap yang datang padanya, semua hanya singgah sebentar. Lalu ketika luka – luka mereka telah sembuh, mereka pergi. Pergi meninggalkan peri Fajar, kembali sendirian. Padahal peri fajar senang sekali jika saja memiliki satu orang yang bisa menemaninya dalam waktu yang panjang. Bukan yang selalu pergi ketika luka telah sembuh.
                Kali ini pun, luka pangeran telah kering. Sungguh.. sebenarnya peri fajar begitu takut. Ia tahu, pangeran maya akan pergi. Meski dulu pangeran memang sempat pergi beberapa waktu. Tapi kini, rasa takut itu semakin besar.
                Maka di tengah malam yang gulita, peri fajar pergi meninggalkan huniannya. Meninggalkan pangeran yang masih tinggal disana. Peri Fajar akan menuju negeri yang jauh, negeri dimana tidak ada siapapun yang akan meminta obat padanya. Mungkin juga dengan begitu, busuk di tubuhnya akan sembuh?
                Peri fajar menempuh perjalanan yang jauh, berhari – hari, berbulan – bulan, barulah kemudian sampai pada sebuah negeri yang baru. Negeri dimana seluruh umat manusia yang ada disana hanya meminta pengobatan pada pemilik langit. Bukan kepada peri seperti dirinya.
Peri fajar sungguh merasa bahagia. Dirinya merasakan kebebasan. Ia mengintari negeri baru itu dengan riangnya. Mensyukuri bahwasanya ketika ia pulang, tidak ada orang yang akan menunggu di depan rumah untuk diobati. Dan lagi, peri fajarpun tidak sabar.. menunggu luka – lukanya berkurang. Bukankah Sang pemilik langit selalu berkata, kalau waktu akan menyembuhkan seluruh lukanya? Ditambah lagi, peri Fajar mengistirahatkan diri dari segala yang datang. Dengan begitu, peri fajar akan cepat sembuh kan?
                Tapi sekian lama ia berkeliling negeri yang baru, pikirannya selalu kembali pada pangeran maya. Bukankah kemarin luka itu belum benar – benar sembuh ketika ia tinggalkan? Luka pangeran memang sudah kering, tapi belum mengelupas habis. Belum benar – benar bersih.
                Peri Fajar merenung sedih.. Dilihatnya danau tenang yang memantulkan bayangan bulan pada permukaan. Apa yang pangeran lakukan sekarang? Apakah ketika peri pergi, pangeran berkeliling negeri untuk mencarinya? Apakah luka pangeran semakin membesar ketika ia tinggalkan? Apakah pangeran bersedih karena tidak ada yang merawat lukanya?
Peri fajar menatap pada bulan yang bulat di permukaan air. Ia berusaha mengais air tersebut, membawa bulan dalam genggamannya. Tentu saja itu tindakan bodoh, karena yang terjadi.. peri fajar malah kebasahan.



_..._

Tidak ada komentar:

Posting Komentar