#Dongeng Sang Peri Fajar 3
Peri
Fajar mendengus berat. Siang tadi pangeran maya datang lagi. Memintanya
mengobati goresan luka pangeran yang masih tersisa sedikit.
Peri fajar tidak marah karena
kepergian pangeran waktu itu, tidak juga marah karena kedatangan pangeran yang
tiba- tiba. Peri fajar lagi – lagi hanya menyesali pekerjaannya sebagai
pengobat luka. Seorang pengobat luka yang kesepian. Sebagai pengobat luka, peri
fajar tidak pernah punya teman abadi. Teman abadinya hanya kesendirian.
Tentu
saja.. tiap tiap yang datang padanya, semua hanya singgah sebentar. Lalu ketika
luka – luka mereka telah sembuh, mereka pergi. Pergi meninggalkan peri Fajar,
kembali sendirian. Padahal peri fajar senang sekali jika saja memiliki satu
orang yang bisa menemaninya dalam waktu yang panjang. Bukan yang selalu pergi
ketika luka telah sembuh.
Kali
ini pun, luka pangeran telah kering. Sungguh.. sebenarnya peri fajar begitu
takut. Ia tahu, pangeran maya akan pergi. Meski dulu pangeran memang sempat
pergi beberapa waktu. Tapi kini, rasa takut itu semakin besar.
Maka
di tengah malam yang gulita, peri fajar pergi meninggalkan huniannya. Meninggalkan
pangeran yang masih tinggal disana. Peri Fajar akan menuju negeri yang jauh,
negeri dimana tidak ada siapapun yang akan meminta obat padanya. Mungkin juga
dengan begitu, busuk di tubuhnya akan sembuh?
Peri
fajar menempuh perjalanan yang jauh, berhari – hari, berbulan – bulan, barulah
kemudian sampai pada sebuah negeri yang baru. Negeri dimana seluruh umat
manusia yang ada disana hanya meminta pengobatan pada pemilik langit. Bukan
kepada peri seperti dirinya.
Peri fajar sungguh merasa
bahagia. Dirinya merasakan kebebasan. Ia mengintari negeri baru itu dengan
riangnya. Mensyukuri bahwasanya ketika ia pulang, tidak ada orang yang akan
menunggu di depan rumah untuk diobati. Dan lagi, peri fajarpun tidak sabar..
menunggu luka – lukanya berkurang. Bukankah Sang pemilik langit selalu berkata,
kalau waktu akan menyembuhkan seluruh lukanya? Ditambah lagi, peri Fajar
mengistirahatkan diri dari segala yang datang. Dengan begitu, peri fajar akan cepat
sembuh kan?
Tapi
sekian lama ia berkeliling negeri yang baru, pikirannya selalu kembali pada
pangeran maya. Bukankah kemarin luka itu belum benar – benar sembuh ketika ia
tinggalkan? Luka pangeran memang sudah kering, tapi belum mengelupas habis.
Belum benar – benar bersih.
Peri
Fajar merenung sedih.. Dilihatnya danau tenang yang memantulkan bayangan bulan
pada permukaan. Apa yang pangeran lakukan sekarang? Apakah ketika peri pergi,
pangeran berkeliling negeri untuk mencarinya? Apakah luka pangeran semakin
membesar ketika ia tinggalkan? Apakah pangeran bersedih karena tidak ada yang
merawat lukanya?
Peri fajar menatap pada bulan
yang bulat di permukaan air. Ia berusaha mengais air tersebut, membawa bulan
dalam genggamannya. Tentu saja itu tindakan bodoh, karena yang terjadi.. peri
fajar malah kebasahan.
_..._
Tidak ada komentar:
Posting Komentar