#Dongeng Sang Peri Fajar 4
Lalu
peri Fajar berlari cepat, menempuh perjalanan yang jauh.. untuk kembali pada
pangerannya. Kepada pangeran yang dia rasa tentu masih menunggunya di rumah.
Menunggu untuk diobati. Peri Fajar terus berlari menembus hujan yang dingin,
melewati hutan rimba yang luas.
Tak disangka, kepulangan Peri
nyatanya memang sudah dinanti oleh pangeran. Pangeran maya duduk menunggu di
depan rumah.
“ Kemana saja kamu?,” tanya nya
gusar.
Peri tersenyum. Bahagia mendapati
pangeran menunggu kedatangannya pulang. Apa pangeran merindukanku?
“ Apa luka pangeran berdarah
lagi?,” peri fajar menyentuh lengan pangeran dengan khawatir.
Kali ini, pangeran malah tersenyum
lebar.
“ Beberapa kali aku kemari
mencarimu, tapi kamu pergi. Aku.. hanya ingin menyampaikan ini,”
Pangeran menyerahkan sesuatu pada
Peri. Sehelai kertas berwarna coklat dengan ornamen yang sangat indah.
“ Apa ini?,” Peri Fajar tidak
berniat membuka gulungan kertas tersebut.
“ Undangan pernikahan, aku dan
putri negeri seberang. Aku harap kamu bisa datang..,”
Peri tertegun. Pangeran berlalu
pergi tanpa berkata – kata lagi.
Peri diam, sibuk dengan
perasaannya sendiri. Menimbang – nimbang untuk membaca atau tidak kertas
tersebut. Akhirnya kertas itu dibukanya juga.
Dilihatnya disana, lukisan
seorang putri cantik.. cantik sekali hingga siapa saja yang melihat tidak akan
merasa bosan. Putri tersebut duduk bersanding dengan pangeran Maya, tampak
serasi sekali.
Peri
Fajar tersenyum. Ia merasakan sedikit sesak dalam hati, tapi juga terselip banyak
rasa bahagia. Peri tahu.. inilah takdir yang terbaik. Sudah seharusnya pangeran
hidup bersama seseorang yang sepadan. Biar bagaimanapun juga Peri Fajar
berusaha untuk bersama pangeran, meski perasaan suka Peri Fajar begitu besar
pada pangeran, mereka jelas berbeda. Peri.. akan tetap menjadi Peri penyembuh
luka.. dengan banyak borok ditubuhnya.
Peri Fajar menatap bintang –
bintang yang bertaburan di langit. Ia tahu ia harus bisa mencintai dirinya
lebih dulu, baru berhak mencintai orang lain. Ia tahu memiliki pangeran bukan
pilihan yang tepat, kastil kerajaan bukan tempatnya. Di rumah kecil inilah
tempat terbaik baginya, sebuah rumah sederhana di tengah hutan. Rumah yang
diberikan pemilik langit padanya. Rumah sederhana bagi Peri penyebuh luka.
Ah.. Menjadi peri penyembuh luka harusnya
bukan pilihan yang buruk kan?. Peri Fajar yakin, akan ada saat baginya untuk
bahagia, nanti. Meski tentu saja bukan hari ini. Bukan kali ini, bukan dengan
pangeran Maya. Peri Fajar harus mencoba lagi.
~THEEND~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar