Kamis, 15 Agustus 2013

Dongeng Sang Peri Fajar #4

#Dongeng Sang Peri Fajar 4


                Lalu peri Fajar berlari cepat, menempuh perjalanan yang jauh.. untuk kembali pada pangerannya. Kepada pangeran yang dia rasa tentu masih menunggunya di rumah. Menunggu untuk diobati. Peri Fajar terus berlari menembus hujan yang dingin, melewati hutan rimba yang luas.
Tak disangka, kepulangan Peri nyatanya memang sudah dinanti oleh pangeran. Pangeran maya duduk menunggu di depan rumah.


“ Kemana saja kamu?,” tanya nya gusar.
Peri tersenyum. Bahagia mendapati pangeran menunggu kedatangannya pulang. Apa pangeran merindukanku?
“ Apa luka pangeran berdarah lagi?,” peri fajar menyentuh lengan pangeran dengan khawatir.
Kali ini, pangeran malah tersenyum lebar.
“ Beberapa kali aku kemari mencarimu, tapi kamu pergi. Aku.. hanya ingin menyampaikan ini,”
Pangeran menyerahkan sesuatu pada Peri. Sehelai kertas berwarna coklat dengan ornamen yang sangat indah.
“ Apa ini?,” Peri Fajar tidak berniat membuka gulungan kertas tersebut.


“ Undangan pernikahan, aku dan putri negeri seberang. Aku harap kamu bisa datang..,”
Peri tertegun. Pangeran berlalu pergi tanpa berkata – kata lagi.
Peri diam, sibuk dengan perasaannya sendiri. Menimbang – nimbang untuk membaca atau tidak kertas tersebut. Akhirnya kertas itu dibukanya juga.
Dilihatnya disana, lukisan seorang putri cantik.. cantik sekali hingga siapa saja yang melihat tidak akan merasa bosan. Putri tersebut duduk bersanding dengan pangeran Maya, tampak serasi sekali.



                Peri Fajar tersenyum. Ia merasakan sedikit sesak dalam hati, tapi juga terselip banyak rasa bahagia. Peri tahu.. inilah takdir yang terbaik. Sudah seharusnya pangeran hidup bersama seseorang yang sepadan. Biar bagaimanapun juga Peri Fajar berusaha untuk bersama pangeran, meski perasaan suka Peri Fajar begitu besar pada pangeran, mereka jelas berbeda. Peri.. akan tetap menjadi Peri penyembuh luka.. dengan banyak borok ditubuhnya.


Peri Fajar menatap bintang – bintang yang bertaburan di langit. Ia tahu ia harus bisa mencintai dirinya lebih dulu, baru berhak mencintai orang lain. Ia tahu memiliki pangeran bukan pilihan yang tepat, kastil kerajaan bukan tempatnya. Di rumah kecil inilah tempat terbaik baginya, sebuah rumah sederhana di tengah hutan. Rumah yang diberikan pemilik langit padanya. Rumah sederhana bagi Peri penyebuh luka.


Ah.. Menjadi peri penyembuh luka harusnya bukan pilihan yang buruk kan?. Peri Fajar yakin, akan ada saat baginya untuk bahagia, nanti. Meski tentu saja bukan hari ini. Bukan kali ini, bukan dengan pangeran Maya. Peri Fajar harus mencoba lagi.


~THEEND~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar