Beberapa waktu terakhir kuhabiskan waktu dengan membaca
sebuah buku yang berjudul
‘ Senyum Untuk Penulis’ karya Eka Budianta.
Buku tersebut belum selesai dibaca seluruhnya, namun sudah
kuselesaikan setengah bagian.
Berikut akan kubagi beberapa poin bagus yang kurasa bisa
untuk menambah pengetahuan para pembaca :
1. . Pesan tertulis konon hanya punya efektivias paling
tinggi 7%, jauh di bawah pesan lisan yang hampir 30%, dan tindakan langsung
yang bisa di atas 40%.
2. Modal utama bagi seorang pengarang adalah jiwa yang merdeka. Dia bergerak karena hatinya bebas, pikirannya luas, karena jiwanya leluasa.
3. Dalam sejarah perkembangan pers dunia, kita mengenal profesionalisme dan bisnis informasi murni. Kita belajar dari suksesnya Henry Luce, pendiri majalah berita TIME di Amerika Serikat. Atau raja media terkemuka Rupert Mudoch dari Australia. Atau juga sastrawan dan wartawan terkemuka Indonesia seperti Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad. Sukses mereka justru terbangun karena moralitas yang kuat. Bukan karena sogokan, amplop, apalagi tunduk pada tuntutan ‘perut’ dan rongrongan ideologi. Sejarah menunjukkan bahwa pers Indonesia bisa berfungsi dengan sangat baik, pada zaman yang abnormal, apalagi pada masa yang betul – betul demokratis dan penuh kebebasan.
4. Paling sedikit ada tiga versi penafsiran Bhineka Tunggal Ika. 1) berbeda – beda tapi sama ( disukai kalangan statusquo dan konservatif ). 2) Sama tapi berbeda- beda (disukai kalangan progresif idealis). 3) berbeda atau sama boleh saja ( didukung kalangan praktis pragmatis)
.
5. Untuk air, misalnya, kita dapat mengenali berbagai jenis serangga atau kutu air. Bila sebuah sungai masih dihuni oleh banyak satwa, tandanya masih belum terlalu tercemar. Juga bila kita masih menemukan kunang – kunang beterbangan di malam hari, tandanya kualitas udara dan air di sekitar itu masih baik. Kita bisa catat bahwa kunang – kunang sangat peka terhadap udara yang tercemar, dan hanya bisa berkembang di lingkungan yang masih serba alami. Mereka hidup sekitar 7 hingga 10 hari, mengkonsumsi embun dan bertelur di aliran sungai yang jernih.
Sedikitnya baru poin – poin itu saja
yang bisa kubagi. Masih banyak lembar – lembar berikutnya yang perlu di baca
dan digaris bawahi. Kalau sempat nanti akan di-share lagi. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar