Jumat, 14 Juni 2013

Asin

Apakah mitos ‘kalau masak sering keasinan artinya kebelet pengen nikah’ yang sering dibilang orangtua jaman dulu itu benar?

Kalo gitu.. aku kebelet kebelet kebelet banget dong pengen nikah?


Jadi pagi ini... Untuk yang kedua kalinya aku mencoba menumis daun singkong. Mencoba menyetarakan rasa tumisan itu dengan buatan Mamak dirumah.


Kali pertama, tumisan daun singkong itu sukses kemasinan. Rasa asin yang bukan sekedar asin tapi benar – benar asin!!
Kronologis cerita ‘tumis daun singkong 1’ awalnya adalah pada saat memasak, bumbu yang kumasukkan dan kucicipi terasa sudah pas. Lalu kemudian daun singkong kumasukkan kedalam bumbu. Kuaduk – aduk beberapa menit. Kuperhatikan tampilan tumisanku tersebut.

Tampak becek alias terlalu banyak kuah. Bukankah niatan awalku adalah membuat tumisan kering daun singkong? Artinya nggak pake kuah.
Maka kemudian kubiarkan tumisan tersebut di atas kompor hingga airnya benar – benar mengering.
Kupikir ketika airnya kering, rasa tumisan tersebut akan tetap sama seperti saat awal aku mencicipi.
Tapi nyatanya tidak. Tumis daun singkong tersebut masin semasin masinnya. Sedih sekali..



Dan pagi ini aku kembali mencoba membuat masakan yang sama. Kali ini tumis daun singkong kusandingkan dengan tempe goreng.

Beberapa waktu kuhabiskan didapur sambil sesekali kembali ke kamar untuk memeriksa game ‘cafeland’ yang kumainkan.

Padahal.. masakannya  sudah kucicipi, bumbunya juga sudah kutakar.
Tapi ketika kuangkat.. ketika semuanya selesai. Mengapa rasanya jadi berubah? Bukankah tadi rasanya baik baik saja? Atau.. rasa yang ‘baik – baik’ itu Cuma ilusiku saja?


Fiuh.. nggak tau deh. Apakah aku benar – benar kebelet nikah atau memang mut-mutan kalau sedang memasak.

Tapi..seandainya mitos ‘kebelet nikah’ itu  benar..  Sungguh kasihan sekali suamiku nanti.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar