Apakah mitos ‘kalau masak sering keasinan artinya kebelet
pengen nikah’ yang sering dibilang orangtua jaman dulu itu benar?
Kalo gitu.. aku kebelet kebelet kebelet banget dong pengen
nikah?
Jadi pagi ini... Untuk yang kedua kalinya aku mencoba menumis
daun singkong. Mencoba menyetarakan rasa tumisan itu dengan buatan Mamak
dirumah.
Kali pertama, tumisan daun singkong itu sukses kemasinan.
Rasa asin yang bukan sekedar asin tapi benar – benar asin!!
Kronologis cerita ‘tumis daun singkong 1’ awalnya adalah pada
saat memasak, bumbu yang kumasukkan dan kucicipi terasa sudah pas. Lalu
kemudian daun singkong kumasukkan kedalam bumbu. Kuaduk – aduk beberapa menit.
Kuperhatikan tampilan tumisanku tersebut.
Tampak becek alias terlalu banyak kuah. Bukankah niatan
awalku adalah membuat tumisan kering daun singkong? Artinya nggak pake kuah.
Maka kemudian kubiarkan tumisan tersebut di atas kompor hingga
airnya benar – benar mengering.
Kupikir ketika airnya kering, rasa tumisan tersebut akan
tetap sama seperti saat awal aku mencicipi.
Tapi nyatanya tidak. Tumis daun singkong tersebut masin
semasin masinnya. Sedih sekali..
Dan pagi ini aku kembali mencoba membuat masakan yang sama. Kali
ini tumis daun singkong kusandingkan dengan tempe goreng.
Beberapa waktu kuhabiskan didapur sambil sesekali kembali ke
kamar untuk memeriksa game ‘cafeland’ yang kumainkan.
Padahal.. masakannya sudah
kucicipi, bumbunya juga sudah kutakar.
Tapi ketika kuangkat.. ketika semuanya selesai. Mengapa rasanya
jadi berubah? Bukankah tadi rasanya baik baik saja? Atau.. rasa yang ‘baik –
baik’ itu Cuma ilusiku saja?
Fiuh.. nggak tau deh. Apakah aku benar – benar kebelet nikah
atau memang mut-mutan kalau sedang memasak.
Tapi..seandainya mitos ‘kebelet nikah’ itu benar.. Sungguh kasihan sekali suamiku nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar