Minggu, 16 Juni 2013

" Dongeng Peri Fajar "

Dongeng Sang Peri Fajar

Dahulu kala, hiduplah seorang peri bernama Fajar. Dia salah seorang peri di negeri maya. Sejak kecil, Peri ini tidak elok.. wajahnya rusak dan rupanya buruk sehingga setiap hari dia selalu memakai topeng. Sayapnya pun hanya sebelah, karena satu sayapnya sudah lama patah saat dia sibuk berlari mengejar matahari.


Jika pekerjaan peri yang lain adalah menebarkan berkat ke seluruh negeri, menebarkan bibit – bibit bunga, menebarkan warna pelangi di angkasa.. Sungguh pekerjaan Peri Fajar sangat berbeda.

                Dia punya pekerjaan khusus, yaitu merawat orang - orang yang terluka dalam perjalanan menebarkan berkat. Pekerjaan yang melelahkan, sebab cara menyembuhkan luka – luka mereka adalah dengan menghisap habis luka tersebut, dan menyimpannya dalam tubuh peri Fajar.


                Seringkali peri Fajar merasa iri, mengapa pekerjaannya tidak sebaik peri – peri yang lain? Mengapa harus dia yang menghisap habis luka – luka mereka dan membuat sesak sendiri  tubuhnya?

                Peri Fajar mencoba berontak.. dia berlari menyusuri semesta, mencari jawaban dari pemilik langit..

“ Wahai yang Agung.. mengapa harus aku? mengapa harus aku yang lelah ditimbun luka? Mengapa bukan peri – peri penebar madu saja? Mengapa harus aku? apakah karena aku terlalu buruk rupa? Kau sungguh tidak adil!!,”


Peri Fajar menangis, menangkupkan wajahnya pada tanah.

“ Apa kamu tahu, mengapa namamu ‘fajar’?,” sang pemilik langit bertanya.
Diantara sesenggukan, peri Fajar berkata – kata..

“ Tidak yang mulia...,”

“ Adalah kamu fajar.. sang pemilik jutaan harapan. Melalui fajar, begitu banyak harapan – harapan dititipkan untuk tumbuh.. mekar bersama pagi. Hanya lewat fajar.. hanya lewat kamu, harapan – harapan indah itu bisa tumbuh dan besar..,”


“ lalu.. kenapa harus aku yang menelan semua luka itu? Aku lelah Yang Mulia.. aku lelah.,”

Peri fajar menengadah ke atas langit, menuntut jawaban. Tapi Yang Mulia diam.

Peri fajar pun pulang dengan langkah gontai.

                Malam hari, datanglah sesosok pangeran. Dia begitu tampan. Peri Fajar menyambutnya dengan riang. Mereka mengobrol sebentar.

“ Dari manakah kamu berasal?,” tanya peri Fajar.

“ Aku Pangeran negeri maya.. akulah penguasa ketampanan..,”
Mendengar penuturan pangeran maya, Peri Fajar sempurna terpesona.

                Ditemaninya sang pangeran bercengkrama sambil pelan – pelan peri fajar bekerja, menyembuhkan sayap pangeran yang baru saja patah.


“ Kamu begitu baik, mau mengobati lukaku. Kalau luka – lukaku sudah sembuh.. maukah kamu terbang bersamaku? Kita seberangi bianglala.. berdua saja?,” ujar sang pangeran dengan serius.
Peri Fajar ternganga.

“ sudahlah.. tubuhku sudah ringkih oleh jutaan luka. Aku pun buruk rupa.. pangeran tentu malu bersama – sama denganku..,”
Peri Fajar khusyuk menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa pekan berlalu.. sayap sang pangeran hampir sembuh.
“ Duhai peri Fajar.. jika sayapku sembuh kali ini, bolehkah aku meminta satu hal?,”
Peri fajar tersipu malu.
“ Apakah itu pangeran?,”
“ Maukah kamu membuka topengmu untukku?,”

“ Baiklah...,”
Hari yang dinanti – nanti pun tiba.. Pangeran duduk diam dihadapan peri Fajar. Menunggu peri membuka seluruh topeng yang dia kenakan.


Ketika topeng tersibak.. tampaklah wajah peri Fajar yang busuk bernanah, coreng – moreng goresan luka memenuhi parasnya.
Pangeran Maya ketakutan.. berlari tunggang langgang meninggalkan peri Fajar sendirian.
Peri Fajar diam.. menangisi kepergian pangeran.

                Sekali lagi, peri Fajar berlari.. mengongsong semesta, kembali bertanya kepada yang Mulia..
“ Kenapa Duhai Yang Mulia.. kenapa mereka harus pergi oleh karena wajah yang buruk ini? Kenapa mereka harus pergi.. bukankah aku yang menyembuhkan luka mereka? Tidakkah mereka bisa menerima kebaikanku saja, tanpa melihat rupaku yang begini buruknya?.. kenapa yang Mulia.. kenapa?,”


“ Percayalah Fajar.. waktu akan menyembuhkan segalanya. Percayalah..,”

Begitulah jawaban Sang pemilik Langit.

“ Usap air matamu duhai Fajar. Hari baru akan datang, waktu bagimu adalah penyembuhan. Tersenyumlah duhai fajar..,”

_THEEND_


Tidak ada komentar:

Posting Komentar