Dongeng Sang Peri Fajar
Dahulu kala,
hiduplah seorang peri bernama Fajar. Dia salah seorang peri di negeri maya. Sejak
kecil, Peri ini tidak elok.. wajahnya rusak dan rupanya buruk sehingga setiap
hari dia selalu memakai topeng. Sayapnya pun hanya sebelah, karena satu sayapnya
sudah lama patah saat dia sibuk berlari mengejar matahari.
Jika pekerjaan
peri yang lain adalah menebarkan berkat ke seluruh negeri, menebarkan bibit –
bibit bunga, menebarkan warna pelangi di angkasa.. Sungguh pekerjaan Peri Fajar
sangat berbeda.
Dia
punya pekerjaan khusus, yaitu merawat orang - orang yang terluka dalam
perjalanan menebarkan berkat. Pekerjaan yang melelahkan, sebab cara
menyembuhkan luka – luka mereka adalah dengan menghisap habis luka tersebut,
dan menyimpannya dalam tubuh peri Fajar.
Seringkali
peri Fajar merasa iri, mengapa pekerjaannya tidak sebaik peri – peri yang lain?
Mengapa harus dia yang menghisap habis luka – luka mereka dan membuat sesak
sendiri tubuhnya?
Peri
Fajar mencoba berontak.. dia berlari menyusuri semesta, mencari jawaban dari
pemilik langit..
“ Wahai yang Agung.. mengapa harus
aku? mengapa harus aku yang lelah ditimbun luka? Mengapa bukan peri – peri penebar
madu saja? Mengapa harus aku? apakah karena aku terlalu buruk rupa? Kau sungguh
tidak adil!!,”
Peri Fajar menangis, menangkupkan
wajahnya pada tanah.
“ Apa kamu tahu, mengapa namamu ‘fajar’?,”
sang pemilik langit bertanya.
Diantara sesenggukan, peri Fajar berkata
– kata..
“ Tidak yang mulia...,”
“ Adalah kamu fajar.. sang
pemilik jutaan harapan. Melalui fajar, begitu banyak harapan – harapan dititipkan
untuk tumbuh.. mekar bersama pagi. Hanya lewat fajar.. hanya lewat kamu,
harapan – harapan indah itu bisa tumbuh dan besar..,”
“ lalu.. kenapa harus aku yang
menelan semua luka itu? Aku lelah Yang Mulia.. aku lelah.,”
Peri fajar menengadah ke atas
langit, menuntut jawaban. Tapi Yang Mulia diam.
Peri fajar pun pulang dengan
langkah gontai.
Malam
hari, datanglah sesosok pangeran. Dia begitu tampan. Peri Fajar menyambutnya
dengan riang. Mereka mengobrol sebentar.
“ Dari manakah kamu berasal?,”
tanya peri Fajar.
“ Aku Pangeran negeri maya.. akulah
penguasa ketampanan..,”
Mendengar penuturan pangeran
maya, Peri Fajar sempurna terpesona.
Ditemaninya
sang pangeran bercengkrama sambil pelan – pelan peri fajar bekerja,
menyembuhkan sayap pangeran yang baru saja patah.
“ Kamu begitu baik, mau mengobati
lukaku. Kalau luka – lukaku sudah sembuh.. maukah kamu terbang bersamaku? Kita seberangi
bianglala.. berdua saja?,” ujar sang pangeran dengan serius.
Peri Fajar ternganga.
“ sudahlah.. tubuhku sudah
ringkih oleh jutaan luka. Aku pun buruk rupa.. pangeran tentu malu bersama –
sama denganku..,”
Peri Fajar khusyuk menyelesaikan
pekerjaannya. Beberapa pekan berlalu.. sayap sang pangeran hampir sembuh.
“ Duhai peri Fajar.. jika sayapku
sembuh kali ini, bolehkah aku meminta satu hal?,”
Peri fajar tersipu malu.
“ Apakah itu pangeran?,”
“ Maukah kamu membuka topengmu untukku?,”
“ Baiklah...,”
Hari yang dinanti – nanti pun
tiba.. Pangeran duduk diam dihadapan peri Fajar. Menunggu peri membuka seluruh
topeng yang dia kenakan.
Ketika topeng tersibak.. tampaklah
wajah peri Fajar yang busuk bernanah, coreng – moreng goresan luka memenuhi
parasnya.
Pangeran Maya ketakutan.. berlari
tunggang langgang meninggalkan peri Fajar sendirian.
Peri Fajar diam.. menangisi
kepergian pangeran.
Sekali
lagi, peri Fajar berlari.. mengongsong semesta, kembali bertanya kepada yang
Mulia..
“ Kenapa Duhai Yang Mulia..
kenapa mereka harus pergi oleh karena wajah yang buruk ini? Kenapa mereka harus
pergi.. bukankah aku yang menyembuhkan luka mereka? Tidakkah mereka bisa
menerima kebaikanku saja, tanpa melihat rupaku yang begini buruknya?.. kenapa
yang Mulia.. kenapa?,”
“ Percayalah Fajar.. waktu akan
menyembuhkan segalanya. Percayalah..,”
Begitulah jawaban Sang pemilik
Langit.
“ Usap air matamu duhai Fajar.
Hari baru akan datang, waktu bagimu adalah penyembuhan. Tersenyumlah duhai
fajar..,”
_THEEND_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar