Senin, 17 September 2012

Luruh


Hasrat itu mulai luruh
Hanyut bersama setiap helai harapan yang sudah – sudah
Tidak ada yang perlu disesalkan, tentang  keterpesonaan perasaan
juga tentang keadaan saling meninggalkan dahulu, kala itu.

Hasrat hanyalah seperti matahari. Ia akan memancar pada waktunya, dan pergi secara seharusnya.
Lalu aku, tidak akan mau memaksanya untuk terus ada.
Biarlah nanti alam yang akan membawa serta  cinta, dalam cuaca cerah yang menentramkan jiwa.

Entah mengapa, rasanya sekarang aku hanya ingin melihat kepada kejauhan.
Kepada sebuah hari dimana aku sedang berlarian ditepi pantai, dan dia menungguku di ujung sana..
Dimana saat itu aku akan benar – benar bahagia entah dengan siapa dan seperti apa.

 Yang nyata sekarang aku terlalu bosan untuk  berputar – putar lagi, memulai lagi, dan mungkin juga mengakhiri lagi.
Aku pun tau, menunggu bukan pilihan yang tepat bagi kesejahteraan hati.

Maka biarlah kita menjadi elang. Yang bergerak bebas dan terbang kemana saja sesukanya..
Mencicipi sedikit kenikmatan di bawah sana, untuk kemudian terbang lagi.
Mencari, terus mencari keinginan sejati yang suatu hari pasti  kita temui.


Sebuah Jalan, Sebuah Pilihan


Sebuah jalan, tidak selalu lurus dan langsung mencapai tujuan. Ada kalanya kita harus melewati jalan yang penuh belokan, dan harus beberapa kali memutar barulah kemudian dapat sampai pada tujuan. Saya pikir hal itu juga berlaku pada hidup.

                Dalam beberapa waktu terakhir, saya menyadari satu hal. Adalah hal yang selama ini saya kira sudah hilang, atau mungkin sudah layu lalu tertimbun debu dalam hati saya. Tapi ternyata masih tetap hidup, dan semakin membesar pendaran cahayanya.

                Adalah tentang kecintaan saya terhadap baris – baris puisi, tentang berbagai aturan bahasa yang harus dipahami, tentang cerita – cerita pendek yang terasa begitu menyenangkan, tentang drama, tentang Rendra, tentang Chairil, juga Willy Siswanto. 

Dalam beberapa waktu terakhir, saya merasa merindukan. Pada suasana perpustakaan SMP saya dulu, tentang siang hening dalam perpustakaan temaram itu. Dan saya duduk di salah satu meja panjang di sana, tenggelam dengan beberapa buku puisi lama. Pada saat itu, saya merasa bahagia dan damai. Saya merasa berada pada sebuah dimensi waktu yang berbeda. Ketika itu, saya merasa memiliki dunia saya seutuhnya.

Lalu saya dihadapkan pada kenyataan bahwa yang menjadi pilihan saya saat ini adalah bukan sastra. Apakah kemudian saya harus menyesali dan membuang tahun – tahun berharga saya yang sudah saya lalui dengan teori-teori politik, lalu berbelok untuk menemui kembali cinta saya dalam lembaran – lembaran buku bahasa?
Saya pikir melakukan hal tersebut adalah kebodohan terbesar. Saya tentu tidak perlu menyesal. Saya ikhlas menerima ini sebagai sebuah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya. Dan tentang cinta saya itu, bukankah katanya cinta tidak harus memiliki? Mungkin cinta saya bisa menjelma seperti angin. Yang tidak terlihat, namun tetap ada dan memberi nafas bagi saya. Saya bisa hidup dengan cinta itu, belajar otodidak dengan seluruh hasrat yang saya punya.

Apabila takdir baik berpihak pada saya, mungkin suatu hari saya benar – benar bisa memilikinya. Menikmati suguhan bahasa dibawah naungan lembaga resmi yang ternama. Suatu hari, entah hari itu ada atau tidak.
Sekalipun tidak, saya akan tetap menyimpan cinta itu sebagai bagian dari hidup saya. Sebagai sebuah lentera yang menyinari dalam hati, yang pancaran cahayanya tidak boleh redup apalagi mati.

Jumat, 07 September 2012

Patah Hati


Adalah ketika saya bahkan tidak bisa menahan airmata saya. Ketika saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis saat ia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak menyukai saya. Hal pertama yang saya rasakan adalah sakit. Sakit yang terasa nyeri yang entah berasal dari mana. Saya harus menghadapi kenyataan  bahwa hari – hari yang akan saya lewatkan setelah berpisah dengannya pastilah akan menjadi hari – hari yang begitu berat. Menghabiskan waktu – waktu seorang diri tanpa dia yang biasa menemani saya.
                Saya dan dia tidak pernah putus, juga tidak pernah jadian. Kami hanya teman, ya. Saya menemaninya ketika pacarnya tidak memiliki waktu yang banyak untuknya, dan saat itu saya juga sedang dirundung duka selepas berpisah dengan teman dekat saya. Kemudian saya dan dia menjadi dekat. Banyak hal yang sudah kami lewatkan bersama, saya bahkan sempat mengurusi beberapa keperluan pribadi miliknya yang sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh seorang teman biasa.
                Kemudian hal itu berlangsung cukup lama, hingga menimbulkan perasaan tidak rela bagi saya untuk dia bersama wanita lain, mengingat dia yang memang memiliki pacar. Tapi bukankah kami memang tidak terikat ? Berulang kali saya belajar untuk mengerti mengenai posisi saya. Namun waktu sepertinya membuat saya begitu ngotot. Akhirnya saya memutuskan untuk bicara. Bukan supaya dia memilih saya, atau supaya ia dan pacarnya bisa segera putus. Saya bicara hanya untuk ketenangan dalam hati saya, agar saya tidak terlalu lama merasakan cemburu yang tidak seharusnya saya rasakan.
                Dan setelah hari itu, kami pun berpisah. Ia tidak menghubungi saya, dan saya belajar untuk berhenti menghubungi dia. Saya tau, saat – saat moving on merupakan saat yang berat untuk dilewati. Tapi saya percaya bahwa suatu hari saya akan menemukan seseorang yang baru lagi. Yang memang layak untuk saya kasihi. Meski untuk hari ini, saya tau bahwa orang itu bukan dia.

Sabtu, 04 Agustus 2012

About Love


Seperti apa sebenarnya rupa Cinta?

Saat saya menulis ini, maag saya sedang kambuh. Kalian tau apa yang saya pikirkan? Saya memikirkan bagaimana pasangan saya nanti akan merawat saya ketika suatu hari mungkin saya sakit lagi. Saya berharap benar – benar ada orang yang peduli terhadap saya, terhadap hidup saya, terhadap semua kesenangan dan kesusahan saya. Dalam sehat maupun sakit. Saya berharap sesegera mungkin menemukan sosok itu. Sosok yang benar – benar menjadikan saya wanita sempurna dalam hidupnya.

Saat ini saya jauh dari orangtua, dan saya sakit. Saya bukan tipe orang yang suka menyusahkan orang lain, terlebih teman kos. Saya lebih suka susah sendiri jika sedang sakit begini. Yang terpikirkan bagi saya saat ini bukan bagaimana teman kos mampu merawat saya. Tapi bagaimana sakit ini cepat sembuh. 

Semoga saya segera sehat, amin.

Kamis, 12 Juli 2012

Luka Kecil


Agaknya  saya sempat merasa kehilangan. Entah perasaan seperti apa itu, tapi rasanya tidak enak sekali. Saya merasa bahwa  ada hal yang telah diambil dari hati saya. 

Mungkin benar  yang oleh sebagian orang bilang bahwa ini semua hanyalah tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Entah hari ini, besok, atau lusa. Kita semua akan saling meninggalkan, oleh karena takdir, atau karna kita yang sudah tidak mampu lagi untuk saling menemani.

Tapi segala hal yang telah pergi, tentu akan digantikan lagi. Oleh seseorang yang baru, oleh takdir yang baru, dan tentang cerita hidup yang baru. Sebab nyatanya bukan hidup yang menghidupkan kita, tapi kita yang menghidupkan hidup. Dengan segala yang bisa kita lakukan sebelum akhir penutupan.

Seperti beberapa kali, seseorang hadir dalam hati saya. Membuat saya bahagia, tapi tidak jarang kemudian membuat saya menangis. Saya menangis karena orang itu terlalu saya inginkan untuk tetap ada bersama saya, saya menangis karena saya akan terlalu bahagia jika saya bisa bersamanya.

Namun kemudian tidak ada satu pun yang bisa bertahan lama bersama saya. Kami berpisah, lalu saya kesepian dan terluka. Saya pun bersedih tentang ketidakbahagiaan yang saya alami. Tentang luka berpisah yang terasa begitu sakit. Namun luka itulah yang kemudian membuat saya mengerti bahwa ; inilah hidup. 

Beginilah hidup. 

Dan luka itu biasa, hanya luka kecil saja.
 Saya tidak akan mati karenanya.

Senin, 09 Juli 2012

Holla !!! i am come back !


Bagaimana bisa saya melewatkan satu bulan dengan tidak memposting apapun dalam blog ini? (HA??)
Ckckck...
Mohon maaf pembaca, sepertinya saya agak sok sibuk akhir – akhir ini.
Jadi sekarang di bulan juli, saya kembali lagi mengisi kesepian laman posting di blog saya.  Horeee...

Satu bulan tidak mengunjungi blog ini , membuat saya harus sedikit mengepel dan membersihkan beberapa sisi blog, karna sudah tampak agak berdebu.
Oh ya...saya baru saja menyelesaikan ujian akhir semester di bulan juni kemarin. Mungkin itu bisa saya jadikan alasan untuk break sejenak dari blog ya...
Sebenarnya ini sudah masuk masa liburan panjang bagi kami para mahasiswa, tapi tidak bagi saya. Saya harus mengejar ketertinggalan beberapa mata kuliah yang harus saya ikuti di semester pendek tahun ini. Alhasil saya kehilangan masa liburan saya.
Tapi tidak  apa –apa , toh ini penting untuk masa depan saya kan?
                Akhir – akhir ini entah mengapa saya menjadi lebih sering memikirkan tentang jodoh. Bisa jadi karna pada oktober nanti saya akan genap 20 tahun, dan saya belum juga punya pacar. Woww...
Saya selalu bertanya – tanya, kapankah waktu yang tepat yang telah dirancang Tuhan untuk pertemuan saya dengan jodoh saya? Saya merasa pertemuan itu masih sangat lama sekali. Sedangkan ada kalanya saya menjadi terlalu cengeng dalam menghadapi beberapa masalah kecil, yang membuat saya kemudian mengkhayalkan tentang sosok seseorang yang bisa meminjamkan bahunya untuk tempat saya menangis.

                Beberapa orang melihat saya sebagai seorang gadis yang tidak butuh ( atau mungkin belum merasa butuh) pasangan. Tapi itu mungkin dulu, ketika saya sudah terlalu banyak kecewa dan takut untuk memulai lagi.

                Sekarang, dalam penantian panjang saya tentang jodoh, bolehkah saya berharap pada Tuan agar saya segera dipertemukan dengan Mr. Right? Saya merasa begitu sepi dan lelah dengan kesendirian saya. Mungkin tampak lebay, tapi memang begitulah keadaannya.

                Ketika kekesalan saya memuncak, saya sempat bilang pada teman dekat saya bahwa sepertinya tahun ini saya harus punya Pacar. Entah dia lebih muda, sepertinya itu tidak lagi jadi masalah bagi saya. Asal gak jelek – jelek banget lah.. setidaknya saya masih mau melihat wajah pasangan saya. Hahaha..

                Tampak menyedihkan ya, terlalu berharap. Ketika saya sedang tidak menginginkan pasangan seperti satu tahun yang lalu, justru hadir beberapa orang yang mau mengisi posisi itu. Namun sekarang ketika saya mencari, entah kenapa pasaran jadi tampak begitu sepi. Hahaha.. Hidup ini memang aneh, ..