Adalah ketika saya bahkan tidak bisa menahan airmata saya.
Ketika saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis saat ia mengatakan
kepada saya bahwa ia tidak menyukai saya. Hal pertama yang saya rasakan adalah
sakit. Sakit yang terasa nyeri yang entah berasal dari mana. Saya harus
menghadapi kenyataan bahwa hari – hari
yang akan saya lewatkan setelah berpisah dengannya pastilah akan menjadi hari –
hari yang begitu berat. Menghabiskan waktu – waktu seorang diri tanpa dia yang
biasa menemani saya.
Saya
dan dia tidak pernah putus, juga tidak pernah jadian. Kami hanya teman, ya.
Saya menemaninya ketika pacarnya tidak memiliki waktu yang banyak untuknya, dan
saat itu saya juga sedang dirundung duka selepas berpisah dengan teman dekat
saya. Kemudian saya dan dia menjadi dekat. Banyak hal yang sudah kami lewatkan
bersama, saya bahkan sempat mengurusi beberapa keperluan pribadi miliknya yang
sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh seorang teman biasa.
Kemudian
hal itu berlangsung cukup lama, hingga menimbulkan perasaan tidak rela bagi
saya untuk dia bersama wanita lain, mengingat dia yang memang memiliki pacar.
Tapi bukankah kami memang tidak terikat ? Berulang kali saya belajar untuk
mengerti mengenai posisi saya. Namun waktu sepertinya membuat saya begitu
ngotot. Akhirnya saya memutuskan untuk bicara. Bukan supaya dia memilih saya,
atau supaya ia dan pacarnya bisa segera putus. Saya bicara hanya untuk
ketenangan dalam hati saya, agar saya tidak terlalu lama merasakan cemburu yang
tidak seharusnya saya rasakan.
Dan
setelah hari itu, kami pun berpisah. Ia tidak menghubungi saya, dan saya
belajar untuk berhenti menghubungi dia. Saya tau, saat – saat moving on
merupakan saat yang berat untuk dilewati. Tapi saya percaya bahwa suatu hari
saya akan menemukan seseorang yang baru lagi. Yang memang layak untuk saya
kasihi. Meski untuk hari ini, saya tau bahwa orang itu bukan dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar