Senin, 17 September 2012

Sebuah Jalan, Sebuah Pilihan


Sebuah jalan, tidak selalu lurus dan langsung mencapai tujuan. Ada kalanya kita harus melewati jalan yang penuh belokan, dan harus beberapa kali memutar barulah kemudian dapat sampai pada tujuan. Saya pikir hal itu juga berlaku pada hidup.

                Dalam beberapa waktu terakhir, saya menyadari satu hal. Adalah hal yang selama ini saya kira sudah hilang, atau mungkin sudah layu lalu tertimbun debu dalam hati saya. Tapi ternyata masih tetap hidup, dan semakin membesar pendaran cahayanya.

                Adalah tentang kecintaan saya terhadap baris – baris puisi, tentang berbagai aturan bahasa yang harus dipahami, tentang cerita – cerita pendek yang terasa begitu menyenangkan, tentang drama, tentang Rendra, tentang Chairil, juga Willy Siswanto. 

Dalam beberapa waktu terakhir, saya merasa merindukan. Pada suasana perpustakaan SMP saya dulu, tentang siang hening dalam perpustakaan temaram itu. Dan saya duduk di salah satu meja panjang di sana, tenggelam dengan beberapa buku puisi lama. Pada saat itu, saya merasa bahagia dan damai. Saya merasa berada pada sebuah dimensi waktu yang berbeda. Ketika itu, saya merasa memiliki dunia saya seutuhnya.

Lalu saya dihadapkan pada kenyataan bahwa yang menjadi pilihan saya saat ini adalah bukan sastra. Apakah kemudian saya harus menyesali dan membuang tahun – tahun berharga saya yang sudah saya lalui dengan teori-teori politik, lalu berbelok untuk menemui kembali cinta saya dalam lembaran – lembaran buku bahasa?
Saya pikir melakukan hal tersebut adalah kebodohan terbesar. Saya tentu tidak perlu menyesal. Saya ikhlas menerima ini sebagai sebuah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya. Dan tentang cinta saya itu, bukankah katanya cinta tidak harus memiliki? Mungkin cinta saya bisa menjelma seperti angin. Yang tidak terlihat, namun tetap ada dan memberi nafas bagi saya. Saya bisa hidup dengan cinta itu, belajar otodidak dengan seluruh hasrat yang saya punya.

Apabila takdir baik berpihak pada saya, mungkin suatu hari saya benar – benar bisa memilikinya. Menikmati suguhan bahasa dibawah naungan lembaga resmi yang ternama. Suatu hari, entah hari itu ada atau tidak.
Sekalipun tidak, saya akan tetap menyimpan cinta itu sebagai bagian dari hidup saya. Sebagai sebuah lentera yang menyinari dalam hati, yang pancaran cahayanya tidak boleh redup apalagi mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar