Minggu, 11 Mei 2014

I Am A Popular Writer, ASAP!!

      Aku hanya ingin menulis. Menumpahkan beberapa ratus kalimat supaya kegelisahan di kepalaku agak sedikit berkurang. Supaya kemampuan menulisku bisa sedikit lebih baik. Supaya suatu hari, novelku bisa diterima penerbitan.

      Aku tengah menganalisis karya – karyaku yang tempo hari yang sudah ditolak penerbitan. Aku benar – benar menemuka kekurangan fatal dalam karyaku. Kekurangan itu tidak tampak bagi orang awam, tapi pasti terlihat sangat jelas bagi orang – orang yang punya kemampuan berbahasa yang baik (seperti orang penerbitan). Kekurangan itu lah yang setiap hari berusaha ku perbaiki, namun entah sudah berhasil atau belum.

      Aku belum mampu menyusun paragraf – paragraf secara padu. Ide – ide pada setiap paragraf tidak saling mendukung, tidak saling melengkapi. ‘Mereka’ seolah – olah hidup dalam dunia mereka masing – masing yang oleh penulis bodoh malah berusaha dipersatukan. Ide – ideku berhamburan. Banyak sekali runtut peristiwa yang tidak padu, tapi berusaha dipadukan.

      Aku tidak pintar melakukan ‘deskripsi’. Kalimat – kalimatku terlalu ‘aku’. Terlalu menekankan ego si tokoh utama, tanpa memedulikan deskripsi keadaan sekitar. Padahal deskripsi sangat perlu dilakukan supaya pembaca bisa berimajinasi tentang suasana tempat yang menjadi setting cerita.

      Aku merasa bodoh. L Ilmu menulisku sangat cetek. L Bagaimana bisa novelku diterima penerbitan, kalau karangannya saja tidak tersktruktur dengan baik? Bagaimana bisa memunculkan ‘ruh’ karangan, kalau menyusun kepaduan paragraf saja masih sulit? L

      Aku bingung. Aku sudah berlatih menulis setiap hari. Aku sudah membaca banyak karangan orang lain. Tapi masih saja terasa sulit. L

      Aku berencaa kuliah bahasa indonesia selepas lulus nanti. Aku tidak tahu apakah itu benar – benar akan kulakukan atau tidak. Hanya saja.. aku sangat ingin memperbaiki kualitas karyaku. Aku ingin punya karya yang indah. Seperti karya – karya Dewi Dee Lestari, seperti karya Tere Liye, atau J.K Rowling.

Aku ingin bisa berdeskripsi dengan baik, seperti mereka. Bisa punya paragraf – paragraf padu, seperti mereka. Bisa mengembangkan imajinasi sedemikian bebasnya, seperti mereka.


Aku tidak mau kalah, aku tidak ingin menyerah. Aku tetap mau jadi penulis. Titik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar