Aku hanya ingin menulis. Menumpahkan
beberapa ratus kalimat supaya kegelisahan di kepalaku agak sedikit berkurang.
Supaya kemampuan menulisku bisa sedikit lebih baik. Supaya suatu hari, novelku
bisa diterima penerbitan.
Aku tengah menganalisis karya – karyaku yang
tempo hari yang sudah ditolak penerbitan. Aku benar – benar menemuka kekurangan
fatal dalam karyaku. Kekurangan itu tidak tampak bagi orang awam, tapi pasti
terlihat sangat jelas bagi orang – orang yang punya kemampuan berbahasa yang
baik (seperti orang penerbitan). Kekurangan itu lah yang setiap hari berusaha
ku perbaiki, namun entah sudah berhasil atau belum.
Aku
belum mampu menyusun paragraf – paragraf secara padu. Ide – ide pada setiap
paragraf tidak saling mendukung, tidak saling melengkapi. ‘Mereka’ seolah –
olah hidup dalam dunia mereka masing – masing yang oleh penulis bodoh malah
berusaha dipersatukan. Ide – ideku berhamburan. Banyak sekali runtut peristiwa
yang tidak padu, tapi berusaha dipadukan.
Aku tidak pintar melakukan ‘deskripsi’.
Kalimat – kalimatku terlalu ‘aku’. Terlalu menekankan ego si tokoh utama, tanpa
memedulikan deskripsi keadaan sekitar. Padahal deskripsi sangat perlu dilakukan
supaya pembaca bisa berimajinasi tentang suasana tempat yang menjadi setting
cerita.
Aku merasa bodoh. L Ilmu menulisku sangat cetek. L Bagaimana bisa novelku
diterima penerbitan, kalau karangannya saja tidak tersktruktur dengan baik? Bagaimana
bisa memunculkan ‘ruh’ karangan, kalau menyusun kepaduan paragraf saja masih
sulit? L
Aku bingung. Aku sudah berlatih menulis
setiap hari. Aku sudah membaca banyak karangan orang lain. Tapi masih saja
terasa sulit. L
Aku berencaa kuliah bahasa indonesia
selepas lulus nanti. Aku tidak tahu apakah itu benar – benar akan kulakukan
atau tidak. Hanya saja.. aku sangat ingin memperbaiki kualitas karyaku. Aku
ingin punya karya yang indah. Seperti karya – karya Dewi Dee Lestari, seperti
karya Tere Liye, atau J.K Rowling.
Aku ingin bisa berdeskripsi
dengan baik, seperti mereka. Bisa punya paragraf – paragraf padu, seperti
mereka. Bisa mengembangkan imajinasi sedemikian bebasnya, seperti mereka.
Aku tidak mau kalah, aku tidak
ingin menyerah. Aku tetap mau jadi penulis. Titik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar