Barusan jam sebelas siang tadi, aku jalan ke Dinas Kehutanan, wawancara dikit sama Pak Arwindo tentang Rehabilitasi Hutan dan Lahan dalam rangka skripsi.
Lucu sih, tiba - tiba pas baru nyampe langsung diomongin sama Ibu Uni..
" Ini nih Pak.. kalo mau cari calon mantu, orang Bangka juga..," kata Ibu itu sama salah satu Bapak yang juga berada di ruangan yang sama dengan kami
" Anak nya kerja di Timah lho nak..," kata Ibu itu lagi, padaku.
Aku cuma bisa tersenyum lebar.
Lucu, karena sekarang obrolannya bukan lagi tentang pacar apalagi gebetan.
Sekarang sudah mengarah kepada calon pendamping hidup.
Hmm....
Jadi ingat sama kegilaan teman - teman SMA ku, setiap kali aku pulang ke rumah, pasti yang mereka lakukan adalah menjodoh - jodohkanku dengan salah satu teman dekat kami.
Bukannya gak mau sih,
Cuma sekarang aku sedang berusaha menghargai prinsip,
Prinsip untuk memantaskan diri lebih dulu sebelum bertemu jodoh,
Prinsip untuk tidak menerima lelaki yang tidak siap menikah, karena itu sama saja artinya dengan buang - buang waktu.
Yang rugi nanti kan aku juga.
Ya Rabb, kuatkan ikhtiar ini ya... jangan biarkan hatiku patah lagi gara - gara perasaan yang tidak jelas.
Kuatkan aku untuk menanti yang jelas saja, nanti. Pada saatnya.
Senin, 09 Desember 2013
Sabtu, 07 Desember 2013
Mungkin
Mungkin saya memang orang yang tidak pandai bersyukur.
Mungkin juga penyakit hati ini terlampau banyak sampai sulit diobati,
Mungkin... saya merasa milik orang lain selalu lebih indah.
Kenapa?
Saya pikir, ini mungkin karena saya selalu sulit mendapatkan apa pun yang saya mau.
Mungkin tidak seperti mereka.
Yah, saya busuk. Hati saya busuk. :'(
Mungkin juga penyakit hati ini terlampau banyak sampai sulit diobati,
Mungkin... saya merasa milik orang lain selalu lebih indah.
Kenapa?
Saya pikir, ini mungkin karena saya selalu sulit mendapatkan apa pun yang saya mau.
Mungkin tidak seperti mereka.
Yah, saya busuk. Hati saya busuk. :'(
Jumat, 06 Desember 2013
Jaga Jarak ya...
Jangan pernah membuat orang lain tidak nyaman ya.. karena perhatian kamu yang berlebihan.
Ingatkah? kalian bukan siapa - siapa.
Kalian cuma dua orang asing yang mencoba mempercepat ikatan jodoh. Padahal tidak ada yang tau tentang takdir yang Maha Kuasa?
Ingat ya.. ketika kamu menyukai seseorang, jaga hatimu agar tidak menyakitinya dengan perhatian yang berlebihan itu, jaga hatimu agar tidak membuatnya risih.
Jaga jarakmu.. agar perempuan itu tetap pada kesuciaannya, sampai datang jodoh padanya.
Mungkin lebih baik, menjaga cintamu itu adalah dengan mendoakannya.
Mendoakan si perempuan mendapat imam yang soleh, mendoakan dia tetap pada ketetapan agamanya, Selalu dalam lindungan Tuhan.
Bukankah begitu lebih baik?
Ingatkah? kalian bukan siapa - siapa.
Kalian cuma dua orang asing yang mencoba mempercepat ikatan jodoh. Padahal tidak ada yang tau tentang takdir yang Maha Kuasa?
Ingat ya.. ketika kamu menyukai seseorang, jaga hatimu agar tidak menyakitinya dengan perhatian yang berlebihan itu, jaga hatimu agar tidak membuatnya risih.
Jaga jarakmu.. agar perempuan itu tetap pada kesuciaannya, sampai datang jodoh padanya.
Mungkin lebih baik, menjaga cintamu itu adalah dengan mendoakannya.
Mendoakan si perempuan mendapat imam yang soleh, mendoakan dia tetap pada ketetapan agamanya, Selalu dalam lindungan Tuhan.
Bukankah begitu lebih baik?
Kamis, 05 Desember 2013
Pagi, Tuan E.D
Benar sekali.
Berharap kamu berubah, lalu meninggalkan kebebasanmu dalam 'pacaran', itu sepertinya hal yang mustahil.
Aku ingat, kamu selalu bilang bahwa debaran rasa akan lebih menggila ketika dua orang yang berpacaran saling menyentuh.
Kapan pikiran kotor itu bisa segera bersih, Mas?
Bukankah Tuhan kita tidak pernah menganjurkan kita untuk bersenang - senang secara tidak halal seperti itu?
Kamu selalu bilang kalau lebih baik jujur mengenai hal - hal seperti itu, daripada menjadi orang munafik yang berusaha mengekang nafsu.
Mengapa pikiranmu harus seperti itu?
Kita tentu sudah sama - sama punya banyak dosa, mengapa harus kita tambah lagi?
Allah kita tidak pernah mengajurkan perbuatanmu itu. Kamu tahu itu haram kan?
Dan aku tidak pernah tahu, berapa banyak wanita yang sudah kamu cicipi di luar sana.
Ah.. andai saja kamu tahu. Betapa aku menyayangimu.. Sungguh berharap kamu bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kita nanti.
Tapi sejauh ini aku pun sadar, toh alasan kita berpisah karena aku tidak suka dengan segala sentuhan itu sedang kamu menuntut.
Sekian hari aku pun mengerti, mungkin kamu bukan imam bagi 'kami'.
Tapi sungguh, aku sangat berharap Allah meneteskan hidayah dalam hatimu.
Membuatmu lebih menghargai kesucian dirimu sendiri, membuatmu lebih menghargai tubuh - tubuh para wanita yang tidak seharusnya kamu gerayangi.
Selalu berharap Allah menyertai setiap langkahmu, Mas..
Berdoa semoga Allah menyegerakan segala yang terbaik untukmu.
Terus mendoakanmu dari sini. :)
Berharap kamu berubah, lalu meninggalkan kebebasanmu dalam 'pacaran', itu sepertinya hal yang mustahil.
Aku ingat, kamu selalu bilang bahwa debaran rasa akan lebih menggila ketika dua orang yang berpacaran saling menyentuh.
Kapan pikiran kotor itu bisa segera bersih, Mas?
Bukankah Tuhan kita tidak pernah menganjurkan kita untuk bersenang - senang secara tidak halal seperti itu?
Kamu selalu bilang kalau lebih baik jujur mengenai hal - hal seperti itu, daripada menjadi orang munafik yang berusaha mengekang nafsu.
Mengapa pikiranmu harus seperti itu?
Kita tentu sudah sama - sama punya banyak dosa, mengapa harus kita tambah lagi?
Allah kita tidak pernah mengajurkan perbuatanmu itu. Kamu tahu itu haram kan?
Dan aku tidak pernah tahu, berapa banyak wanita yang sudah kamu cicipi di luar sana.
Ah.. andai saja kamu tahu. Betapa aku menyayangimu.. Sungguh berharap kamu bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kita nanti.
Tapi sejauh ini aku pun sadar, toh alasan kita berpisah karena aku tidak suka dengan segala sentuhan itu sedang kamu menuntut.
Sekian hari aku pun mengerti, mungkin kamu bukan imam bagi 'kami'.
Tapi sungguh, aku sangat berharap Allah meneteskan hidayah dalam hatimu.
Membuatmu lebih menghargai kesucian dirimu sendiri, membuatmu lebih menghargai tubuh - tubuh para wanita yang tidak seharusnya kamu gerayangi.
Selalu berharap Allah menyertai setiap langkahmu, Mas..
Berdoa semoga Allah menyegerakan segala yang terbaik untukmu.
Terus mendoakanmu dari sini. :)
Resensi Novel Islami 'Namaku Naura' : 'Pesan' yang Menyesatkan Umat
‘Pesan’
yang Menyesatkan Umat
( Oleh Zara Oktavia)
Judul Novel : Namaku Naura
Pengarang : Alfina Dewi
Penerbit : Diva Press
Tebal Hal : 464 Halaman
Tahun Terbit : 2012
Mengangkat
tema mengenai kehidupan rumah tangga yang islami, Alfina dewi menyodorkan
sebuah novel berjudul ‘Namaku Naura’. Tokoh utama dalam novel ini yaitu Naura
Dewi, seorang gadis cantik dan soleha, yang jatuh cinta kepada sesosok ustad
muda yang tampan, soleh, anggota legislatif, sekaligus putra seorang kiai
terpandang bernama Muhammad Fariza. Namun sayang sekali, cinta Naura agaknya
menjadi rumit sebab sang Ustad nyatanya sudah beristri dan memiliki dua orang
anak. Namun siapa sangka, dalam keadaan rumah tangga Fariz yang kurang
harmonis, ustad muda tersebut pun jatuh hati pada Naura. Naura dirasa
memberikan napas baru bagi diri Fariz. Seiring berjalannya waktu, perasaan
keduanya semakin membuncah. Hal ini kemudian berujung pada sebuah pernikahan
diam – diam antara Fariz dan Naura, tentu tanpa izin istri pertama. Sejak hari
pernikahan tersebut, dimulailah perjuangan panjang seorang Naura Dewi dalam
mempertahankan cinta serta agamanya. Novel ini berusaha menyampaikan pesan
tentang ketabahan dan kesabaran seorang wanita soleha yang berjuang dalam garis
takdir pahit dan manis yang sudah digariskan Tuhan. Mengamanatkan perjuangan seorang
wanita dalam mendidik anak – anaknya, juga memperjuangkan cinta dalam hatinya.
Menggunakan
sudut pandang orang pertama, Alfina Dewi agaknya berhasil membawa pembaca ke
dalam suasana pondok pesantren milik Naura yang teduh dan menenteramkan. Penulis
mampu menggambarkan dengan baik keadaan lingkungan tempat si tokoh Naura
tinggal, sehingga pembaca seakan – akan ikut serta merasakan tinggal di sana. Alfina
Dewi juga mampu membangun keterkaitan emosi antar tokoh secara syahdu.
Namun
sayang sekali, pesan ‘islami’ yang menjadi ‘sampul’ dari novel ini hanya sebuah
pesan yang kosong. Diibaratkan sebuah buku, novel ‘Namaku Naura’ hanyalah
sebuah buku bersampul cantik, tanpa isi yang bermanfaat. Wajah islam hakiki yang
berusaha ditampilkan penulis dalam buku ini, nyatanya hanya pepesan kosong.
Alfina Dewi justru menyesatkan pemahaman pembaca melalui beberapa adegan yang
ia tulis.
Berikut petikan isi novel ‘Namaku
Naura’ yang menyimpang, tertera di bawah ini:
Mata kami saling menatap
sepenuh rasa, sepenuh kangen, rindu, sayang, cinta, seolah semua rasa yang ada
di dada kami terwakili oleh tatapan mata kami. Dia mendekatiku. Napasku
kutahan, bibirku kugigit... dan tangannya meraih kedua tanganku, pelan
diletakkannya ke dadanya. Tanganku merasakan degup jantungnya.
“ Aku tidak bisa
mengungkapkannya, Dik..biar kau sendiri yang merasakannya.”
Diraihnya kepalaku ke
dadanya. Aku tak bisa lagi mendefinisikan rasaku. Yang kurasa hanya
melayang. Di dadanya yang kokoh aku begitu damai dalam lembut rengkuhannya.
(Hal 49 dan 50)
Perlu diketahui bahwa pada adegan
tersebut diatas, Ustad Fariz belumlah sah menjadi suami dari Naura Dewi. Ditambah
lagi, Ustad Fariz masih beristri dan perilaku yang mereka perbuat diatas sama
saja dengan berselingkuh. Keduanya bukan muhrim, namun keduanya bermesra –
mesraan secara berlebihan. Padahal jelas dalam islam, hal yang dilakukan diatas
sangat dilarang.
Sebuah hadits menyatakan:
“Janganlah salah seorang dari
kalian berkhalwat (berdua di suatu tempat tanpa ada orang lain) dengan seorang
wanita tanpa ada mahram wanita tersebut karena setan menjadi yang ketiga di
antara mereka berdua” (Hadits Riwayat Ahmad).
Novel
berjudul ‘Namaku Naura’ yang bersampul ‘islami’ tapi tidak sama sekali
mengandung nilai – nilai ajaran agama islam ini tidak perlu dibaca kalangan
dengan ilmu agama yang masih minim, sebab dikhawatirkan bahwa novel ini akan
memberikan pemahaman yang salah terhadap umat. Namun novel ini perlu dibaca
bagi para cendekiawan muslim maupun aktivias dakwah, sebagai bahan pembelajaran
dalam rangka meluruskan yang salah.
Senin, 02 Desember 2013
You
Dan aku akan menemukanmu,
Hei lelaki yang menunggu tanpa jeda.
Yang tidak menghabiskan 'waktu menunggu' sambil mencicipi wanita lainnya.
Dan aku akan menemukanmu,
Seseorang yang mendambaku sebagai teman baiknya, teman hidupnya, teman mainnya, teman tidurnya, teman ibadahnya..
Tidak pernah aku berpikir untuk membagimu dengan yang lain.
Apa salahnya aku memiliki mu saja? Apa salahnya kamu memilikiku saja?
Aku toh tidak memilih yang lain sebelum datang, kamu...
Tapi entah bagaimana caraku tahu, bahwa itu kamu??
Hei lelaki yang menunggu tanpa jeda.
Yang tidak menghabiskan 'waktu menunggu' sambil mencicipi wanita lainnya.
Dan aku akan menemukanmu,
Seseorang yang mendambaku sebagai teman baiknya, teman hidupnya, teman mainnya, teman tidurnya, teman ibadahnya..
Tidak pernah aku berpikir untuk membagimu dengan yang lain.
Apa salahnya aku memiliki mu saja? Apa salahnya kamu memilikiku saja?
Aku toh tidak memilih yang lain sebelum datang, kamu...
Tapi entah bagaimana caraku tahu, bahwa itu kamu??
Sedih
Sedihnya itu ketika udah bangun jam 3 lewat 40 menit,
Udah kumur - kumur dan mau wudhu..
Lalu tiba - tiba sadar kalo lagi datang bulan.
Sedih.... Nyesel udah berapa hari ninggalin tahajud, berapa hari gak baca yasin, ninggalin solat hajat.
Sedih banget lah... Kalo lagi pengen gini, pas lagi datang bulan itu rasanya ngeselin banget.
Dulu aja heboh bahagia kalo lagi dapet.
Tapi nyesel juga percuma sih...
Terpaksa nunggu lah, minggu depan baru bisa solat malem lagi. :'(
Jadi buat kamu yang masih dikasih waktu, sempet - sempetin deh ya.. Entar kalo udah gak sempet, nyesel lho.
Udah kumur - kumur dan mau wudhu..
Lalu tiba - tiba sadar kalo lagi datang bulan.
Sedih.... Nyesel udah berapa hari ninggalin tahajud, berapa hari gak baca yasin, ninggalin solat hajat.
Sedih banget lah... Kalo lagi pengen gini, pas lagi datang bulan itu rasanya ngeselin banget.
Dulu aja heboh bahagia kalo lagi dapet.
Tapi nyesel juga percuma sih...
Terpaksa nunggu lah, minggu depan baru bisa solat malem lagi. :'(
Jadi buat kamu yang masih dikasih waktu, sempet - sempetin deh ya.. Entar kalo udah gak sempet, nyesel lho.
Langganan:
Postingan (Atom)
