Kamis, 08 November 2012

Nelangsa


Tadi malam adalah malam yang akan saya kenang seumur hidup saya.
Kejadian yang membuat Saya kemudian mengerti, bahwa hidup memang keras dan saya harus tangguh dalam menghadapi badai.

Segalanya bermula karena keadaan ekonomi keluarga yang tengah goyang. Kemampuan finansial saya tidak mendukung untuk tetap tinggal di kosan kami sekarang. Maka saya dan Adik memutuskan untuk pindah.
Dengan bantuan seorang teman, saya menemukan kosan kamar yang harganya sangat miring. Kamar tersebut hendak ditinggalkan pemiliknya yang sudah tidak punya hajat hidup lagi di daerah tempat saya kuliah. Maka karena kami akan meneruskan kontrakan pemilik tersebut, saya bisa mendapatkan harga sangat miring.

Saya sudah mengabari Ibu tentang kabar baik ini, Ibu sangat senang dan mendukung untuk segera pindah. Saya dan pemilik kamar sudah deal. Saya pun sudah mengabarkan juga pada pemilik rumah kalau saya yang akan meneruskan kamar pemilik sebelumnya. Pemilik rumah tidak keberatan kalau kamar tersebut kami tempati berdua dengan adik.

Saya pun berkunjung ke rumah tersebut untuk menyerahkan uang kontrakan. Setibanya disana, saya mendapati ekspresi wajah pemilik kamar yang tampak tidak nyaman.

Saya bertanya ada apa dengannya. Lalu dia bilang bahwa ketiga pemilik kamar yang lain dirumah itu (kamar dirumah tersebut ada empat, salah satunya yang hendak saya dan adik tinggali) meminta untuk rembug masalah pergantian pemilik kamar.

Saya pun menuruti kemauan pemilik kamar. Saya dan adik menghadap ketiga penghuni rumah yang lain. Sejauh – jauh pembicaraan kami, ketiganya menyampaikan keberatan saya dan adik untuk tinggal oleh karena dirasa mereka kurang nyaman. Mereka juga menyalahkan pemilik kamar bahwa seharusnya pemilik kamar meminta izin pada mereka lebih dulu jika hendak ganti pemilik.

Saya tanya, letak keberatan mereka dari sisi mana?
Toh yang bayar adalah saya, pemilik rumah juga sudah setuju saya yang akan menghuni kamar tersebut bersama adik. Begitu pun pemilik kamar. Saya pikir memang yang punya andil disini adalah izin dari pemilik rumah, dan deal dari saya dan pemilik kamar sebelumnya?

Lalu mereka bilang keberatan mereka adalah karena sulit menjemur baju jika ada penambahan penguni rumah. Saya jawab bahwa kami bisa menumpang di tempat lain jika memang disini tidak muat untuk menjemur pakaian. Mereka menjawab lagi bahwa mereka tidak nyaman karena kondisi yang jadi berlima. Dirasa terlalu penuh. Saya bilang bahwa jika mereka terganggu kami bisa tetap tinggal diam dikamar saja.
Ketiga pemilik kamar yang lain tetap ngotot bahwa kami tidak bisa diterima disitu.
Adik mendesak untuk pulang dan mengakhiri perdebatan ini. Saya mencoba untuk ngotot mengingat keadaan orangtua yang menuntut kami untuk hemat.

Adik menahan airmata agar tidak tumpah ruah disana.


Saya dan pemilik kamar serta adik memilih untuk berdiskusi bertiga di luar rumah. Pemilik kamar  menyatakan ketidaksukaannya atas perlakuan tiga pemilik kamar yang lain. Dia pikir kamar itu adalah hak nya, dan dia berhak memilih siapa saja yang akan meneruskan kamar tersebut. Terlebih pemilik rumah juga sudah memberi izin.

Saya tidak bisa menahan airmata saya, didepan pemilik kamar airmata saya tumpah ruah. Betapa hidup begini sulit. Orang – orang tersebut adalah keluarga sesuku sendiri, tapi mereka bahkan tidak mau mengerti tentang keadaan ekonomi yang tengah mendesak saya. Mereka tidak mau membantu.

Pemilik kamar meminta maaf dengan sangat atas perlakuan tidak menyenangkan dari tiga pemilik kamar yang lain. Pertemuan pertama yang sangat tidak menyenangkan, membuat saya memutuskan untuk urung pindah kesana. Saya membayangkan satu tahun ke depan yang begitu berat jika saya tetap ngotot untuk tinggal.

Pemilik kamar juga merasa kecewa , sebab rezeki baginya yang sudah di depan mata, terpaksa tertahan oleh karena alasan ketidaknyamanan tiga orang tersebut yang ia rasa terlalu dibuat - buat.

Akhirnya, saya dan adik memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan kami tidak bisa berhenti menangis. Saya sangat terluka. Rasanya saya begitu terhina. Belum pernah saya menangis begini banyak.

Saya membayangkan Ibu yang kecewa tidak bisa mendapat kos yang murah, membayangkan ia yang akan menangis nelangsa jika tau anak – anak nya menerima perlakuan begini buruk.

Dalam hati saya berdoa,
Semoga Tuhan mengangkat derajat kami diatas orang – orang tersebut.
Saya tahu Tuhan Maha Adil. Tuhan akan memberi balasan dengan hidup yang lebih berat bagi mereka suatu hari nanti. Saya percaya itu.

Minggu, 04 November 2012

Kasta


Sebenarnya agak sedikit basi untuk membahas hal ini..Tapi saya hanya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman saya beberapa waktu yang lalu.

Waktu itu satu minggu sebelum lebaran idul adha, adik saya ngotot ingin mudik ke rumah orangtua. Tapi saya bilang bahwa saya tidak punya uang untuk ongkos. Adik begitu ngotot, dan akhirnya berangkatlah kami dengan uang pas – pasan.

Berhubung uang tidak cukup untuk kelas eksekutif, kami terpaksa memilih kelas ekonomi. Oh iya.. dari Palembang menuju Bangka kami menggunakan kapal cepat.

Beginilah keadaan kelas ekonomi di kapal yang patut anda ketahui:

Bangku - bangku plastik di foto di atas bisa jadi digunakan sebagai bangku tambahan saat penumpang kelas ekonomi tengah membludak.
 Kursi yang keras .

Foto diatas adalah foto adik saya yang tengah ngantuk berat dengan banyak barang bawaan disekitarnya.


Penumpang di kelas ekonomi kebanyakan adalah bapak – bapak dengan fashion jadul maksimal. Kelas ekonomi berada di teras kapal, tanpa AC, dan suara mesin kapal yang besar yang memekakkan telinga.
Saya harus agak sedikit berteriak untuk bicara dengan adik saya. Say mencoba menikmati keadaan dengan mendengarkan lagu lewat earphone handphone sampai kuping saya terasa sakit.
Adik saya mengeluhkan tubuhnya yang  pegal – pegal akibat tidur di kursi kapal yang keras. Saya hanya bisa meringis menanggapi keluhannya.
Anda tau sebenarnya perasaan saya saat itu? Lucu, ya.. saya merasa lucu dengan keadaan seperti itu.
Tapi sepersekian detik kemudian saya harus menenggelamkan wajah saya dalam – dalam karena malu. Gara – garanya?  saya berniat memesan tiket bus pelabuhan menuju rumah dengan pramugari kapal. Sebenarnya saya sudah menanyakan terlebih dahulu kalau saya menginginkan tiket bus, bukan travel. Tapi kemudian saya syok, karena tiket bus habis dan yang tersisa cuma tiket travel. Uang saya dan adik kurang 20ribu? Rasanya saya ingin bunuh diri pada saat itu.
Bapak ( yang tidur di foto diatas ) tersenyum – senyum geli sembari melihat pada kami.
Saya malu setengah mati. Terpaksa saya mengembalikan lagi tiket tersebut kepada pramugari kapal dan bilang ‘ Gak jadi deh Mbak’. Mbak pramugari menatap saya dengan pandangan mengerti, sedih juga mungkin, melihat beberapa lembar rupiah yang sudah saya pegang untuk saya berikan, tapi ternyata tidak cukup. Saya memasukkan kembali lembaran rupiah itu ke dalam tas dengan perasaan nyesek dan malu. Saya memasang ekspresi datar agar tidak terlihat terlalu menyedihkan.
Sebuah kenyataan yang ada adalah betapa hidup sudah dikotak – kotakkan, kasta ada dimana – mana.
Bahkan pada sebuah kapal : VIP, Eksekutif, Ekonomi ( kami di kasta paling rendah ).

Saat itu juga saya mengerti bahwa uang memiliki tempat yang tinggi di atas banyak hal. 

Saat itu juga saya berjanji kalau setidak – tidaknya saya harus  sejahtera di masa depan , supaya saya tidak perlu menanggung malu lagi lain kali.
Dan anda tau, apa yang dikatakan adik saya?
“ Yuk, balik dari rumah nanti.. gimanapun caranya : kita harus naik VIP!!!”
Saya mengamini.

Kami kemudian naik bus yang mangkal di pelabuhan, lalu melanjutkan naik angkot hingga sampai ke rumah.
Kami pun bercerita tentang pengalaman memalukan itu pada seisi rumah.

Hasilnya? Kami dapat dua tiket VIP untuk kembali lagi ke Palembang selepas lebaran. Hahahaha...
Setidak – tidaknya saya bisa mendongakkan kepala dengan luar biasa, bergabung dengan bule dan cina – cina elit di kelas eksklusif mereka. Betapa bahagianya!

 (Satu hal yang saya sayangkan, saya tidak sempat memfoto kelas VIP beserta bule dan cina - cina itu ). Tapi yang jelas, di VIP kami mendapatkan fasilitas kursi yang nyaman, AC yang dingin, dan kue - kue yang manis, ^_^


Kamis, 01 November 2012

Be Free

Hari ini saya berusaha membebaskan diri dari berbagai kekesalan.
Terkadang hidup terlalu rumit untuk selalu kita pusingkan..

Hari ini saya belajar menikmati setiap ketidakjelasan dalam hidup secara menyenangkan.

Hari ini saya juga mengingat lagi tentang novel saya yang belum selesai di edit ( kapan selesainya? haahaha)



Saya berharap hidup akan terlihat indah dan terasa jauh lebih indah ke depan.
Saya ingin mengirimkan semua beban hidup yang tidak penting ke neraka.


Mulailah belajar berbahagia !

Damn

Ketika saya bahkan seperti tidak berhak untuk memiliki pikiran saya sendiri..
Ketika saya tidak berhak punya amarah..
Ketika anda bahkan memaksakan rasa anda pada saya? anda tidak tau itu sangat menyiksa?
Itu menyebalkan..
saya ingin pergi dari semuanya,
dari tiap - tiap hal menyebalkan yang hendak mematikan jiwa saya.


Saya bahkan tidak berhak cemberut ketika saya kesal?
Kenapa saya harus selalu tersenyum terhadap beberapa orang?
Ketika saya bahkan tidak boleh punya suara yang terlalu KERAS.

Lalu, buat apa saya?

Kamis, 18 Oktober 2012

Dia

Harus berapa banyak airmata yang saya keluarkan, untuk menangisi dia?


Seharusnya mata ini lelah, seperti hati yang selalu sakit.

Saya tidak butuh yang lain untuk mengobati ini, saya hanya ingin dia.

Jangan salahkan saya jika hari ini saya mengecewakan perasaan anda,

seperti dia yang membuang semua rasa yang saya berikan seluruhnya.


Saya tampak bodoh, dan menyedihkan.
Hanya itu yang tampak sekarang..


Biar saya menangis lagi.. biar saya tampak semakin bodoh.

Karna saya memang bodoh,
Saya bodoh.

" Sepupu "


Hari ini, saya mau nulis apa ya?
Hmm....

Mungkin saya mau berbagi foto saja ya! foto anak Bibi saya yang imut sekali ( menurut saya )..


Sebenarnya saya agak takut menaruh foto ‘Adil’ disini..takut ada yang niat nyulik... ( tapi gak ada kan?? Jangan coba – coba ya! )

Buat saya, Adil  itu lucu.. 

Pertama kali saya bertemu dia pada waktu lebaran Idul Fitri bulan agustus kemarin.. Kebetulan kami sekeluarga berkunjung ke rumah Bibi.

Saya memang jarang pulang kerumah, berhubung saya kuliah di luar pulau. Jadi sodara - sodara yang lain udah sering liat Adil, saya malah baru ketemu pertama kali.. miris ya..

En then.. ini foto Adill..




 wajahnya oriental kan.. ( mungkin seperti saya juga? Hahaha).

Saya membayangkan, bisa jadi wajah anak saya nanti sebelas dua belas ( maksud saya ; setipe ) dengan Adil .. Lucu ya?? pacar aja gak punya, malah mikirin anak ! hahahhahaha
Tapi satu hal yang saya sayangkan.. Sepertinya ketika saya bertemu dengannya lagi ( nanti ), Adil pasti sudah besar.


Yah..resiko jarang pulang ya..ckckck


Jumat, 12 Oktober 2012

CLBK ( Cerita Lama, Belum Kelar )


Masih ingat sama tokoh William, di postingan saya bulan agustus tahun 2011?

Hmm..beberapa masalah pada saat itu memang membuat kami ( dia deh kayaknya) memutuskan untuk berhenti berhubungan. Berhenti memberi kabar.

Saat itu, saya galau. Rasanya sakit sekali ditinggalkan olehnya... atau lebih tepatnya ; dia berniat meninggalkan saya ( tapi kami toh memang tidak pacaran?). Ya, mungkin dia berniat menjauh dari saya. Dia bilang kalau dia capek, karena saya yang cuek dan tidak bisa bersikap manis padanya.

Saya tau saya yang salah pada saat itu, saya tau saya yang kurang ajar. Saya yang tidak tau diri. Saya yang sok cantik.. Seharusnya saya tidak boleh memintanya untuk tetap tinggal pada waktu itu, mengingat semua sakit hati yang sudah saya berikan padanya.

Tapi sebenarnya, pada saat itu saya sudah berniat untuk menerimanya sebagai pacar. Karena waktu baginya untuk menunggu saya memang terlalu lama. Saya juga terlalu banyak menyakiti dia. Nyatanya kemudian dia yang sudah lelah dengan semua sikap saya.

Beberapa minggu saya habiskan untuk meminta maaf padanya, yang tidak digubris.. Akhirnya saya menyerah. Saya pikir, mungkin memang saya yang terlalu egois. Bagaimana bisa saya memintanya tidak menjauhi saya, sedangkan dia sudah begitu sakit hati?

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk tidak mengganggu dia lagi. Tidak menghubungi dia sama sekali. Ia pun memang benar – benar hidup dalam dunia nya sendiri.

Sampai akhirnya suatu hari, salah seorang teman dekat William meng –add saya di facebook. Saya mengkonfirmasi ajakan tersebut.  Beberapa kali kami sempat chating. Saya pikir dia orang yang asik untuk diajak bicara.

Kemudian kami bertukar nomor handphone. Dia menjadi teman cerita saya tentang banyak cerita sehari – hari yang biasa, tapi menyenangkan untuk dibahas. Sesekali pada saat yang sama, saya menghubungi William. Menanyakan kesibukannya, dan lain sebagainya. William pun tampak sudah semakin santai dengan sakit hati nya yang kemarin. Saya bisa menangkap aura move on ketika kami bercakap – cakap ditelepon. Dia sudah menganggap saya sebagai teman biasa, dan katanya dia sudah memaafkan saya. Tapi tentu saja dia ingin kami tetap menjadi teman.

Saya terima, sebab pada saat itu saya memang sedang dekat dengan seseorang di kampus ( Ya! saya memang jahat).
Sampai suatu malam, teman William datang berkunjung ke rumah saya. Bersama William dan teman – teman mereka yang lain. William bahkan tidak tau kalau temannya ( teman saya juga ) akan membawanya ke kediaman keluarga saya. Mungkin itu tampak seperti kejutan kecil baginya. Seingat saya, kunjungan itu pada Agustus kemarin. Ketika saya mudik ke rumah orangtua.

Saya lihat dia tampak berbeda, dengan penampilan dan pembawaan yang lebih dewasa. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun ( Lebay deh! Cuma Dua tahun), kami bisa berbicara secara langsung. Bukan lewat telepon atau sms lagi.

Malam itu, dia mengingatkan saya lagi, tentang janjinya dulu ketika hari kelulusan kami di SMA.
Dia bilang dia ingin memberikan satu hadiah, untuk kenang – kenangan sebelum kami berpisah jarak. Sayangnya saat lulus SMA dulu, dia sakit hati karna ulah saya ( lagi ), maka hal itu tidak segera ia tunaikan.
Barulah dua tahun setelahnya, ia bisa memenuhi janji .

Tepatnya tanggal 10 oktober kemarin, sebuah paket mampir ke kosan saya. Waktu itu saya masih dikampus, jadi adik saya yang menerima paket tersebut.

Di tengah kelelahan sepulang kuliah, saya membuka paket. Sebenarnya tanpa dibuka pun saya sudah tau isinya. Hahahahha... karna ia sudah menanyakan lebih dulu tentang apa yang saya inginkan di ulang tahun saya nanti, tanggal 4 oktober. Saya bilang saya menginginkan sebuah buku kumpulan puisi karangan Moammar Emka yang berjudul ‘ Dear You ‘, yang tidak mampu saya beli ( Entah mengapa saya tidak pernah bisa – akhirakhir ini- menyisakan uang untuk membeli buku ).wkwkwkwkkwkwkwk.

Saya berniat memposting foto buku tersebut, akan tetapi handphone saya sepertinya eror lagi ( padahal baru dibeli beberapa bulan yang lalu- aneh).

Saya kira Ia akan menyertakan buku tersebut dengan beberapa potongan kalimat romantis .. tapi ternyata dia bahkan tidak menulis apa – apa..

Dia hanya mengirimkan buku itu, dengan setangkai bunga.

Saya tidak tau entah apa nama bunga itu. Tapi William bilang bahwa itu bunga abadi, yang tidak akan layu. Diambilnya dari gunung ketika ia mendaki.

Saya tidak tau apakah ini romantis ataukah aneh atau norak dan lain sebagainya..

Tapi saya pikir bunga itu cukup membuat saya...hm... ( apa ya? ) mungkin cukup membuat saya senang. Saya kira makna bunga itu cukup besar.

Kata adik saya ‘ William gak butuh ngomong banyak dan panjang lebar. Cukup bunga itu yang ngasih tau semuanya, hahahahaha ‘.. begitu katanya menggoda saya.

Saya sebenarnya tidak terlalu memusingkan lagi tentang hubungan ini. Kami toh baik – baik saja dengan keadaan seperti ini. Lagi pula, kebebasan masih menjadi milik saya. Entah ia masih memiliki perasaan itu atau tidak.

Tapi Saya sempat bertanya padanya tentang hal itu, dan dia bilang bahwa dia hanya berharap saya akan menemukan orang terbaik bagi hidup saya. Dan untuk saat sekarang adalah bukan waktu yang tepat baginya...

Terlepas dari itu semua, saya senang.. mendapati masih ada orang yang peduli pada saya. Itu saja. Untuknya yang memberi cerita berbeda bagi hidup saya, Sekian. ^_^