Jumat, 12 Oktober 2012

CLBK ( Cerita Lama, Belum Kelar )


Masih ingat sama tokoh William, di postingan saya bulan agustus tahun 2011?

Hmm..beberapa masalah pada saat itu memang membuat kami ( dia deh kayaknya) memutuskan untuk berhenti berhubungan. Berhenti memberi kabar.

Saat itu, saya galau. Rasanya sakit sekali ditinggalkan olehnya... atau lebih tepatnya ; dia berniat meninggalkan saya ( tapi kami toh memang tidak pacaran?). Ya, mungkin dia berniat menjauh dari saya. Dia bilang kalau dia capek, karena saya yang cuek dan tidak bisa bersikap manis padanya.

Saya tau saya yang salah pada saat itu, saya tau saya yang kurang ajar. Saya yang tidak tau diri. Saya yang sok cantik.. Seharusnya saya tidak boleh memintanya untuk tetap tinggal pada waktu itu, mengingat semua sakit hati yang sudah saya berikan padanya.

Tapi sebenarnya, pada saat itu saya sudah berniat untuk menerimanya sebagai pacar. Karena waktu baginya untuk menunggu saya memang terlalu lama. Saya juga terlalu banyak menyakiti dia. Nyatanya kemudian dia yang sudah lelah dengan semua sikap saya.

Beberapa minggu saya habiskan untuk meminta maaf padanya, yang tidak digubris.. Akhirnya saya menyerah. Saya pikir, mungkin memang saya yang terlalu egois. Bagaimana bisa saya memintanya tidak menjauhi saya, sedangkan dia sudah begitu sakit hati?

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk tidak mengganggu dia lagi. Tidak menghubungi dia sama sekali. Ia pun memang benar – benar hidup dalam dunia nya sendiri.

Sampai akhirnya suatu hari, salah seorang teman dekat William meng –add saya di facebook. Saya mengkonfirmasi ajakan tersebut.  Beberapa kali kami sempat chating. Saya pikir dia orang yang asik untuk diajak bicara.

Kemudian kami bertukar nomor handphone. Dia menjadi teman cerita saya tentang banyak cerita sehari – hari yang biasa, tapi menyenangkan untuk dibahas. Sesekali pada saat yang sama, saya menghubungi William. Menanyakan kesibukannya, dan lain sebagainya. William pun tampak sudah semakin santai dengan sakit hati nya yang kemarin. Saya bisa menangkap aura move on ketika kami bercakap – cakap ditelepon. Dia sudah menganggap saya sebagai teman biasa, dan katanya dia sudah memaafkan saya. Tapi tentu saja dia ingin kami tetap menjadi teman.

Saya terima, sebab pada saat itu saya memang sedang dekat dengan seseorang di kampus ( Ya! saya memang jahat).
Sampai suatu malam, teman William datang berkunjung ke rumah saya. Bersama William dan teman – teman mereka yang lain. William bahkan tidak tau kalau temannya ( teman saya juga ) akan membawanya ke kediaman keluarga saya. Mungkin itu tampak seperti kejutan kecil baginya. Seingat saya, kunjungan itu pada Agustus kemarin. Ketika saya mudik ke rumah orangtua.

Saya lihat dia tampak berbeda, dengan penampilan dan pembawaan yang lebih dewasa. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun ( Lebay deh! Cuma Dua tahun), kami bisa berbicara secara langsung. Bukan lewat telepon atau sms lagi.

Malam itu, dia mengingatkan saya lagi, tentang janjinya dulu ketika hari kelulusan kami di SMA.
Dia bilang dia ingin memberikan satu hadiah, untuk kenang – kenangan sebelum kami berpisah jarak. Sayangnya saat lulus SMA dulu, dia sakit hati karna ulah saya ( lagi ), maka hal itu tidak segera ia tunaikan.
Barulah dua tahun setelahnya, ia bisa memenuhi janji .

Tepatnya tanggal 10 oktober kemarin, sebuah paket mampir ke kosan saya. Waktu itu saya masih dikampus, jadi adik saya yang menerima paket tersebut.

Di tengah kelelahan sepulang kuliah, saya membuka paket. Sebenarnya tanpa dibuka pun saya sudah tau isinya. Hahahahha... karna ia sudah menanyakan lebih dulu tentang apa yang saya inginkan di ulang tahun saya nanti, tanggal 4 oktober. Saya bilang saya menginginkan sebuah buku kumpulan puisi karangan Moammar Emka yang berjudul ‘ Dear You ‘, yang tidak mampu saya beli ( Entah mengapa saya tidak pernah bisa – akhirakhir ini- menyisakan uang untuk membeli buku ).wkwkwkwkkwkwkwk.

Saya berniat memposting foto buku tersebut, akan tetapi handphone saya sepertinya eror lagi ( padahal baru dibeli beberapa bulan yang lalu- aneh).

Saya kira Ia akan menyertakan buku tersebut dengan beberapa potongan kalimat romantis .. tapi ternyata dia bahkan tidak menulis apa – apa..

Dia hanya mengirimkan buku itu, dengan setangkai bunga.

Saya tidak tau entah apa nama bunga itu. Tapi William bilang bahwa itu bunga abadi, yang tidak akan layu. Diambilnya dari gunung ketika ia mendaki.

Saya tidak tau apakah ini romantis ataukah aneh atau norak dan lain sebagainya..

Tapi saya pikir bunga itu cukup membuat saya...hm... ( apa ya? ) mungkin cukup membuat saya senang. Saya kira makna bunga itu cukup besar.

Kata adik saya ‘ William gak butuh ngomong banyak dan panjang lebar. Cukup bunga itu yang ngasih tau semuanya, hahahahaha ‘.. begitu katanya menggoda saya.

Saya sebenarnya tidak terlalu memusingkan lagi tentang hubungan ini. Kami toh baik – baik saja dengan keadaan seperti ini. Lagi pula, kebebasan masih menjadi milik saya. Entah ia masih memiliki perasaan itu atau tidak.

Tapi Saya sempat bertanya padanya tentang hal itu, dan dia bilang bahwa dia hanya berharap saya akan menemukan orang terbaik bagi hidup saya. Dan untuk saat sekarang adalah bukan waktu yang tepat baginya...

Terlepas dari itu semua, saya senang.. mendapati masih ada orang yang peduli pada saya. Itu saja. Untuknya yang memberi cerita berbeda bagi hidup saya, Sekian. ^_^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar