Beberapa minggu terakhir saya di serang demam ‘ Habibie Ainun
‘..
Meskipun saya belum menonton film tersebut, dan baru membaca
60 halaman novelnya ( itupun meminjam dari teman ), saya merasa terenyuh oleh
kisah cinta beliau berdua.
Saya bisa merasakan kecintaan Pak Habibie yang begitu besar
terhadap Ibu.
Saya menahan airmata agar tidak menangis melihat potongan
wawancara Pak Habibie di Youtube, wawancara saat 10 hari sepeninggal Ibu Ainun.
Pak Habibie tampak begitu terpukul oleh kepergian Ibu, namun pada saat yang
sama juga menunjukkan wajah keterpesonaan dan kebahagiaan saat mengingat kisah
pertemuan dan perjuangan hidup keduanya.
Perasaan dan cerita keduanya terasa begitu natural,
Benar – benar seperti dijodohkan oleh takdir. Tidak salah
kalau pak Habibie menyebut cinta mereka suci dan abadi. Karena sejak awal
memang tidak pernah hadir orang lain dalam hidup mereka, kecuali Ibu Ainun bagi
Pak Habibie dan Pak Habibie bagi Ibu Ainun.
Saya pikir film ini benar – benar mampu memberi motivasi
untuk seluruh generasi muda Indonesia, untuk menata hidup dengan baik seperti
yang keduanya lakukan.
Film ini juga insyaallah menjadi sumbangsih yang berharga
bagi bangsa Indonesia, seperti yang memang dicita – citakan keduanya.
Sedikit membandingkan kisah cinta keduanya dengan gaya
pacaran anak muda jaman sekarang.
Betapa sudah banyak nilai – nilai luhur
budaya timur serta nilai – nilai keagamaan yang sudah terkikis dan menipis
dalam pergaulan sehari – hari.
Jikapun bisa memilih, mungkin saya lebih suka hidup di jaman
mereka, ketimbang jaman sekarang.
Sekalipun hidup
sekarang lebih mudah dan lebih bebas, namun budaya hidup orang dulu jauh lebih
baik ketimbang jaman sekarang.
Ya.. Banyak hal yang sudah berubah seiring
jaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar