Dan kau bakar cintaku jadi abu,
Selepasnya, kau penggal rindu – rindu yang kau anggap nila,
Dalam tubuhmu yang katanya tak punya dosa!
Aku benci bibirmu,
Dari sana lahir jutaan dusta.
Tidakkah kau malu pada titik – titik duka yang telah
kumuntahkan,
Terhadap pengharapan kosong yang kau janjikan?
Aku benci senyummu,
itulah belati tajam,
mengorek koreng busuk dalam dada.
Makin dalam, makin runyam.
Makin busuk..
Lalu pecah!
Kupenggal hatiku yang bernanah,
Biar mati, biar hilang, biar hangus, biar tiada.
Dan kau masih saja mengaku tak punya dosa?
Biadab!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar