Senin, 28 April 2014

Skejul

Selamat pagi!

Hari ini, aku berencana menyebarkan kuesioner kepada pegawai - pegawai di Dinas Kehutanan.

Padahal cuma mau nyebarin kuesioner aja, tapi rasanya deg-degan banget.
Aku suka gak enakan sih.. takut kalau - kalau keberadaanku mengganggu pekerjaan mereka.

Tapi mau gimana lagi? kalo aku gak nyari data, ntar skripsinya gak kelar - kelar.

Mudah-mudahan orang Dinas pada welcome ya hari ini. Doakan akooohhh!!!! :)


Minggu, 27 April 2014

Efek Media Sosial



Bertahun - tahun aku aktif sebagai pengguna jejaring sosial. Baru akhir - akhir ini aku mikir, kalau ternyata media sosial ini lebih bisa mengembangkan sifat jelek dalam diriku ketimbang membawa perkembangan yang baik.

Biar kujabarkan satu- satu apa saja dampak negatif media sosial buatku:

1. Aku sering lupa waktu. Kalo udah ngobrol sama teman di facebook atau twitter, biasanya aku akan memundurkan jadwal untuk kegiatanku yang lain. Padahal yang kita obrolin pun sering gak penting. Bahkan kalo aku lagi gila sama game di facebook, aku bisa menghabiskan waktu berjam - jam cuma demi meningkatkan level dalam game (asli, gak penting).

2. Aku jadi lebih sering ngatain orang. Misalnya nih, aku nemu status orang yang 'gak ngena' di hati, atau status yang kesannya lumayan 'alay'. Itu biasanya aku pasti bakal langsung mikir jelek tentang orang tersebut, aku pasti akan langsung mengeluarkan komentar pedas (bohong deh kalo lo gak pernah ngalamin hal yang sama?)

3. Aku jadi mudah iri hati. Iri hatinya ya setiap kali lihat teman dapat sesuatu yang katakanlah 'keren', maka terbersit sedikit rasa iri di dalam hati; kenapa aku gak begitu?
Contoh ya.. ada temennya temenku yang sekarang lanjut kuliah di Jepang. Aku jadi sirik; kok aku gak gitu juga? (padahal aku tahu kalo rejeki orang itu beda-beda, kenapa lagi aku harus iri?). Yang paling sering bikin sirik yahh... kalo liat foto - foto teman yang lagi liburan. Wah,, itu tingkat iri dan dengki pasti bakal langsung meningkat tajam.

4. Kita dibentuk jadi orang yang suka pamer. Apa aja kita ceritain di media sosial. Ya handphone baru, ya rumah baru, ya kamera baru, ya pacar baru, ya penghargaan baru. Kita jadi berlomba - lomba pengen jadi yang paling hebat di media sosial. Kita berusaha memperlihatkan apa saja yang kita punya. Apa saja yang bisa jadi kebanggan buat kita. Sampai - sampai kita lupa; ini udah masuk kategori menyombongkan diri. 
(Media sosial yang paling mendukung sifat ini tentu saja instagram). Fiuh..

5. Kita jadi suka memata - matai hidup orang lain. Kita jadi lebih suka membesar-besarkan aib orang lain (atas nama 'gosip terhangat di med-sos). Kita jadi orang yang bertambah busuk dari hari ke hari.


Media sosial bikin kita lebih banyak dosa, ya gak sih?
(Buktinya sekarang udah semakin marak kejahatan yang awal mulanya dari media sosial kayak penipuan, pembunuhan, penculikan,dll)

Media sosial bikin kita (sedikit banyak) mulai membanding - bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Padahal sekali lagi, jalan hidup masing - masing orang kan beda - beda? 

Setiap kali aku menggunakan media sosial, sebenarnya aku selalu berusaha untuk mengembangkan sisi positif dari media sosial. Walapun tetap saja, dampak negatif pada akhirnya akan muncul.

Penggunaan media sosial secara positif olehku yaitu:

1. Media sosial kugunakan untuk menulis. Mengembangkan pemikiran - pemikiran dan memublikasikan beberapa karya yang belum sempat muncul di media cetak.

2. Media sosial kugunakan untuk memeroleh informasi terkait kuliah, dunia tulis - menulis, serta berita dari dalam dan luar negeri.

3. Media sosial kugunakan untuk bertukar kabar dengan teman yang sudah jarang ditemui. Media sosial mendekatkan kami yang jauh.

Tu kan.. kayaknya efek negatifnya lebih besar kan ketimbang yang positif?


Beberapa hari ini, setiap kali aku buka facebook atau twitter.. entah kenapa aku jadi gak enak sendiri.

Aku baca status orang - orang satu persatu. Semua orang 'disana' pada mengeluh, ada yang berbahagia di media sosial, menangis di media sosial, bahkan berdoa pun di media sosial.

Benarkah media sosial nantinya akan menggeser posisi Tuhan?

(Oh God... mengerikan sekali).



Maka dari itu, dalam beberapa waktu terakhir, aku berusaha mengurangi interaksi di media sosial.

Aku mau memperbaiki diri aja lah sekarang.

Sibuk buka media sosial rasa - rasanya sama kayak sibuk ngurusin hidup orang, sedangkan hidupku sendiri aja belum bener.

Ampun Tuhan. :(










Dongen Mahasiswi Krisis

#DongengMahasiswiKrisis

Kasihan aja sih sama Adek yang merasa rugi besar setelah mengikuti seminar hari ini.
Dia kira, itu seminar tentang tutorial make-up plus bagi - bagi make-up dari wardah.
Ya wajar lah ya dia mikir gitu, bayar seminarnya aja 100 Ribu.

Seumur - umur aku kuliah pun, gak pernah ada tuh seminar 'asik' ala kampus yang biayanya segede seminar kali ini (sepengetahuanku sih).
Bahkan stand up komedi RADITY DIKA yang diselenggarakan di kampus pun biayanya cuma 35ribu...

Sampe rumah sore tadi, dia langsung terkulai lemas mengingat ongkos yang dia keluarkan menuju hotel tempat seminar juga mencapai 100ribu.

Jadi hari ini, dia resmi menghabiskan uang 200 ribu untuk sebuah seminar yang bahkan dia gak ngerti sama sekali karena itu bukan 'konsentrasi' keilmuannya.

Aku ikut sebel. (Solidaritas lah atas kesialan dia)

Ikut sebel sama pihak penyelenggara yang terkesan agak 'mengaburkan' tema seminar. 
Miris juga sama dia yang gak dapet infomasi yang jelas.

Yang paling miris adalah:
Kok ada seminar kampus yang biayanya sampe 100ribu? biasanya juga gak pake bayar.

Atau kita nya yang terlanjur miskin, duit 200 ribu aja diributin?

Atau mahasiswa sekarang udah pada kaya sampai duit 200 ribu di akhir bulan jadi kayak daun - daun gugur?

Gak ngerti deh. -_-

Tapi kalo dipikir-pikir, 200 ribu itu kalo dibawa ke gramedia.. udah dapet banyak buku kan. -_-

Atau ikut seminar begituan nilainya lebih besar daripada beli buku?

Kayaknya gak juga deh.

Kalo ikut seminar dan gak ngerti, malah lebih bagus baca buku berkali - kali sampai ngerti kan?

Ah.. seminar itu sepertinya menyebalkan sekali.

Udah, lain kali gak usah ikut seminar lagi lah. Beli make up sendiri aja. Tutorial lewat youtube aja. Udah.

Mama Cake

Aku baru nonton film 'MamaCake' beberapa hari yang lalu. Memang sih agak telat, tapi gak masalah daripada gak nonton. :)


Film 'MamaCake' adalah film yang bergendre drama komedi. Dibintangi oleh salah satu presenter ganteng Indonesia yaitu Ananda Omes, dan Boy William (dia sih gak ganteng, songong abis! gak suka; sok bule), juga satunya lagi (yang gimbal) aku gak tau namanya.

Film ini sebenarnya punya alur cerita yang sederhana, tapi sangat menarik.

Alkisah, Rakha (Ananda Omes) adalah anak orang kaya Jakarta yang ditugaskan oleh Papanya membeli MamaCake (Brownies) buat si Nenek yang lagi sekarat di rumah sakit.
Walaupun MamaCake tersebut punya cabang di mana - mana dan di Jakarta pun ada, Rakha tetap harus membeli MamaCake di Bandung. Karena pesan terakhir dari si Nenek adalah seperti itu. Si Nenek cuma mau makan MamaCake dari toko pusatnya yang ada di Bandung.

Dengan ditemani Boy William (bule gadungan) dan satu temannya yang gimbal, akhirnya Rakha berangkat menuju Bandung. Nah, dalam perjalanan membeli MamaCake inilah, banyak peristiwa terjadi. Banyak hal yang dialami Rakha dan dua temannya yang akhirnya memunculkan pemahaman baru bagi mereka tentang nilai - nilai dalam hidup. 



Kenapa film ini kuanggap menarik? karena pesan film nya bagus banget. Film ini berusaha mengangkat nilai - nilai budaya dan nilai - nilai moral yang hampir terlupakan oleh generasi muda sekarang. Film ini berusaha menyampaikan bahwa budaya barat itu tidak seharusnya diikuti secara penuh oleh generasi muda. 
Bahwa diatas itu semua, ada nilai - nilai yang lebih penting yaitu nilai - nilai moral, nilai - nilai cinta kasih, juga nilai  - nilai agama.

Walaupun memang, 'tampilan' film ini agak absurd. Warna warni dimana - mana. hahaha.
Tapi film nya bagus kok.

Film ini kurekomendasikan bagi kalian yang hobi nonton tapi kehabisan stok film.

Yakin deh, film ini bakal bikin kalian 'berpikir' dan kemudian mencari 'makna'. (bagi yang mau berpikir)

So, nonton ya... :)

Sabtu, 26 April 2014

Gara - gara DUIT

Gak nyangka aja, sekian tahun kenal sama itu orang.. baru akhir – akhir ini aku dapetin dia benar – benar marah. Alasan marahnya ya... gara – gara aku.

Di satu sisi, aku merasa senang karena akhirnya aku tahu kalau ternyata dia juga bisa marah.
Hanya saja, disisi lain.. aku sekaligus merasa gak enak. Gak enak karena aku selalu aja menyusahkan hidup dia dengan banyak ulah. Fiuhh..

Permasalahan kita tuh sebenarnya gini;

Kan bulan kemaren aku minta tolong dia buat nyariin buku teori (yang ku perlukan untuk kebutuhan skripsi). Setelah satu minggu aku nunggu, akhirnya buku itu ketemu.
Sebelum dia ngirimin buku itu ke aku, aku minta dong nomor rekening bank dia supaya aku bisa langsung ganti uang dia, dan gak nyusahin dia dengan segala biaya termasuk ongkos kirim.
Tapi si dia kekeh, bilang kalau mending pakai uang dia dulu.. kalo udah selesai semua baru diganti.
Ya udah aku nurut.

Nah, setelah bukunya sampai dengan selamat, aku pun nanya lagi nomor rekening bank dia.
Aku kan gak enak kalau harus pura – pura gak tau setelah pakai uang dia untuk beli buku itu. Kan ceritanya aku minta tolong cariin, bukan minta dibeliin. Makanya aku ngotot banget mau ganti.
Aku desak dia beberapa hari supaya mau ngasih tau nomor rekening bank atas nama dia. Tapi alasan dia selalu muter – muter. Dia bilang dia gak hapal nomor rekening itu dan buku tabungannya ada di kosan sedangkan dia udah berapa hari gak balik – balik ke kosan. Sampai capek aku nungguin kabar dari dia; kapan kira – kira dia mau balik ke kosan.
Iseng (aku kan stalker sejati, xixixi), aku buka wall facebook dia. Yang paling mengesalkan adalah kenyataan bahwa disana sebenarnya dia selalu pulang kekosannya hampir setiap hari, tapi bahkan dia gak ada niatan buat lihat buku tabungan dan sms-in nomor rekening itu ke aku.
Yah... itu cukup menyebalkan saudara – saudara pembaca yang budiman.

Sebenarnya, aku bisa saja sih.. pura – pura gak tau dan menikmati saja buku teori secara gratisan. Apalagi dia juga udah bilang kalo uangnya gak apa – apa gak diganti. Trus dia juga bilang gantinya bisa kapan – kapan aja.
Tapi karena aku suka gak enak kalau terlalu banyak hutang budi sama orang (apalagi laki – laki), dan aku juga gak enak karena ngomong minta dicariin (bukan minta dibeliin), aku tetap ngotot mau ganti uang itu.
Cuma ya emang dasar budaya Indonesia yang terkadang tidak menyenangkan ini (cowok harus bayarin segala – gala), aku pun akhirnya mengirimkan uang tersebut ke kampus.

Disinilah permasalahan kemudian terjadi.
Pas aku sms untuk bilang kalau aku ngirimin duit pakai amplop ke kampus dia, dia marah besar. Dia bilang aku gak sabaran, dia bilang aku ngeselin, yah.. intinya aku tahu sih kalau dia Cuma mau bilang “Seharusnya aku gak ngirimin apa – apa ke kampus”.

Tapi trus aku harus gimana dong ketika aku bahkan gak kepikiran alamat kosan dia (gara – gara dia bilang jarang balik ke kosan), dan aku pun gak tau nomor rekening dia?? Masa iya uangnya gak usah diganti? Itu menciderai harga diri guwehhh Men!!!!
Akhirnya, pikiranku pun tertuju hanya pada satu tempat: KAMPUS!!!
Kebetulan juga ‘katanya’ dia bantu – bantu kerja di laboratorium kampus. Ya udah kan, daripada uangnya gak dikirim..alangkah lebih baiknya kalau uang itu kukirim ke kampus aja. Toh pasti ada juga yang kenal sama dia.

Hanya saja... aku gak pernah nyangka kalau akhirnya dia jadi marah – marah dan menjadi sangat kesal.
Jujur, aku gak ngerti salahku dimana. Aku kan cuma mau balikin duit? Lagian dikampus kan gak mungkin gak ada yang kenal sama dia?
Atau mungkin “Ngirimin surat ke kampus adalah tindakan yang SANGAT BERLEBIHAN”???

Sampai postingan ini dibuat, aku masih tetap mikir. Aku beneran salah gak ya? Ngirimin paket ke kampus (ketika teman kamu pun bekerja di kampus) itu berlebihan ya?? Asli bingung.


-_-

Jumat, 25 April 2014

Cam Bek

Holaa... apa kabar? lumayan lama ya gak posting. :)

Baru sembuh sih.
Kemaren kena flu beberapa hari. Tapi mungkin juga tipes nya ngulang lagi.
Soalnya kalo sekedar flu, gak mungkin juga badanku sampai lemas banget dan gak kuat ngapa - ngapain.
Mulut juga ikutan pahit, makan pun gak enak. Jadi beberapa hari cuma minum susu.

Untungnya sekarang udah sembuh, dan alhamdulillah bisa makan rujak *Hiyahhhh

Udah ya, cuma mau ngabarin itu aja sih. Ya kali aja kan ada yang nungguin kabar. xixixixi

Se U .

Minggu, 20 April 2014

I am Sick Broohh 2

Selamat pagi!! 
Akhir – akhir ini aku kebanyakan tidur. Jam tidurku kemarin bahkan mencapai sepuluh jam. Parah banget kan?
Kata psikolog, orang kebanyakan tidur itu artinya jiwanya sedang tertekan.
Pertanyaannya adalah beneran nih??
Berarti skripsi benar – benar menguras hati, jiwa dan raga ya. Hahaha
Sebenarnya, aku gak mau sih nganggap diriku tertekan. Tiap ditanya teman tentang skripsi, aku paling gak suka ngeluh. Hmm... mungkin gara – gara itu juga ya. Makanya tekanannya tinggal di dalam diri, soalnya gak dikeluarin. Hihihi

                Kebanyakan tidur kali ini mungkin juga efek dari kondisi tubuh yang kurang sehat. Huahh... tenggorokanku sakitnya gak ilang - ilang, hidungku mampet, badan meriang, hikss.

Pengennya kalau bangun tidur itu, badan langsung segar, langsung sembuh. Tapi ternyata masih aja gak enak. Padahal udah minum obat. L