Jumat, 12 Oktober 2012

Semoga ya!


Kayaknya yang dibilang sama Raditya Dika itu banyak benernya ; menulis itu kalo udah lama ditinggalkan, akan sulit untuk memulai lagi.  

Saya sedang menggarap sebuah novel yang saya mulai pada awal tahun kemarin, tapi hingga bulan ini novel itu belum juga rampung. Padahal saya harus segera menyelesaikannya secepat mungkin dan mencoba peruntungan saya dengan mengirimkannya ke penerbitan ternama, siapa tau diterbitkan.
 Tapi entah mengapa..mungkin karena saya yang sok sibuk, novel itu belum juga selesai.


Saya berharap novel itu bisa segera selesai dalam beberapa minggu ini. Jadi, saya hanya tinggal mengedit saja sebagai tahapan terakhir sebelum kemudian saya kirimkan ke penerbitan.
Saya harap saya beruntung! CAYOO!! ^_^

Selasa, 09 Oktober 2012

" Batas " ( Indralaya, 9 oktober 2012 )

Kepada 2,

.
.
.
.

Yang tidak bisa menjadi 1.

“ Katanya dia Orang suci “ (Indralaya,9 oktober 2012)


Dan kau bakar cintaku jadi abu,
Selepasnya, kau penggal rindu – rindu yang kau anggap nila,
Dalam tubuhmu yang katanya tak punya dosa!

Aku benci bibirmu,
Dari sana lahir jutaan dusta.
Tidakkah kau malu pada titik – titik duka yang telah kumuntahkan,
Terhadap pengharapan kosong yang kau janjikan?

Aku benci senyummu,
itulah belati tajam,
mengorek koreng busuk dalam dada.
Makin dalam, makin runyam.
Makin busuk..
Lalu pecah!
Kupenggal hatiku yang bernanah,
Biar mati, biar hilang, biar hangus, biar tiada.

Dan kau masih saja mengaku tak punya dosa?
Biadab! 

Senin, 08 Oktober 2012

“ Yang terlepas” ( Indralaya, 08 oktober 2012 )


Dan izinkanlah saya membisikkan rindu itu,
Pada debu yang beterbangan dijalan – jalan..menempel di wajahmu.

Bukankah suara knalpot di muka jalan itu yang membuatmu ragu,
Untuk maju ataukah tetap tinggal bersamaku?

Lalu selepas kau pergi,
Aku hanya menunggu, di persimpangan dekat rumah,.
Siapa tau suatu siang kau akan datang lagi bertandang.
Atau mungkin juga menyambut tamu – tamu lain yang datang,
Ialah orang – orang yang meminta petunjuk jalan..

Minggu, 07 Oktober 2012

.“Sampaikan pesan saya”


Kepada perubahan,
Saya dengar disini,
Bahwa pemuda malam ini sedang nyala matanya, menatap penuh dahaga pada film – film porno yang menggoda

Kepada perubahan,
Saya lihat lelaki di kosan depan, mengunci gadis lagi malam tadi

Lalu disampaikan dalam retorika televisi,
Pemuda jadi korban tawuran SMA,
Pak presiden bicara tentang pertumbuhan ekonomi,
Gubernur bilang persiapan PON sudah jadi

Tapi dosen saya bilang Indonesia semrawut,
Pengembangan daerah hanya untuk gemilangnya penguasa,
Semua bicara strategi pemilu DKI, penegakan demokrasi, pemberantasan korupsi, semua BASI!

Buat saya sendiri, Negeri makmur masih jadi mimpi
Ayah toh masih naik scoopy meski bertahun – tahun mengabdi pada negeri
Menghidupi kami dengan gaji yang makin sexy, potong sana potong sini

Buat saya sendiri,
Perubahan berarti..berbedanya rasa nasi
Dirantau atau dibumi sendiri,  tak sama lagi.


( Ini puisi yang saya ikutkan dalam Lomba Puisi: SUMPAH PEMUDA DAN CINTA INDONESIA dari Penerbit Writing-Revolution.. menang gak menang yang penting ikut! hahaha)

“ Kemarilah!” ( Indralaya, 7 oktober 2012 )


Saya bisa memberikan hati itu,
Tapi mengapa kamu lebih suka menjilatinya, lalu pergi begitu saja?

Apakah rasanya pahit? Atau bentuknya kurang menarik?
Gigitlah sedikit, setelah itu kamu pasti ingin menghabiskannya..

Mengapa kamu takut?
Bukankah hati itu saya berikan, gratis?

Kamu bahkan tidak perlu membayar apa – apa.
Tidak untuk hati yang saya obral,
Untuk kamu saja,
tidak kepada pengunjung lainnya.

Karena kamu, istimewa.
Karena kamu pengunjung terlama, dalam jiwa saya.

Sabtu, 06 Oktober 2012

“Amarah” ( Indralaya, 4 Oktober 2012 )


Api itu hendak membakar saya sampai habis jadi abu.
Suara saya hilang,
Kekuasaan ingin saya tegakkan padanya tapi ia membangkang!


Jantung saya panas,
Peluh saya bersimbah,
Mata saya berdarah,


Hentikan, hei kau setan jalang!