Ia bernama cinta, sesuatu yang terlalu takut kusebut.
Tapi bahkan terlalu sering kamu katakan.
Kepada sembarang orang.
Adalah rindu, bernyanyi malu – malu dalam hatiku.
Dia selalu tahu.. kepada tuan mana nyanyian itu berlagu,
Entah bagaimana dengan rindu milikmu. Ah, aku tahu. Masih
untuk bidadari masa lalu kan?
Hay Tuan.. aku kesal. Mengapa sekarang seolah kamu begitu
mudah terbang?
Hinggap pada harapan – harapan baru, haruskah kamu begitu?
Sedang aku..
Menjadi malas mengurusi rinduku yang rewel.
Menjadi malas mengurusi perihal rasa yang begitu purba, tak
pernah usai meski sudah diurai.
Sudahlah, lupakan saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar