Oke. Kemarin aku menyadari, bahwa ada terlalu banyak
kesalahan yang (meski aku sudah tau) tetap saja masih kuulangi. Lagi dan lagi.
Bosan, sebenarnya. Lelah juga. Terlebih duniaku menjadi
sempit dan mencekam dengan segala kemeranaan yang muncul kemudian.
Sungguh, aku benci dengan semua kenyataan lalu. Bagaimana
bisa aku dipertemukan dengan orang – orang itu? Orang – orang yang membuatku mampu
sedemikian lama menunggu, meski yang dilakukan mereka selama ini hanyalah
bermain – main dengan hatiku?
Apa yang salah denganku? Hati itu bahkan menuntun semua
gerak organ tubuh. Otakku tidak pernah punya daya yang kuat.
Hei, Apa kalian percaya bahwa ada orang – orang yang digerakkan
dengan hati? Fiuh..
Aku tidak ingin meminta pertanggungjawaban kepada orang –
orang yang sempat mencuri hatiku. Karena sebenarnya aku juga tidak mau dituntut
untuk bertanggungjawab terharap orang – orang ( yang merasa ) hatinya sudah
kucuri. Itu tentu terlalu egois dan sebelah pihak.
Aku hanya merasa kesal. Kamu tahu? Hal yang sama terus saja
kuulangi, berkali – kali. Dan berkali – kali juga dunia menyalahku atas
segalanya.
Bukankah memiliki hati itu menyebalkan? Ada yang tahu
bagaimana caranya membuang hati?
Ini menyebalkan.
#aku selalu benci mengingat bahwa ada orang – orang yang
merasa hatinya sudah kucuri tapi aku tidak mau bertanggungjawab, lalu mereka
patah hati. Begitupun aku yang merasa hatiku sudah dia curi tapi dia tidak mau
bertanggungjawab, lalu aku patah hati.
Bukankah itu SIKLUS yang bodoh?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar