Ya.. mungkin
dia masih berpikir aku masih bersedih karena siang terik yang menyedihkan itu.
Karena
keputusan yang kubuat sendiri, dulu di siang yang terik itu.
Mungkin juga dia
dan dirinya berpikir kalau aku masih berharap kepada dia.
Lewat puisi – puisi yang
kubuat beberapa kali. Meski Sungguh.. jelas ku katakan bahwa aku tidak menginginkan
itu lagi. Aku sudah melepaskan, semua hal yang sempat aku dan dia lewatkan
dulu.
Aku hanya
mengenang semuanya.
Mengenang malam – malam sunyi saat aku dan dia menghabiskan
waktu berkeliling kota, sekedar mencari barang – barang yang tidak penting,
sekedar jalan - jalan. Aku juga hanya mengingat, tentang sore – sore yang
dingin, sore – sore yang gelap saat dia datang dan menemani. Aku hanya
mengingat tentang lilin – lilin yang dia belikan saat aku berdiam dalam
kegelapan di kos. Aku hanya mengingat tentang es krim yang dia belikan, yang
akhirnya malah kubuang karena aku sebenarnya tidak menyukai rasa eskrim yang
dia beli. Hahaha..
Ya.. mungkin
dia dan dirinya masih berpikir kalau aku masih bersedih atas keputusan itu.
Sesungguhnya
kukatakan, aku tidak bersedih lagi.
Seperti beberapa tali yang diikatkan pada
barang, tentu butuh waktu untuk melepaskan semua tali itu.
Begitu juga aku..
Aku hanya masih berusaha melepaskan, dan sungguh.. tidak ada keinginan untuk
kembali.
Aku hanya
mengingat tentang pesan singkat yang dia kirimkan tadi pagi, yang tidak ku
balas karena aku merasa tidak perlu untuk membalasnya.
Juga mengingat pesan
yang dikirimkan dirinya lewat sebuah gambar, yang kuartikan sebagai sebuah
penghiburan atas kedukaanku kemarin.
Sungguh.. aku
belajar melepaskan semuanya.
Aku hanya ingin hidup dalam hidupku sendiri, tanpa
kalian lagi.
Aku mengerti bahwa hidup juga tentang meninggalkan dan
ditinggalkan.
Bukan untuk menyisakan kedukaan tak berkesudahan. Tapi agar kita
bisa memulai cerita baru lagi, yang lebih menyenangkan dari kemarin.
^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar