Dan ternyata mendengarkan
beberapa lagu melankolis berhasil membuatku teringat lagi kepada sosoknya..
Dia bukan laki – laki sempurna.
Bahkan aku tau dengan jelas setiap titik kekurangannya.
Tapi toh aku tetap menyukai dia.
Menyukai setiap pesan singkat yang dia kirimkan padaku saat aku dilanda bosan,
menyukai dia yang menyebalkan.
Sekalipun dia sudah punya pacar.
Yah..lagi – lagi aku melakukan
kesalahan yang sama. Hidup dalam harapan yang tidak mungkin diwujudkan. Apa
karena aku tidak sebanding dengannya? Atau karena aku tak secantik pacarnya?
Wah..seharusnya aku tidak perlu
menyesali kekalahan ku ini.
Mungkin kami hanyalah dua belah sepatu yang memang tidak diciptakan
sebagai pasangan.
Mungkin kami memang tidak punya
takdir untuk itu. Jika ditanya, apa aku yakin dengan perasaanku sendiri? Sebenarnya
tidak.
Lalu seiring waktu bersama dia
dahulu, aku jadi percaya bahwa segalanya berbeda jika dilewatkan bersama.
Yah.. aku masih belajar
melupakan. Meski tidak berniat mencari ganti, itu sulit tau! Hahaha...
Hanya sedikit cemburu melihat
gadis itu.. Sungguh, aku tidak seberuntung dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar