Kamis, 09 Januari 2014

Stalking

Dulu, aku hanya iseng. Suka mencari - cari keberadaannya, dimanapun dia berada. Apapun yang dia lakukan. Apapun yang dia rasakan.

Beberapa tahun berlalu, entah sejak kapan.. hal itu kini berubah menjadi kebiasaan.

Entah mengapa, otakku selalu terarah untuk mencari dia.


Meski aku pun tidak tahu, apakah hal itu kulakukan karena aku sangat menyukainya, ataukah hanya karena aku kurang kerjaan saja,



Aku tidak pernah benar - benar tahu.

Yang jelas, sampai hari ini aku terus saja melakukan itu.

Mencari - cari dia.

Entah kapan kebiasaan buruk ini akan bisa dihentikan. ckckck

Rabu, 08 Januari 2014

Finish to Start

Kalian berkejar - kejaran, kalian berusaha saling mendahului.

Tapi aku masih duduk, menyeka keringat, menarik napas dalam - dalam agar bisa berlari lagi.

Sebab aku ingat, kemarin aku sempat tersandung dan jatuh. Rasanya sakit, maka aku lebih memilih untuk tidak terlalu kencang berlari, takut jatuh lagi. Takut nanti kalau terlalu banyak jatuh, akan jadi sulit berjalan.


Tapi kalian terus saja berlari.
Aku berpikir, mungkin kaki kalian memang diciptakan lebih kuat dari kakiku.

Benar saja, sewaktu kecil... pada usia satu tahun satu bulan, aku baru bisa berjalan.
Yah.. mungkin memang sejak dulu aku tidak diciptakan untuk 'hebat' dalam berlari.

Atau aku saja yang malas berlatih? entahlah, yang jelas aku tidak suka menyalahkan diri sendiri.


Hari ini, kulihat kalian berlari lagi. Terus berkejar - kejaran, saling mendahului.
Aku melihat saja dari sini.

Sebuah pertanyaan terbersit di benakku :
Apa yang kalian kejar? apa yang 'pasti' kalian akan dapatkan di luar sana? apakah tujuan kalian sudah jelas, sehingga lari kalian sangat ngotot?

Ah... mungkin jawabannya 'iya'. Mungkin kalian punya janji yang pasti tentang jalan di depan, tentang tujuan kalian.


Sedang aku?

Hmm... aku punya tujuan, tapi entahlah apakah kakiku cukup kuat untuk berlari menujunya.

Karena 'tempat itu' sangat jauh. Sangat jauh,..

Selasa, 07 Januari 2014

Huu

Dimana aku sedang berada?

Coba lihat kakiku, benarkah menjejaki bumi?

Atau aku sedang melayang - layang?


Dimana tanganku? Dimana kamu menemukannya?


Mataku semerah saga.. menatap dunia dengan angkuhnya. Tapi, apakah dia benar - benar melihat?

Apa yang sedang kulakukan? bisakah kamu katakan?

Senin, 06 Januari 2014

Pasca- Sarjana

Semakin hari, semakin dipikirkan, semakin waktu berjalan, semakin saya pengen S2.

:(

Ya, walaupun saya gak pinter - pinter banget. Walaupun saya gak rajin - rajin banget.

Tapi saya selalu suka sekolah, selalu suka duduk dikelas, selalu suka dengerin dosen walaupun ngantuk, selalu suka ada ujian.

Abis skripsi nanti, abis wisuda S1 nanti, saya harus kerja.

Sementara di Bangka, gak ada program pascasarjana untuk Ilmu Administrasi Negara.

Sementara.. saya takut kalau udah kerja dan nunda, otak saya bakal buntu nanti.


Tapi mau S2, uang dari mana?


Adek - adek saya kan mau sekolah juga. :(

Sejak Ayah pensiun dua tahun lalu, saya langsung kehilangan motivasi buat cumlaude.

Buat apa? toh saya gak bisa langsung S2.

Akhirnya... saya gak bisa nyalahin siapa - siapa.

Saya cuma bisa berharap, Allah dengar saya.

Saya pengen S2, walaupun saya gak pinter - pinter banget.

Saya pengen S2 sambil kerja.

Saya pengen S2 dikampus yang iklim belajarnya bagus.
Saya pengen dibawa rajin karena teman - teman dikampus pada rajin juga.

Saya pengen sekolah lagi.

Saya mau sekolah lagi.

Saya mau S2. Tapi uang dari mana?

:(

Katanya, hidup gak boleh egois. :(

'Teman dekat' atau 'Pacar'? Ah, mending 'Calon Suami', kan?

Tadi malam, aku menemukan ‘penyadaran’ telak lewat perbincanganku dengan seorang teman..

Kami sempat adu arumen lama sekali.. sampai akhirnya, ku terima juga argumennya yang sangat masuk akal:
“ Segalanya itu cuma masalah penamaan, Zar. Kalangan ‘biasa’ sering bilang ‘pacar’.. Tapi bisa jadi, ukhti – ukhti disekitar kita menyebutnya ‘teman dekat’. Kamu ingat kan? Ukhti yang sering jalan sama Abang – Abang di kompleks kita? Itu mungkin namanya teman dekat, tapi jalan kayak pacar kan? Berarti sama aja..,” katanya santai.

Setelah kupikir – pikir lagi, yang dia katakan itu ada benarnya. Banyak sekali kutemukan ‘Ukhti’ berseliweran, berdekat – dekatan dengan seorang laki – laki.
Jujur saja, ini membuatku kesal. Bagaimana tidak? Mereka dulunya adalah kaum yang menyatakan ingin menikah tanpa pacaran, tapi malah menghabiskan terlalu banyak waktu dengan laki – laki yang bukan muhrimnya.

Jujur saja, aku kecewa. Bisa jadi.. aku adalah orang yang ingin mengarah kepada kaum tersebut. Aku ingin belajar jadi ‘ukhti’ yang baik. Ingin menjaga jarak dengan laki – laki, sampai akhirnya tiba waktu untuk mencari calon pasangan hidup.

Tapi, setelah hal – hal seperti itu terjadi, aku pun jadi sangsi. Benarkah aku ingin jadi seperti itu? Belum lagi lingkunganku yang tidak memberi lampu hijau bagi kaum yang suka memanjangkan hijab.
Ah.. bisa jadi ini hanya masalah persepsi dalam budaya kan?

“ Lagian ya.. kalo kamu pengen langsung nikah tanpa pacaran, apa kamu yakin gak bakal pilih kucing dalam karung? “ lanjutnya lagi.
“ Tapi pacaran tambah dosa kan? Seenggaknya kan bagus.. ketika kita udah kerja dan merasa ingin menikah, baru deh cari calon. Bukannya dengan begitu kita jadi gak terlalu buang – buang waktu? Kalo pacar kamu masih sekolah, masih kuliah, toh gak bisa langsung dinikahin kan?,”
tambahku.

“ Berarti iman kamu yang gak kuat, Zar. Itu kan tergantung kita.. mau gaya pacarannya kayak gimana. Kalo kita jaga jarak sih gak apa – apa,”
“ Emang yakin bisa jaga jarak? Setan dimana – mana lho!,”


Perdebatan itu akhirnya menimbulkan kesimpulan yang kurang lebih sama, buat kami berdua.

Dia akhirnya menutup perdebatan kami dengan menyatakan :

“ Ya udah, entar aja kalo udah kerja dua tahun.. langsung ngelamar anak orang deh..hahaha,”

Sementara aku? ya, sama. Masih tetap memegang teguh amanat dari Ibuku.

“ Nanti kalo udah kerja agak lama, baru cari ‘calon suami’ tapi bukan cari pacar. Intinya, bakal cari kalo udah niat nikah. Sekarang, mending gak usah dulu. Urusan masih ada stok atau enggak, itu kan urusan Allah. Lagian, jodoh gak mungkin ketuker.. “



Insyaallah J

Minggu, 05 Januari 2014

Semua hanya 'Rangkaian Kata'

"Semua hanya rangkaian kata, yang kau sebar ke semua wanita. Oh bodohnya ku sempat percaya.
Kamu, sempat buatku berpikir semua yang kita punya nyata..
Kamu, dan semua kata - katamu semua palsu.."


Kata - kata di atas adalah penggalan lirik lagu Gita Gutawa yang terbaru, judulnya 'Rangkaian Kata'.

Setelah di ingat - ingat lagi.. tidak menyangka bahwa aku juga sempat terjebak dengan laki - laki seperti itu. Hahaha...

Kalian mau tahu ciri - cirinya? biasanya sih, laki - laki yang begitu.. sangat mudah bilang 'sayang' atau 'suka'. Lidahnya ringan banget buat ngomong kata - kata itu.

Padahal, kata - kata sakral seperti itu 'magic' nya bakal berkurang kalau terlalu sering dikatakan.

Aku sempat berpikir lagi, dulu..

Kalau 'dia' begitu mudahnya mengumbar kata - kata mesra ke semua wanita, berarti yang dia lakukan padaku itu.. apa?

Akankah ada maknanya? Apakah aku benar - benar berharga?

Sekarang jawabannya sudah kutemukan:

'Semua hanya rangkaian kata..'

Maknanya toh tidak pernah sedalam itu. Asal tahu saja, bahkan dia sudah punya seseorang yang baru sekarang. Hahaha.

Begitulah kira - kira. Rangkaian kata indah, tidak selalu punya makna yang mendalam.

Tidak selalu seindah itu.


Sabtu, 04 Januari 2014

Kemanakah angin hendak mengarahkan cuaca?

Sebab segala hal yang telah kulakukan, nyatanya tidak juga membuatku merasa cukup.
Celah itu tetap terasa meski begitu kuat aku berusaha menepis segalanya.

Benarkah aku harus bersabar?
Apakah itu ‘sabar’?
Harus berapa lama aku bersabar?

Aku ingin menghilangkan segala ‘kotoran dari wajahku’, tentu tanpa pernah berharap menambah coreng yang baru.


Kemanakah angin hendak mengarahkan cuaca? Kemanakah aku akan dihantarkannya?