Sabtu, 04 Agustus 2012

About Love


Seperti apa sebenarnya rupa Cinta?

Saat saya menulis ini, maag saya sedang kambuh. Kalian tau apa yang saya pikirkan? Saya memikirkan bagaimana pasangan saya nanti akan merawat saya ketika suatu hari mungkin saya sakit lagi. Saya berharap benar – benar ada orang yang peduli terhadap saya, terhadap hidup saya, terhadap semua kesenangan dan kesusahan saya. Dalam sehat maupun sakit. Saya berharap sesegera mungkin menemukan sosok itu. Sosok yang benar – benar menjadikan saya wanita sempurna dalam hidupnya.

Saat ini saya jauh dari orangtua, dan saya sakit. Saya bukan tipe orang yang suka menyusahkan orang lain, terlebih teman kos. Saya lebih suka susah sendiri jika sedang sakit begini. Yang terpikirkan bagi saya saat ini bukan bagaimana teman kos mampu merawat saya. Tapi bagaimana sakit ini cepat sembuh. 

Semoga saya segera sehat, amin.

Kamis, 12 Juli 2012

Luka Kecil


Agaknya  saya sempat merasa kehilangan. Entah perasaan seperti apa itu, tapi rasanya tidak enak sekali. Saya merasa bahwa  ada hal yang telah diambil dari hati saya. 

Mungkin benar  yang oleh sebagian orang bilang bahwa ini semua hanyalah tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Entah hari ini, besok, atau lusa. Kita semua akan saling meninggalkan, oleh karena takdir, atau karna kita yang sudah tidak mampu lagi untuk saling menemani.

Tapi segala hal yang telah pergi, tentu akan digantikan lagi. Oleh seseorang yang baru, oleh takdir yang baru, dan tentang cerita hidup yang baru. Sebab nyatanya bukan hidup yang menghidupkan kita, tapi kita yang menghidupkan hidup. Dengan segala yang bisa kita lakukan sebelum akhir penutupan.

Seperti beberapa kali, seseorang hadir dalam hati saya. Membuat saya bahagia, tapi tidak jarang kemudian membuat saya menangis. Saya menangis karena orang itu terlalu saya inginkan untuk tetap ada bersama saya, saya menangis karena saya akan terlalu bahagia jika saya bisa bersamanya.

Namun kemudian tidak ada satu pun yang bisa bertahan lama bersama saya. Kami berpisah, lalu saya kesepian dan terluka. Saya pun bersedih tentang ketidakbahagiaan yang saya alami. Tentang luka berpisah yang terasa begitu sakit. Namun luka itulah yang kemudian membuat saya mengerti bahwa ; inilah hidup. 

Beginilah hidup. 

Dan luka itu biasa, hanya luka kecil saja.
 Saya tidak akan mati karenanya.

Senin, 09 Juli 2012

Holla !!! i am come back !


Bagaimana bisa saya melewatkan satu bulan dengan tidak memposting apapun dalam blog ini? (HA??)
Ckckck...
Mohon maaf pembaca, sepertinya saya agak sok sibuk akhir – akhir ini.
Jadi sekarang di bulan juli, saya kembali lagi mengisi kesepian laman posting di blog saya.  Horeee...

Satu bulan tidak mengunjungi blog ini , membuat saya harus sedikit mengepel dan membersihkan beberapa sisi blog, karna sudah tampak agak berdebu.
Oh ya...saya baru saja menyelesaikan ujian akhir semester di bulan juni kemarin. Mungkin itu bisa saya jadikan alasan untuk break sejenak dari blog ya...
Sebenarnya ini sudah masuk masa liburan panjang bagi kami para mahasiswa, tapi tidak bagi saya. Saya harus mengejar ketertinggalan beberapa mata kuliah yang harus saya ikuti di semester pendek tahun ini. Alhasil saya kehilangan masa liburan saya.
Tapi tidak  apa –apa , toh ini penting untuk masa depan saya kan?
                Akhir – akhir ini entah mengapa saya menjadi lebih sering memikirkan tentang jodoh. Bisa jadi karna pada oktober nanti saya akan genap 20 tahun, dan saya belum juga punya pacar. Woww...
Saya selalu bertanya – tanya, kapankah waktu yang tepat yang telah dirancang Tuhan untuk pertemuan saya dengan jodoh saya? Saya merasa pertemuan itu masih sangat lama sekali. Sedangkan ada kalanya saya menjadi terlalu cengeng dalam menghadapi beberapa masalah kecil, yang membuat saya kemudian mengkhayalkan tentang sosok seseorang yang bisa meminjamkan bahunya untuk tempat saya menangis.

                Beberapa orang melihat saya sebagai seorang gadis yang tidak butuh ( atau mungkin belum merasa butuh) pasangan. Tapi itu mungkin dulu, ketika saya sudah terlalu banyak kecewa dan takut untuk memulai lagi.

                Sekarang, dalam penantian panjang saya tentang jodoh, bolehkah saya berharap pada Tuan agar saya segera dipertemukan dengan Mr. Right? Saya merasa begitu sepi dan lelah dengan kesendirian saya. Mungkin tampak lebay, tapi memang begitulah keadaannya.

                Ketika kekesalan saya memuncak, saya sempat bilang pada teman dekat saya bahwa sepertinya tahun ini saya harus punya Pacar. Entah dia lebih muda, sepertinya itu tidak lagi jadi masalah bagi saya. Asal gak jelek – jelek banget lah.. setidaknya saya masih mau melihat wajah pasangan saya. Hahaha..

                Tampak menyedihkan ya, terlalu berharap. Ketika saya sedang tidak menginginkan pasangan seperti satu tahun yang lalu, justru hadir beberapa orang yang mau mengisi posisi itu. Namun sekarang ketika saya mencari, entah kenapa pasaran jadi tampak begitu sepi. Hahaha.. Hidup ini memang aneh, ..

Rabu, 23 Mei 2012

Realita

Ketika anak SosPol seperti gue justru tidak tertarik untuk ikut serta lebih dalam ke dunia politik..

Ketika teman-teman seangkatan gue lebih sibuk kepada segala macam organisasi kampus,
segala macam pemilihan sejenis gubernur mahasiswa dan lain sebagainya,

gue malah sibuk bikin novel, kutan lomba nulis cerpen, ngirimin cerpen ke berbagai majalah, ngirimin puisi, dan sebagainya.

Gue tau yang tampak kemudian adalah bahwa gue salah pilih jurusan.

Tapi justru  yang harus disadari adalah
bahwa ini tidak ada salahnya
Hidup gue untuk menulis, meski akademik gue dipolitik.

Sekalipun gue dikatakan tidak aktif sebagai mahasiswa, toh gue punya target sendiri.
Gue punya mimpi yang lain.
Dan akademik yang gue pilih hanya sekedar untuk menambah pengetahuan,
tanpa perlu ikut lebih dalam.

Karna Mimpi gue adalah jadi penulis, yang tidak buta tentang politik.

Selasa, 15 Mei 2012

Ketika Kau menari-nari diotakku

Adakah benar saat aku menjadi bodoh?
Terdapat gumpalan merah jambu memenuhi otakku ,
logika ku jadi buntu.

Adakah waktu untuk pergi ketika kamu ternyata tidak sendiri?
Tapi kamu pura-pura lugu,
sengaja menari-nari diotakku,

Kini aku menjadi dungu,
antara dimadu, atau pergi serupa angin lalu..

Sendiri sekarang bukan lagi pilihan yang indah,
Namun ternyata kamu masih saja mau,
menari-nari diotakku,
betapa bodohnya aku.

Aku jadi dungu,
dankau masih saja pura-pura tidak tau,
Berada diantara dia dan aku.
Pura-pura tidak tau..

Sabtu, 28 April 2012

"Jalan"


Hujan bukanlah petaka, ketika dalam padanya bisa kuhapuskan semua dosa.
Apa salah , ketika jalan yang ada sama seperti dulu kala?

Adalah dosa bagiku, menjadi pecinta yang haram,
Menunggu yang tidak datang,

Luka adalah biasa, bagiku yang tidak biasa terhadap bahagia.

Tapi jangan pernah ajari aku bagaimana menjadi kuat,
Karna kau bahkan tidak pernah merasakan sedikitpun goresan luka.

Kau adalah manusia sempurna, yang terlalu beruntung diliputi bahagia.

Aku tidak menyalahkan jalan Tuhan ,
Ketika jalan yang Dia berikan selalu menyesakkan,
Bisa jadi ini salahku, yang salah melihat pelangi dalam air.
Kemudian berharap memilikinya, meski sebenarnya ia tidak ada.



Jumat, 20 April 2012

" Semesra Bayanganmu"




Suatu Pagi kau datang, ketika aku sedang duduk termenung sendirian.
Kau ajak aku bicara, hingga aku tertawa-tawa bahagia.
“ Apa kau mau ikut denganku?,” katamu tiba –tiba.
“Kemana?,” kutatap matamu dalam-dalam.
“ Kita akan meniti pelangi, kau sudah lama tidak merasakannya bukan?,”
Kau genggam tanganku, aku tersenyum bahagia.
Kita pun pergi.

Sesampainya di depan pelangi,
Kita mulai berjalan, kau berdiri dibelakangku, menjagaku.
Kau bilang kau akan terus menggenggam tanganku, hingga kita sampai diujung pelangi.
Aku bahagia, kau tersenyum juga.
Sepanjang perjalanan, tiada kurasa lelah.
Aku baru hendak mempererat genggaman tangan kita, ketika tiba-tiba kau menghilang.
Aku kebingungan dan sedih.
Kau kemana? Bagaimana aku bisa meneruskan perjalanan tanpamu?
Aku pun terduduk lemas diatas awan. Airmataku menetes, aku bersedih.
Aku belum sanggup kehilanganmu.
Mataku menelisik kesekitar awan, mungkin kau sedang duduk melepaskan lelah.
Tapi kau tetap tidak kutemukan juga.

Lalu aku melihat kebawah,
Aku tertegun,
Kudapati kau sedang tertawa-tawa bersama dia,
Dibumi sana.

Aku menangis lagi, siapa yang menggenggamku sejak tadi,
Jika ternyata kau ada disana?
Mungkinkah itu bayanganmu, yang terlanjur mesra memeluk hatiku?
Mengapa tampak begitu nyata?

Ahh...
Semesra bayanganmu, yang begitu sulit kutinggalkan.
Bisakah kita kembali melanjutkan perjalanan?
Bisakah kau kemari, kepadaku?
Dirimu yang nyata disana,
Bukan sekedar kesemuanmu saja?
Apa bisa?